Mendengar kata gigi berlubang, sebagian orang mungkin langsung teringat rasa ngilu atau sakit gigi yang membuat aktivitas terganggu. Padahal, kerusakan pada gigi tidak selalu langsung menimbulkan rasa sakit. Justru karena sering tidak terasa pada tahap awal, gigi berlubang kerap baru disadari ketika kondisinya sudah semakin parah.

Permasalahan yang umum ditemui ini tentunya menjadi perhatian, mengingat gigi berlubang tidak hanya dapat mengganggu kenyamanan saat makan, tetapi juga bisa berkembang menjadi infeksi jika tidak segera ditangani. Karena itu, DJ Gita Nugraha berbincang bersama drg. Rica Savitri dari RSIA Hermina Mutiara Bunda Salatiga untuk membahas lebih jauh mengenai gigi berlubang, mulai dari penyebab hingga cara mencegahnya.

Gigi Berlubang Tidak Muncul Begitu Saja

Gigi tentunya memiliki beberapa lapisan, mulai dari enamel sebagai lapisan paling luar, dentin yang berada di bawahnya, hingga pulpa sebagai bagian terdalam yang berisi saraf dan pembuluh darah. Enamel sendiri merupakan bagian gigi yang sangat kuat karena tersusun dari berbagai mineral, seperti kalsium dan fosfat. Namun, kekuatannya tetap bisa berkurang ketika terus-menerus terpapar kondisi asam.

Gigi berlubang terjadi ketika jaringan penyusun gigi mengalami kerusakan. Prosesnya berawal dari sisa makanan yang tertinggal di rongga mulut. Sisa makanan tersebut bercampur dengan protein dalam air liur dan membentuk plak pada permukaan gigi. Di dalam plak terdapat berbagai bakteri, salah satunya Streptococcus mutans, yang dapat mengolah sisa makanan menjadi asam. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut membuat rongga mulut menjadi lebih asam.

Ketika tingkat keasaman sudah cukup tinggi, mineral pada gigi dapat larut atau mengalami demineralisasi. Lapisan gigi pun menjadi semakin lemah. Jika kondisi ini dibiarkan, kerusakan yang awalnya hanya mengenai permukaan enamel dapat berkembang menjadi lubang yang lebih dalam.

Info 💡: Teman Setia tidak perlu khawatir dengan paparan makanan yang asam. Makanan atau minuman asam tidak otomatis membuat gigi berlubang. Yang perlu diperhatikan adalah durasi dan frekuensi paparan asam terhadap gigi. Karena itu, tetap jaga kebersihan gigi dan jangan lupa menyikat gigi secara rutin.

Anak-Anak Hingga Lansia Punya Risiko Masing-Masing

Ilustrasi sebuah keluarga dari berbagai generasi (Rajiv Perera/unsplash)

Walau semua orang dapat mengalami gigi berlubang, ternyata ada beberapa kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi. Khususnya pada kelompok anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun karena kemampuan menyikat gigi secara mandiri biasanya belum optimal. Selain itu, anak-anak cenderung menyukai makanan yang manis dan lengket. Pada balita yang masih belajar makan, makanan terkadang hanya diemut sehingga lebih lama berada di dalam rongga mulut.

Sedangkan pada para lansia, gusi dapat mengalami penyusutan sehingga bagian akar gigi menjadi lebih terbuka. Karena, kemampuan gerak yang sudah tidak sebaik sebelumnya juga dapat membuat proses membersihkan gigi menjadi kurang maksimal. Pengguna gigi palsu pun tetap perlu memperhatikan kebersihan gigi dan rongga mulut.

Risiko juga dapat meningkat pada orang yang memiliki kebiasaan seperti merokok atau menyirih. Beberapa penyakit sistemik juga dapat memengaruhi kondisi rongga mulut, misalnya menyebabkan mulut lebih kering atau mengubah kondisi keasaman di dalamnya.

Semakin Dalam Lubangnya, Berbeda Pula Penanganannya

Kerusakan gigi tidak selalu memiliki tingkat keparahan yang sama. Hal tersebut bergantung pada seberapa jauh lubang sudah mencapai lapisan gigi. Ketika kerusakan masih berada pada enamel atau dentin, penanganannya dapat berupa penambalan sederhana.

Namun, jika lubang sudah mencapai pulpa yang berisi saraf dan pembuluh darah, penanganannya menjadi lebih kompleks. Pada kondisi tersebut, pasien dapat membutuhkan perawatan saluran akar sebelum gigi akhirnya ditambal kembali.

Menariknya, kerusakan pada tahap awal sering kali belum menimbulkan rasa sakit. Inilah yang membuat gigi berlubang kerap tidak disadari sampai kondisinya semakin parah. Karena itu, pemeriksaan rutin tetap penting meskipun tidak sedang mengalami keluhan.

Kenali Tandanya dan Jangan Tunggu Sampai Parah

Ilustrasi seseorang mengalami sakit gigi (Fábio Lucas/unsplash)

Pada tahap awal, gigi berlubang sering kali tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, perubahan warna pada gigi, makanan yang sering tersangkut, hingga rasa ngilu saat makan atau minum dapat menjadi tanda kerusakan yang perlu diperiksa. Dokter akan melihat kondisi gigi secara langsung dan, bila diperlukan, melakukan pemeriksaan rontgen untuk mengetahui kedalaman lubang.

Penanganannya disesuaikan dengan tingkat kerusakan. Lubang yang masih mencapai enamel atau dentin umumnya dapat ditangani dengan tambalan. Sementara itu, jika sudah mencapai pulpa yang berisi saraf dan pembuluh darah, pasien dapat membutuhkan perawatan saluran akar yang dilakukan dalam beberapa kali kunjungan, tergantung kondisi gigi.

Gigi yang sudah sakit juga sebaiknya tidak hanya mengandalkan obat pereda nyeri. Obat memang dapat membantu meredakan rasa sakit, tetapi tidak menghilangkan sumber kerusakannya. Jika terus dibiarkan, gigi berlubang dapat berkembang menjadi infeksi yang ditandai dengan sakit berdenyut, bengkak, hingga munculnya nanah.

Kebiasaan Sederhana untuk Mencegah Gigi Berlubang

Menjaga kesehatan gigi tidak cukup hanya dilakukan ketika sudah terasa sakit. Salah satu kebiasaan penting adalah menyikat gigi setidaknya dua kali sehari, yaitu sekitar 30 menit setelah sarapan dan sebelum tidur. Dalam memilih pasta gigi, kandungan fluoride juga perlu diperhatikan karena dapat membantu memperkuat kembali mineral pada gigi yang mengalami demineralisasi dan mendukung proses remineralisasi.

Makanan manis dan lengket sebaiknya tidak dikonsumsi secara berlebihan karena sisa makanan yang menempel dapat mendukung terbentuknya plak. Perbanyak minum air putih untuk membantu menjaga kondisi rongga mulut. Sementara itu, karang gigi yang sudah terbentuk tetap perlu dibersihkan oleh dokter gigi karena ada bagian-bagian tertentu yang sulit dijangkau hanya dengan sikat gigi.

Kebiasaan menjaga gigi juga perlu dilakukan sejak anak-anak. Membawa anak ke dokter gigi meskipun tidak sedang sakit, tidak masalah Teman Setia. Karena, anak akan terbiasa ke dokter gigi dan tidak mengalami trauma karena giginya sakit. Maka dari itu pemeriksaan rutin ke dokter gigi minimal setiap enam bulan sekali juga tetap dianjurkan, meskipun tidak sedang mengalami keluhan.

Menjaga kesehatan gigi sebenarnya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana dan pemeriksaan rutin. Jangan menunggu sampai rasa sakit muncul untuk memeriksakan kondisi gigi, karena kerusakan yang ditemukan lebih awal akan lebih mudah ditangani. Seperti pesan drg. Rica Savitri, tidak perlu takut datang ke dokter gigi karena senyum yang cantik tentu berawal dari gigi dan rongga mulut yang sehat.

Please follow and like us:
Pin Share

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *