Sampah menjadi bagian yang nggak bisa lepas dari kehidupan kita, karena setiap aktivitas kita hampir menghasilkan sampah seperti makanan, pakaian, produk rumah tangga sampai kegiatan industri memproduksi barang yang nggak terpakai lagi. Tapi, apakah kamu tahu Teman Setia jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh manusia?
Kalau jawabanmu plastik, tebakanmu kurang tepat nih Teman Setia, karena sampah yang paling banyak kita hasilkan adalah sampah makanan atau food waste. Kok bisa?
Apa itu food waste?
Sampah makanan nggak hanya makanan yang sisa (leftover), tapi juga termasuk makanan yang basi atau rusak, bahan makanan yang dibuang sebelum sempat dimasak, sampai makanan yang sudah diolah tetapi nggak dimakan. Sayangnya, perilaku ini disepelekan, Teman Setia!
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2025, sisa makanan menempati posisi pertama sebagai jenis sampah nasional dengan persentase 40,65%. Disusul sampah plastik (20,49%), kayu atau ranting (13,41%), kertas atau karton (11,31%), logam (3%), kain (2,46%), karet/kulit (2,04%), kaca (2,33%) dan jenis lainnya 6,66%.
Di tingkat global, laporan dari United Nations Environment Programme (UNEP) tahun 2024 menunjukkan bahwa Indonesia menempati posisi ke-8 sebagai penyumbang sampah makanan terbesar di dunia, dengan jumlah mencapai 14,73 juta ton per tahun atau sekitar 2,33% dari total global.
Dampak food waste bagi lingkungan
Berdasarkan artikel Food waste: environmental impact and possible solutions, dampak lingkungan dari food waste ini adalah menciptakan emisi gas rumah kaca karena mikroorganisme yang mengurai sampah organik akan menciptakan gas karbon dioksida, metana, senyawa sulfur dan oksida nitrogen. Tentunya gas menyebabkan perubahan iklim dan pencemaran baik udara maupun tanah. Selain itu, cairan hitam (air lindi) yang menggenang mengandung logam berat, zat kimia, bakteri patogen, dan senyawa organik tinggi yang dapat menyebabkan penyakit kulit atau diare, serta mematikan tanaman kalau nggak dikelola dengan baik.
Baca juga: Menuju MASTERCLASS: Pengelolaan Sampah Bukan Sekedar Bayar Retribusi
Pencemaran ini tentunya akibat overload sampah organik yang nggak hanya dari food waste. Kondisi ini membuat kapasitas pengelolaan sampah menjadi terbatas dengan biaya yang sangat besar, sehingga penumpukan sampah semakin sulit dikendalikan. Hal ini juga berhubungan dengan pemborosan sumber daya alam karena melalui proses panjang yang melibatkan air, energi, lahan, hingga tenaga kerja yang akhirnya terbuang secara sia-sia.
Ironisnya, di tengah banyaknya makanan yang terbuang, masih ada sebagian masyarakat yang kesulitan mendapatkan makanan yang layak. Hal ini menunjukkan bahwa food waste bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan ketimpangan sosial. Kondisi ini semakin memprihatinkan ketika dikaitkan dengan masalah gizi, khususnya stunting. Di satu sisi, makanan terbuang dalam jumlah besar setiap harinya. Namun di sisi lain, masih banyak anak yang nggak mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Solusi pengelolaan food waste untuk lingkungan berkelanjutan

Tentunya ada solusi dari berbagai dampak yang ditimbulkan dari permasalahan sampah makanan ini, Teman Setia. Penelitian Essential recycling and repurposing of food waste for environment and sustainability menyarankan beberapa teknologi yang dapat digunakan untuk mengelola limbah makanan menjadi produk bernilai tinggi agar nggak terbuang sia-sia. Berikut beberapa solusinya:
1. Teknologi anaerobik (Anaerobic technology)
Proses penguraian limbah makanan secara alami tanpa menggunakan oksigen yang nantinya akan menghasilkan biogas sebagai sumber energi alternatif dan digestate, yaitu produk sisa berupa padatan atau cairan yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.
2. Pembuatan kompos (Composting)
Berbeda dengan anaerobic technology, proses composting memerlukan bantuan oksigen agar nantinya limbah makanan dapat diurai oleh mikroorganisme seperti bakteri dan jamur. Hasilnya adalah pupuk hayati berupa kompos yang kaya akan nutrisi untuk kesuburan tanah.
3. Fermentasi (Fermentation)
Fermentasi adalah proses penguraian sampah secara biologis oleh mikroorganisme baik secara aerob maupun anaerob. Fermentasi tanpa bantuan oksigen akan menghasilkan biogas, sedangkan di kondisi lain akan menghasilkan biofertilizer dan bahan biokimia yang bermanfaat bagi pertanian.
4. Likuifaksi (Liquefaction)
Dalam proses likuifaksi limbah makanan diolah menggunakan suhu tinggi dan diubah menjadi cairan dengan bantuan zat pelarut atau air. Salah satu produk yang dihasilkan berupa biocrude oil yang dapat digunakan sebagai bahan bakar.
5. Karbonisasi (Carbonization)
Sama halnya dengan likuifaksi, pada proses karbonisasi limbah makanan juga dipanaskan pada suhu tinggi, tetapi produk yang dihasilkan menjadi karbon padatan seperti biochar dan hydrochar yang bermanfaat sebagai pengikat karbon dalam tanah.
6. Rendering
Proses rendering adalah pengolahan limbah makanan yang mengandung lemak seperti minyak, daging, dan tulang, dengan cara dipanaskan. Pada proses ini akan menghasilkan minyak dan lemak sebagai bahan baku biodiesel, serta bahan baku pakan hewan.
7. Pemanfaatan termal (Thermal Valorization)
Limbah makanan akan dipanaskan pada suhu tinggi dalam kondisi tanpa oksigen sehingga bahan organik terurai menjadi produk yang lebih sederhana. Kemudian menghasilkan biochar, bio-oil, dan syngas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.
Apa yang bisa kita lakukan?
Dari berbagai solusi di atas, tentu ada langkah sederhana yang bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti membuat kompos atau mengolah limbah makanan melalui proses fermentasi. Cara ini nggak hanya membantu mengurangi jumlah sampah makanan, tetapi juga mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Selain itu, kita juga bisa mulai dari kebiasaan kecil yang berdampak besar, seperti mengambil makanan secukupnya supaya nggak tersisa, menyimpan bahan makanan dengan baik supaya nggak cepat rusak, dan cara belanjamu juga berpengaruh, loh Teman Setia, karena dengan membuat daftar belanja sesuai kebutuhan bisa membantu mengurangi potensi bahan makanan terbuang sia-sia.
Langkah-langkah sederhana ini bila secara konsisten dijalankan, tentunya bisa memberi dampak besar dalam permasalahan food waste. Nggak cuma terkait dengan keberlanjutan lingkungan tapi juga mendukung ketahanan pangan untuk generasi mendatang, Teman Setia.
Pada akhirnya, setiap makanan yang terbuang bukan sekadar sampah, tapi juga tentang menghargai setiap sumber daya yang kita miliki. Jadi, mulai sekarang yuk lebih bijak dalam mengelola makanan, Teman Setia. Karena perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang kita lakukan setiap hari!
Penulis: Muhammad Fakhri Zamzami
Editor: Enggar

No responses yet