Memiliki lahan terbatas bukan berarti Teman Setia tidak bisa mulai berkebun atau memelihara ikan sendiri. Di tengah kebutuhan pangan yang terus berjalan dan harga sayur serta ikan yang bisa berubah-ubah, ada cara sederhana yang bisa dicoba dari rumah, yaitu memanfaatkan ember untuk membudidayakan ikan sekaligus menanam sayuran.

Dalam Diktif kali ini, DJ Gita Nugraha berbincang dengan Yeniarsih Dwiastuti, S.Pi., penyuluh perikanan DARI Dinas Pangan dan Pertanian Kota Salatiga, membahas seputar cara menerapkan budidaya ikan dalam ember atau BUDIKDAMBER. Teknik ini bisa menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga dengan cara yang relatif mudah dan hemat tempat.

Mengenal Budikdamber dan Manfaatnya

Contoh gambaran tknik budikdamber (dekoruma.com)

Budikdamber merupakan singkatan dari budidaya ikan dalam ember. Teknik ini menggabungkan pemeliharaan ikan dengan penanaman sayuran dalam satu media. Sistemnya menerapkan prinsip akuaponik, yaitu memadukan budidaya ikan dan tanaman sehingga keduanya bisa tumbuh berdampingan.

Metode ini cocok diterapkan di wilayah perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan, termasuk di Salatiga. Teman Setia tidak harus memiliki halaman luas untuk memulainya. Area kecil di rumah pun bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan ikan dan sayuran bagi konsumsi sehari-hari.

Selain menghemat tempat, teknik budikdamber relatif terjangkau, mudah dibuat, dan tidak membutuhkan perawatan yang terlalu rumit. Dalam satu wadah, Teman Setia bisa memanen dua jenis bahan pangan sekaligus, yaitu ikan sebagai sumber protein hewani dan sayuran sebagai sumber serat. Budidaya ini juga dapat membantu mengurangi penggunaan pestisida pada sayuran karena penanamannya dilakukan dalam sistem yang terkontrol.

Info 💡: Teknik Budikdamber pertama kali ditemukan dan dikembangkan oleh Juli Nursandi, S.Pi., M.Si. Beliau merupakan seorang dosen jurusan Budidaya Perikanan di Politeknik Negeri Lampung. Percobaan dan penelitian ini dimulai pada tahun 2015-2016 sebagai solusi urban farming untuk mengatasi keterbatasan lahan di daerah perkotaan.

Alat dan Bahan yang Perlu Disiapkan

Sebelum memulai budikdamber, terdapat beberapa alat dan bahan yang perlu disiapkan. Sebagian perlengkapan dapat diperoleh dengan mudah, bahkan beberapa di antaranya bisa memanfaatkan barang bekas yang tersedia di rumah.

1. Ember berkapasitas sekitar 80 liter
Ember digunakan sebagai wadah utama untuk memelihara ikan sekaligus menempatkan tanaman. Teman Setia dapat membeli paket budikdamber melalui e-commerce yang biasanya sudah dilengkapi kran dan tempat untuk menanam sayuran. Bila ingin membuat sendiri, Teman Setia perlu melubangi beberapa di pinggir untuk memasang gelas-gelas plastik dan lubang untuk kran.

2. Gelas plastik bekas dan arang kayu
Gelas plastik berukuran sekitar 9–12 sentimeter dapat digunakan sebagai wadah tanam, dengan ukuran yang disesuaikan terhadap diameter ember. Bagian samping dan bawah gelas perlu dilubangi agar air dapat mengalir. Selanjutnya, gelas diisi arang kayu secukupnya sebagai media tanam.

3. Benih ikan lele dan bibit sayuran
Benih lele yang digunakan umumnya berukuran sekitar 5–12 sentimeter. Jumlah ikan yang ditebar perlu disesuaikan dengan kapasitas ember dan kemampuan pemeliharaan agar kualitas air tetap terjaga. Sementara itu, bibit kangkung dapat dipilih sebagai tanaman utama, meskipun sayuran lain seperti bayam atau pakcoy juga dapat digunakan sesuai kebutuhan.

4. Pakan ikan
Pakan diperlukan untuk menunjang pertumbuhan lele selama masa pemeliharaan. Pelet ikan dapat digunakan sebagai pakan utama dengan jumlah dan frekuensi pemberian yang disesuaikan dengan kebutuhan ikan. Pemberian pakan perlu diperhatikan agar tidak berlebihan dan menyebabkan penumpukan sisa makanan di dasar ember yang dapat menyebabkan penyakit pada ikan.

Info 💡: Lele dapat diberi nasi sebagai pakan tambahan, tetapi jangan berlebihan karena sisa makanan bisa membuat air keruh dan berbau. Untuk mengatasinya, ganti sebagian air yang kotor atau gunakan probiotik khusus budidaya ikan yang dapat membantu menjaga kualitas air dan kesehatan ikan. Pakan utama tetap perlu diberikan sesuai kebutuhan lele.

Kenapa Lele dan Kangkung Jadi Pilihan?

Ilustrasi ikan lele di alam liar (Laura España/unsplash)

Ikan lele menjadi salah satu komoditas yang banyak digunakan dalam budikdamber karena memiliki organ pernapasan tambahan (arborescent organ) yang memungkinkannya mengambil oksigen langsung dari udara. Kemampuan tersebut membuat lele relatif mampu bertahan dalam kondisi air dengan kadar oksigen terlarut yang rendah. Meskipun demikian, kualitas air tetap harus dijaga agar ikan dapat tumbuh dengan baik.

Sementara itu, kangkung dipilih karena relatif mudah ditanam dan dapat tumbuh dengan baik dalam sistem budidaya ini. Namun, Teman Setia juga dapat menggunakan jenis sayuran lain, seperti bayam atau pakcoy, dengan menyesuaikan kebutuhan pertumbuhan tanaman. Begitu juga dengan pilihan ikan, tetapi Teman Setia perlu memahami sifat ikannya terlebih dahulu. Oleh karena itu, pemilihan jenis ikan dan tanaman sebaiknya disesuaikan dengan kondisi lingkungan, ketersediaan peralatan, serta kemampuan dalam melakukan perawatan.

Tahapan Persiapan Air dan Penebaran Benih

Langkah pertama dalam penerapan BUDIKDAMBER adalah menyiapkan air di dalam ember. Untuk wadah berkapasitas 80 liter, air dapat diisi sekitar 60–70 liter. Probiotik khusus budidaya ikan dapat ditambahkan sesuai petunjuk penggunaan produk untuk membantu mendukung kondisi lingkungan pemeliharaan.

Setelah persiapan awal, Teman Setia harus mendiamkan air sekitar lima hingga tujuh hari sambil menyiapkan media tanam dan bibit sayuran. Tahap ini perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi air agar lingkungan budidaya siap digunakan.

Untuk penebaran benih lele sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari ketika suhu tidak terlalu panas. Sebelum dilepaskan ke dalam ember, benih perlu menjalani proses adaptasi agar tidak mengalami perubahan suhu secara mendadak. Caranya, wadah berisi benih diletakkan terlebih dahulu di dalam ember agar suhu air di kedua wadah dapat menyesuaikan. Setelah itu, benih dilepaskan secara perlahan. Proses adaptasi tersebut bertujuan mengurangi risiko ikan mengalami stres yang dapat mengganggu kesehatannya.

Perawatan Lele dan Pengelolaan Kualitas Air

Keberhasilan BUDIKDAMBER sangat dipengaruhi oleh ketepatan pemberian pakan dan pemeliharaan kualitas air. Lele dapat diberi pakan pelet sebanyak dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Jumlah pakan perlu disesuaikan dengan kebutuhan ikan agar tidak berlebihan.

Karena pakan yang tersisa dan mengendap di dasar ember dapat membusuk, mencemari air, serta meningkatkan kadar amonia yang berbahaya bagi ikan. Oleh sebab itu, pemberian pakan perlu dilakukan secara terukur dengan memperhatikan respons ikan terhadap makanan yang diberikan. Teman Setia juga perlu memperhatikan kondisi cuaca, karena ketika hujan, perubahan suhu dan kondisi kimia air dapat memengaruhi lingkungan pemeliharaan.

Penggantian air dapat dilakukan apabila air mulai keruh atau berbau. Secara umum, sekitar 30–50 persen air dapat diganti setiap satu hingga dua minggu, dengan tetap menyesuaikan kondisi air dan kebutuhan ikan. Penggantian sebagian air lebih dianjurkan daripada menguras seluruh wadah secara mendadak karena perubahan lingkungan yang terlalu drastis dapat membuat ikan stres.

Info 💡: Akar kangkung turut membantu menyerap sebagian zat sisa dalam air. Namun, keberadaan tanaman tidak berarti kualitas air dapat diabaikan. Ember tetap perlu diperiksa secara berkala untuk memastikan kondisi air dan kesehatan ikan tetap terjaga.

Pentingnya Penyortiran Ukuran Ikan

Ilustrasi seseorang sedang melakukan penyortiran ikan (Milo Weiler/unsplash)

Selain pemberian pakan dan pengelolaan air, penyortiran atau grading juga menjadi bagian penting dalam pemeliharaan lele, loh Teman Setia. Kegiatan ini dilakukan dengan memisahkan ikan berdasarkan ukuran, yang dalam pembahasan disarankan sekitar dua minggu sekali.

Penyortiran bertujuan mengurangi perbedaan ukuran ikan dalam satu wadah. Hal ini penting karena lele yang berukuran lebih besar berpotensi memangsa ikan yang lebih kecil, terutama ketika ketersediaan pakan tidak mencukupi. Dengan ukuran yang lebih seragam, risiko kanibalisme dapat ditekan.

Kegiatan penyortiran juga dapat dimanfaatkan untuk memeriksa kondisi ember dan membersihkannya apabila diperlukan. Apabila air sudah berbau atau kotor, penggantian sebagian air dapat dilakukan bersamaan dengan menyortir ikan.

Waktu Panen Kangkung dan Lele

Panen dengan dua komoditas tentunya sangat menguntungkan, Teman Setia. Namun, waktu panen kedua komoditas tersebut berbeda.

Kangkung yang ditanam menggunakan batang dapat dipanen sekitar dua minggu, sedangkan kangkung yang ditanam dari bibit umumnya membutuhkan waktu sekitar 1,5–2 bulan. Waktu panen dapat berbeda bergantung pada kondisi tanaman, ketersediaan cahaya, dan perawatan yang diberikan.

Sementara itu, lele umumnya dapat dipanen setelah sekitar 2,5–3 bulan. Waktu panen tersebut menyesuaikan pertumbuhan ikan dan ukuran yang diinginkan. Pemeliharaan yang baik, mulai dari pemilihan benih, pemberian pakan, hingga pengelolaan kualitas air, menjadi faktor penting dalam mendukung hasil panen.

Dengan perencanaan yang tepat, Teman Setia dapat memanfaatkan hasil budidaya untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga. Selain mengurangi ketergantungan pada pembelian bahan pangan, kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mempelajari keterampilan budidaya secara langsung.

BUDIKDAMBER untuk Mendukung Ketahanan Pangan Keluarga

BUDIKDAMBER tidak hanya menawarkan cara praktis untuk memanfaatkan lahan terbatas, tetapi juga dapat membantu keluarga menyediakan bahan pangan yang beragam. Lele merupakan sumber protein hewani, sedangkan kangkung menyediakan serat dan berbagai zat gizi yang dibutuhkan tubuh.

Konsumsi ikan juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengajak masyarakat membiasakan diri gemar makan ikan. Ikan mengandung protein dan asam amino yang diperlukan tubuh untuk mendukung pertumbuhan serta pemeliharaan jaringan. Dengan membudidayakan ikan sendiri, masyarakat berpeluang memiliki persediaan pangan yang lebih mudah dijangkau.

Selain untuk konsumsi keluarga, BUDIKDAMBER dapat menjadi langkah awal dalam mengembangkan usaha budidaya skala kecil. Sistemnya relatif fleksibel dan dapat dimulai sesuai kemampuan masing-masing. Meski demikian, keberhasilan budidaya tetap membutuhkan ketelatenan, pemahaman dasar mengenai pemeliharaan ikan, serta pengelolaan air dan pakan secara tepat.

Bagi Teman Setia yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai teknik BUDIKDAMBER, konsultasi dapat dilakukan melalui pos penyuluh perikanan atau dengan mendatangi Dinas Pangan dan Pertanian Kota Salatiga. Masyarakat juga dapat menghubungi Yeniarsih Dwiastuti melalui nomor 081326079075.

Please follow and like us:
Pin Share

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *