Pernah tidak sih, Teman Setia, memasak terlalu banyak karena takut kurang, tetapi akhirnya makanan justru tersisa dan terbuang? Atau membeli bahan makanan karena tergiur promo, padahal belum tentu semuanya dibutuhkan? Kebiasaan seperti ini mungkin terlihat sepele, tetapi jika terus dilakukan, bisa membuat pengeluaran membengkak sekaligus menambah jumlah sampah makanan.

Nah, untuk membahas pentingnya menghargai makanan dan mencegah pemborosan pangan, DJ Gita Nugraha berbincang bersama Niswatul Ula, S.P. dan Siti Khoiriyah, S.P., dari Pokja 3 TP PKK Kota Salatiga. Dalam Dialog Interaktif ini, TP PKK Kota Salatiga mengajak Teman Setia mengenali kebiasaan boros pangan serta menerapkan langkah sederhana agar makanan yang tersedia bisa dimanfaatkan dengan lebih bijak.

Bukan Sekadar Menghabiskan Makanan

Pangan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Namun, persoalan pangan bukan hanya tentang bagaimana makanan diproduksi dan tersedia, melainkan juga bagaimana kita memperlakukan makanan tersebut. Masih banyak makanan yang sebenarnya layak dikonsumsi justru berakhir menjadi sampah. Akibatnya, bukan hanya uang yang terbuang, tetapi juga tenaga, energi, air, dan berbagai sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan makanan.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah turut mendorong pencegahan pemborosan pangan melalui Instruksi Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.4.1/0010756 tentang Pencegahan Pemborosan Pangan.

Gerakan Stop Boros Pangan mengajak Teman Setia untuk membeli, memasak, mengambil, dan mengonsumsi makanan sesuai kebutuhan. Prinsip ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak dahulu, orang tua sudah mengajarkan kita untuk tidak menyisakan makanan sebagai bentuk kedisiplinan dan rasa syukur atas rezeki yang tersedia, bukan Teman Setia?

Pentingnya gerakan ini juga sejalan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia setiap 16 Oktober. Di tengah tantangan ketahanan pangan dunia, masih banyak orang yang mengalami kelaparan dan kesulitan memperoleh makanan sehat. Oleh sebab itu, menghargai makanan yang ada menjadi salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan setiap orang.

Mengenal Susut Pangan dan Sisa Makanan

Pernah tidak sih, Teman Setia, memasak terlalu banyak karena takut kurang, tetapi akhirnya makanan justru tersisa dan terbuang? Atau membeli bahan makanan karena tergiur promo, padahal belum tentu semuanya dibutuhkan? Kebiasaan seperti ini mungkin terlihat sepele, tetapi jika terus dilakukan, bisa membuat pengeluaran membengkak sekaligus menambah jumlah sampah makanan.

Nah, untuk membahas pentingnya menghargai makanan dan mencegah pemborosan pangan, DJ Gita Nugraha berbincang bersama Niswatul Ula, S.P. dan Siti Khoiriyah, S.P., dari Pokja 3 TP PKK Kota Salatiga. Dalam Dialog Interaktif ini, TP PKK Kota Salatiga mengajak Teman Setia mengenali kebiasaan boros pangan serta menerapkan langkah sederhana agar makanan yang tersedia bisa dimanfaatkan dengan lebih bijak.

Bukan Sekadar Menghabiskan Makanan

Pangan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Namun, persoalan pangan bukan hanya tentang bagaimana makanan diproduksi dan tersedia, melainkan juga bagaimana kita memperlakukan makanan tersebut. Masih banyak makanan yang sebenarnya layak dikonsumsi justru berakhir menjadi sampah. Akibatnya, bukan hanya uang yang terbuang, tetapi juga tenaga, energi, air, dan berbagai sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan makanan.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah turut mendorong pencegahan pemborosan pangan melalui Instruksi Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.4.1/0010756 tentang Pencegahan Pemborosan Pangan.

Gerakan Stop Boros Pangan mengajak Teman Setia untuk membeli, memasak, mengambil, dan mengonsumsi makanan sesuai kebutuhan. Prinsip ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak dahulu, orang tua sudah mengajarkan kita untuk tidak menyisakan makanan sebagai bentuk kedisiplinan dan rasa syukur atas rezeki yang tersedia, bukan Teman Setia?

Pentingnya gerakan ini juga sejalan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia setiap 16 Oktober. Di tengah tantangan ketahanan pangan dunia, masih banyak orang yang mengalami kelaparan dan kesulitan memperoleh makanan sehat. Oleh sebab itu, menghargai makanan yang ada menjadi salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan setiap orang.

Mengenal Susut Pangan dan Sisa Makanan

Ilustrasi tumpukan sampah dan sisa makanan di pojok ruangan (Zoshua Colah/unsplash)

Pemborosan pangan ternyata tidak hanya terjadi ketika makanan tersisa di piring, saja Teman Setia. Ada dua istilah yang perlu Teman Setia ketahui, yaitu food loss dan food waste.

Food loss atau susut pangan merupakan kehilangan jumlah atau penurunan kualitas pangan selama proses produksi, penyiapan, pengolahan, hingga distribusi. Contohnya, hasil panen yang rusak sebelum sampai ke pasar karena penanganan yang kurang tepat.

Sedangkan food waste adalah makanan atau minuman yang masih aman dan layak dikonsumsi, tetapi akhirnya terbuang pada tahap distribusi, penjualan, maupun konsumsi. Misalnya, sayuran yang membusuk karena terlalu lama disimpan atau nasi yang terbuang karena dimasak terlalu banyak.

Artinya, Stop Boros Pangan bukan hanya urusan makanan yang sudah tersaji di meja makan. Upaya ini juga berkaitan dengan cara kita menanam, mengolah, menyimpan, mengemas, dan mendistribusikan bahan pangan agar tidak terbuang percuma.

▶️ Baca juga: Bukan Plastik, Ini Sampah yang Paling Banyak Kita Hasilkan: Food Waste dan Dampaknya

Kebiasaan Sepele yang Bisa Membuat Boros

Tanpa disadari, pemborosan pangan sering bermula dari kebiasaan sehari-hari. Misalnya, memasak tanpa memperhitungkan jumlah anggota keluarga, tergoda membeli bahan makanan karena harga murah, atau menumpuk stok tanpa memeriksa persediaan di rumah, Teman Setia!

Kebiasaan memanaskan makanan berulang kali tanpa memperhatikan cara penyimpanan juga perlu dihindari karena kualitas makanan dapat menurun. Karena itu, penting untuk memperkirakan kebutuhan keluarga dan menyimpan bahan pangan dengan benar agar lebih awet serta tetap aman dikonsumsi.

Lantas, apakah gerakan ini berarti kita tidak boleh memiliki persediaan makanan berlebih? Tentu tidak, ya Teman Setia. Menyimpan stok tetap boleh, selama jumlahnya sesuai kebutuhan dan bahan pangan tersebut dapat digunakan sebelum rusak.

Terapkan Prinsip 4B agar Tidak Boros Pangan

Ada langkah praktis yang bisa Teman Setia terapkan di rumah. Pokja 3 TP PKK Kota Salatiga memperkenalkan prinsip 4B sebagai panduan sederhana untuk mengurangi pemborosan pangan, mulai dari merencanakan belanja hingga menyimpan bahan makanan dengan benar.

1. Belanja — merencanakan pembelian sesuai kebutuhan dan memeriksa persediaan bahan makanan di rumah terlebih dahulu. Dengan begitu, Teman Setia tidak membeli barang yang sebenarnya masih tersedia.

2. Buat menu — menyusun rencana makanan harian berdasarkan jumlah anggota keluarga dan bahan yang dimiliki. Bahan yang masih tersimpan di kulkas bisa dimanfaatkan untuk menu hari itu sebelum membeli bahan baru.

3. Bagi — berbagi makanan yang masih layak dikonsumsi ketika jumlahnya berlebih. Jika memasak terlalu banyak, makanan bisa diberikan kepada tetangga atau orang lain daripada dibiarkan sampai terbuang.

4. Benahi — menyimpan dan menata bahan pangan dengan baik. Kebiasaan menyimpan dan memanaskan makanan tanpa memperhatikan cara yang tepat juga perlu dihindari karena dapat memengaruhi keamanan pangan. Karena itu, simpan makanan sesuai jenisnya dan pastikan makanan dipanaskan dengan benar sebelum dikonsumsi kembali.

Ambil Secukupnya, Habiskan dengan Bijak

Ilustrasi sekelompok orang makan bersama (Alex Haney/unsplash)

Selain melakukan 4B, langkah paling mudah untuk mencegah pemborosan adalah mengambil makanan sesuai kemampuan kita untuk menghabiskannya. Saat makan, hindari memenuhi piring hanya karena ingin mencoba semua hidangan. Jika masih lapar, kita bisa mengambil tambahan setelah makanan sebelumnya habis.

Semangat ini juga sejalan dengan pesan B2SA, yaitu Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman. Makanan bukan hanya perlu dihabiskan, tetapi juga perlu dipilih dengan memperhatikan kebutuhan gizi tubuh.

▶️ Baca juga: Makan Nggak Itu-Itu Melulu: Keberagaman Makanan Pokok & Menu Sehat untuk Keluarga B2SA

Kebiasaan tersebut dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan, termasuk rapat, pertemuan warga, maupun acara keluarga. Jumlah makanan dan kudapan yang disediakan sebaiknya disesuaikan dengan jumlah peserta. Jika masih ada makanan yang layak dikonsumsi, makanan tersebut dapat dibagikan atau dibawa pulang agar tidak terbuang.

Jadi, menghargai makanan bukan berarti memaksakan diri menghabiskan porsi yang terlalu banyak. Kuncinya adalah mengambil sesuai kebutuhan sejak awal.

Makanan Tersisa? Jangan Langsung Dibuang!

Kalau masih ada makanan tersisa, jangan buru-buru membuangnya. Selama masih aman dan layak dikonsumsi, makanan tersebut bisa disimpan dengan cara yang tepat atau diolah menjadi menu baru.

Contohnya, nasi putih yang masih layak dikonsumsi dapat disimpan dalam wadah bersih dan tertutup di lemari pendingin, kemudian diolah menjadi nasi goreng. Bahan makanan lain juga bisa dimanfaatkan kembali menjadi hidangan berbeda, selama proses penyimpanan dan pengolahannya dilakukan dengan aman.

Sementara itu, sisa pangan yang sudah tidak layak dikonsumsi manusia perlu ditangani secara berbeda. Sampah organik, seperti sisa sayuran dan kulit buah, dapat diolah menjadi kompos. Pokja 3 TP PKK Kota Salatiga sendiri telah melakukan sosialisasi dan pelatihan pembuatan pupuk kompos menggunakan ember bertingkat, yang juga mendukung pemanfaatan pekarangan.

▶️ Baca juga:
– Menuju MASTERCLASS: Pengelolaan Sampah Bukan Sekedar Bayar Retribusi
– MASTER KOSMIK: Gerakan Mengelola Sampah Organik dari Rumah untuk Lingkungan yang Lebih Bersih
– SIAP INOVASI dan SIMPORI: Ketika Kolaborasi Melahirkan Inovasi yang Bermanfaat bagi Masyarakat

Sampah organik tertentu juga dapat dimanfaatkan untuk budidaya maggot atau pakan ternak, seperti ayam, dengan memperhatikan jenis bahan dan keamanan pengolahannya. Dengan cara ini, sampah yang dihasilkan dari rumah tangga dapat dikurangi sekaligus dimanfaatkan kembali.

Hemat Pangan, Hemat Pengeluaran Keluarga

Mencegah pemborosan pangan juga berkaitan erat dengan pengelolaan keuangan keluarga. Dengan berbelanja sesuai kebutuhan dan memanfaatkan makanan yang tersedia, pengeluaran rumah tangga bisa lebih terkendali, Teman Setia.

Keluarga dapat memulainya dengan menyusun menu bersama, menanyakan makanan yang diinginkan anggota keluarga, membuat daftar belanja, dan memasak sesuai jumlah orang yang akan makan. Anak-anak pun perlu dilibatkan dalam kebiasaan ini agar sejak dini memahami bahwa makanan tidak seharusnya dibuang begitu saja.

Peran keluarga sangat penting karena kebiasaan menghargai pangan bisa tumbuh dari rumah. Ibu dan anggota keluarga lainnya dapat menjadi contoh melalui tindakan sehari-hari, mulai dari berbelanja hingga menyajikan makanan secukupnya.

Anak Muda dan Masyarakat Juga Punya Peran

Ilustrasi makan bersama secara indoor (Spencer Davis/unsplash)

Gerakan Stop Boros Pangan bukan hanya tanggung jawab ibu rumah tangga. Pemerintah, institusi pendidikan, komunitas, dan generasi muda juga memiliki peran dalam menyebarkan kebiasaan baik ini.

Melalui edukasi yang dilakukan Dinas Pangan dan Pertanian, masyarakat, termasuk anak-anak sekolah, diajak memahami pentingnya mencegah pemborosan pangan. Di lingkungan sekolah, kebiasaan menghabiskan makanan juga dapat diperkuat melalui edukasi dan pengolahan makanan yang sesuai dengan selera serta kebutuhan gizi.

Generasi muda turut dilibatkan melalui pembentukan Duta Stop Boros Pangan bagi pelajar SMA dan mahasiswa. Mereka dapat menyampaikan pesan edukasi melalui kampanye sederhana yang dekat dengan keseharian teman sebaya.

Ada pula gerakan Piring Bersih Tumpuk di Tengah, yaitu kebiasaan menumpuk piring kotor di tengah meja setelah makan di restoran untuk membantu memudahkan pekerjaan pelayan. Di lingkungan kampus, inovasi pengolahan makanan sisa juga dikembangkan dengan memperhatikan nilai gizi yang masih terkandung di dalamnya. Sementara itu, gerakan tujuh hari tanpa sisa makanan di piring menjadi salah satu cara membangun kebiasaan makan yang lebih bertanggung jawab.

Di tingkat masyarakat, kader PKK turut menyosialisasikan Stop Boros Pangan mulai dari kelompok dasawisma hingga tingkat kota. Dalam berbagai pertemuan, masyarakat diingatkan untuk tidak menyia-nyiakan makanan dan membawa pulang makanan yang masih layak dikonsumsi jika memungkinkan.

Mencegah pemborosan pangan tidak selalu membutuhkan langkah besar. Kebiasaan sederhana, seperti memeriksa stok sebelum berbelanja, memasak secukupnya, mengambil makanan sesuai kebutuhan, dan memanfaatkan bahan pangan yang masih tersedia, bisa menjadi langkah nyata untuk mendukung gerakan ini.

Ibu Niswatul Ula mengingatkan bahwa pangan bukan untuk dibuang, melainkan untuk disyukuri dan dimanfaatkan. Dengan membiasakan diri menghargai setiap butir nasi, kita turut mendukung ketahanan pangan sekaligus mengajarkan nilai tanggung jawab kepada generasi berikutnya.

Sementara itu, Ibu Siti Khoiriyah mengajak masyarakat memegang tiga pesan sederhana: Ambil, Habiskan, Manfaatkan. Ambil makanan secukupnya, habiskan yang sudah diambil, dan manfaatkan sisa pangan dengan bijak.

Yuk, Teman Setia, mulai dari piring kita sendiri. Langkah kecil yang dilakukan bersama bisa membawa perubahan besar bagi keluarga, lingkungan, dan ketahanan pangan di masa depan.

Please follow and like us:
Pin Share

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *