Hidup berdampingan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda tentu menjadi bagian dari keseharian masyarakat Salatiga. Di satu lingkungan, Teman Setia bisa bertemu dengan orang yang berbeda suku, agama, budaya, hingga daerah asal. Perbedaan tersebut bukan berarti harus menjadi jarak, justru bisa menjadi kesempatan untuk saling mengenal dan belajar.
Keistimewaan yang dimiliki oleh Kota Salatiga ini menjadi perbincangan menarik oleh DJ Gita Nugraha bersama dengan Sri Sarwanti, S.H., M.Si., selaku Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Salatiga. Tentunya tidak hanya membahas bagaimana Kota Salatiga bisa menjadi Kota Toleran, tetapi juga Festival Toleransi yang akan menjadi ruang untuk merayakan keberagaman, mempertemukan berbagai kelompok masyarakat, sekaligus berbagi pengalaman dalam menjaga kerukunan.
Konsisten dalam Indeks Kota Toleran
Salatiga sendiri sudah cukup lama masuk dalam daftar kota dengan tingkat toleransi tinggi. Pada 2015, Salatiga berada di peringkat kedua, kemudian peringkat ketiga pada 2017 dan peringkat kedua pada 2018.
Pada 2020, Salatiga berhasil menempati peringkat pertama. Setelah itu, Salatiga berada di peringkat ketiga pada 2021, peringkat kedua pada 2022, peringkat ketiga pada 2023, kemudian kembali menjadi peringkat pertama pada 2024 dan 2025.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa posisi sebagai kota dengan tingkat toleransi tinggi bukan sesuatu yang bisa dipertahankan tanpa usaha. Setiap tahun, penilaian dilakukan dengan melihat berbagai aspek yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan kebijakan pemerintah. Artinya, Salatiga juga perlu terus berbenah dan menjaga berbagai hal yang selama ini menjadi kekuatan dalam kehidupan masyarakatnya.
Persaingan untuk mendapatkan posisi teratas juga menjadi bagian dari proses tersebut. Kota-kota lain di Indonesia turut melakukan berbagai upaya dalam membangun kehidupan yang inklusif dan menjaga kerukunan masyarakat. Karena itu, mempertahankan posisi pertama selama dua tahun berturut-turut menjadi tantangan tersendiri bagi Salatiga.
Toleransi Bukan Sekadar Slogan
Menjaga predikat kota toleran tidak cukup hanya dengan menyebut Salatiga sebagai kota yang rukun. Nilai tersebut perlu terlihat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui kebijakan pemerintah dan kerja sama berbagai pihak. Salah satu bentuk dukungannya adalah adanya regulasi daerah. Salatiga memiliki Perda Kota Salatiga Nomor 10 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Toleransi Bermasyarakat dan Penanganan Konflik Sosial. Ada pula Perda Kota Salatiga Nomor 9 Tahun 2024 tentang Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan. Selain itu, Perda Nomor 7 Tahun 2025 tentang RPJMD 2025–2029 turut menempatkan nilai toleransi dan inklusivitas sebagai bagian dari indikator pembangunan daerah.
Keberagaman itu juga bisa Teman Setia rasakan dalam keseharian di Salatiga. Ada lebih dari 23 suku atau etnis yang hidup dan beraktivitas di kota ini. Kehadiran perguruan tinggi seperti UKSW dan UIN Salatiga juga membuat Salatiga menjadi tempat bertemunya mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Dari pertemuan sehari-hari itulah, kesempatan untuk saling mengenal, bertukar cerita, dan belajar memahami perbedaan tumbuh secara alami.
Menjaga kerukunan pun bukan hanya menjadi tugas pemerintah. Berbagai pihak ikut mengambil bagian melalui kegiatan bersama, mulai dari doa lintas iman hingga kegiatan kebudayaan. FKUB, Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), akademisi, organisasi keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, dan BKGS, hingga media massa turut menjadi bagian dari upaya menjaga suasana Salatiga tetap nyaman dan kondusif. Pada akhirnya, toleransi tidak hanya terlihat dari kebijakan, tetapi juga dari bagaimana orang-orang di dalamnya mau hidup berdampingan dan saling menghargai.
Festival Toleransi, Ruang untuk Saling Mengenal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/904829/original/003142300_1434651109-Cover.jpg)
Langkah nyata dalam menumbuhkan semangat toleransi tentunya tidak hanya sebatas formalitas dan slogan. Perlu ada ruang bagi masyarakat untuk bertemu, berinteraksi, dan mengenal keberagaman yang ada di sekitarnya. Semangat inilah yang kemudian diwujudkan melalui Festival Toleransi yang rencananya digelar pada 30–31 Oktober 2026 di kawasan Lapangan Pancasila dengan mengusung tema “Salatiga Tertoleran untuk Indonesia Raya.”
Festival ini tidak hanya tentang pertunjukan atau kegiatan seremonial. Ada kesempatan bagi berbagai daerah untuk saling berbagi cerita dan pengalaman mengenai cara mereka menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang beragam. Dari sana, Salatiga juga bisa belajar dari daerah lain, begitu pula sebaliknya.
Berbagai kegiatan akan meramaikan festival, mulai dari seminar, doa lintas agama, talkshow, hingga pertunjukan seni dan budaya. Talkshow nantinya akan menghadirkan Wali Kota Salatiga, Ketua DPRD, Rektor UKSW, dan Direktur Eksekutif SETARA Institute untuk membicarakan lebih jauh tentang toleransi dan kehidupan masyarakat yang inklusif.
Suasana festival juga akan semakin dekat dengan masyarakat melalui kegiatan seperti senam bersama, donor darah, dan pemeriksaan kesehatan gratis. Jadi, masyarakat tidak hanya datang untuk menyaksikan acara, tetapi juga bisa ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang sudah disiapkan.
Hal menarik lainnya adalah keterlibatan teman-teman penyandang disabilitas dalam pertunjukan seni. Teman tunarungu akan menggunakan bahasa isyarat, sementara teman tunanetra akan menyampaikan puisi melalui tulisan braille. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa keberagaman tidak hanya soal perbedaan suku, agama, atau budaya, tetapi juga tentang memberi ruang yang sama bagi setiap orang untuk berkarya dan mengambil bagian.
Bukan Sekadar Pertunjukan
Festival Toleransi dirancang sebagai ruang ekspresi budaya, dialog inklusif, sekaligus perayaan sosial yang berangkat dari kearifan lokal. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperluas pengetahuan dan pengalaman antarwilayah.
Selain dikenal sebagai kota dengan tingkat toleransi tinggi, Salatiga juga menerima kunjungan dari berbagai daerah dan bahkan menjadi tujuan bagi kampus luar negeri yang ingin mempelajari isu toleransi melalui studi maupun dialog.
Karena itu, festival ini diharapkan dapat menjadi ruang knowledge and experience sharing. Daerah-daerah lain dapat saling bertukar informasi mengenai program, pengalaman, maupun inovasi yang sudah dilakukan dalam membangun ekosistem toleransi dan memperkuat inklusi di wilayah masing-masing.
Persiapannya pun sudah dilakukan dengan membangun kerja sama antarpihak dan mengajak berbagai kelompok untuk berpartisipasi. Salah satunya adalah keterlibatan masyarakat Tionghoa yang akan menampilkan musik Mandarin.
Menjaga toleransi tentu bukan pekerjaan yang selesai hanya karena sebuah kota berhasil mendapatkan predikat sebagai kota paling toleran. Kehidupan masyarakat terus berkembang, begitu pula tantangan yang dihadapi. Karena itu, kebiasaan untuk saling menghormati, menghargai perbedaan, dan memberi ruang bagi satu sama lain perlu terus dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.
Festival Toleransi menjadi salah satu cara untuk kembali mengingatkan bahwa keberagaman adalah bagian dari kehidupan Salatiga. Bukan hanya untuk dirayakan dalam sebuah kegiatan, tetapi juga untuk terus dijaga dalam interaksi sehari-hari. Dengan begitu, predikat sebagai Kota Tertoleran bukan sekadar penghargaan, melainkan gambaran dari masyarakat yang terus berusaha hidup berdampingan dengan damai.

No responses yet