Inovasi sering kali dianggap sebagai sesuatu yang rumit atau hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang ahli di bidang teknologi. Padahal, inovasi bisa lahir dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita, bahkan dari persoalan yang setiap hari dihadapi masyarakat, loh Teman Setia. Mulai dari cara mengelola sampah rumah tangga hingga menciptakan ruang kolaborasi antarwarga, semuanya dapat menjadi langkah kecil yang membawa perubahan besar bagi lingkungan.
Pada dialog interaktif kali ini, DJ Gita Nugraha berbincang bersama Dr. Siswo Hartanto, S.E., M.Si., Kepala BAPPEDA Kota Salatiga, serta Maria Entina Puspita, S.E., M.Ak., Ak., CA., ACPA., ASEAN CPA., Dosen STIE AMA Salatiga sekaligus inovator program SIMPORI. Keduanya membahas bagaimana kolaborasi menjadi kunci untuk meningkatkan inovasi daerah melalui program SIAP INOVASI, sekaligus mengenalkan SIMPORI, sebuah inovasi pengelolaan sampah organik berbasis biopori yang telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Mengapa Inovasi Daerah Itu Penting?
Mungkin sebagian Teman Setia bertanya-tanya, mengapa pemerintah begitu serius mendorong inovasi? Bukankah tugas pemerintah cukup menjalankan program yang sudah ada? Ternyata, inovasi menjadi salah satu ukuran penting dalam melihat kemampuan sebuah daerah berkembang dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Salatiga sendiri memiliki visi menjadi Kota BEDA, yaitu Bergerak, Energik, Dinamis, dan Adaptif. Salah satu indikator untuk mewujudkan visi tersebut adalah peningkatan Indeks Inovasi Daerah. Saat ini Salatiga telah masuk kategori Kota Inovatif berdasarkan penilaian Kementerian Dalam Negeri, dan target berikutnya adalah naik menjadi Kota Sangat Inovatif pada tahun 2027. Untuk mencapai tujuan itulah lahir program SIAP INOVASI atau Strategi Kolaborasi Peningkatan Indeks Inovasi Daerah Kota Salatiga.
SIAP INOVASI Mengajak Semua Pihak Berinovasi
Menariknya, SIAP INOVASI tidak hanya mengajak organisasi perangkat daerah untuk berinovasi. Program ini justru membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat agar ikut menciptakan solusi atas berbagai persoalan di sekitarnya.
Teman Setia, inovasi yang dimaksud bukan harus berupa penemuan besar atau teknologi canggih. Ide sederhana yang mampu menyelesaikan masalah dan bisa diterapkan secara nyata pun termasuk inovasi. Karena itu, BAPPEDA menggandeng berbagai unsur melalui kolaborasi hexahelix, mulai dari akademisi, pelaku usaha, organisasi masyarakat, media, hingga masyarakat umum. Setiap inovasi yang lahir nantinya dapat dicatat sebagai inovasi daerah sehingga ikut memperkuat daya saing Kota Salatiga.
Untuk mendukung ekosistem tersebut, SIAP INOVASI menghadirkan berbagai program. Mulai dari pembentukan tim koordinasi inovasi daerah, pendampingan hingga proses memperoleh HAKI atau paten, seminar dan pelatihan, pemilihan inovator terbaik, pembentukan pusat inovasi, penyelenggaraan festival inovasi, hingga fasilitasi kerja sama antara inovator dengan pemerintah maupun dunia usaha. Seluruh langkah tersebut dirancang agar inovasi tidak berhenti sebagai sebuah ide, tetapi benar-benar berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Hingga saat ini, upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. BAPPEDA telah menerima 112 inovasi dari berbagai kalangan. Inovasi tersebut tidak hanya berasal dari pemerintah, tetapi juga dari mahasiswa, sekolah, perguruan tinggi, hingga masyarakat. Ada inovasi helm antikecelakaan, media pembelajaran bagi penyandang tunarungu, berbagai inovasi pengelolaan sampah, dan masih banyak lagi. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah melalui ide-ide kreatif yang bermanfaat.
SIMPORI, Inovasi yang Berangkat dari Persoalan Sampah
SIMPORI, Inovasi yang Berangkat dari Persoalan Sampah
Salah satu contoh inovasi yang berkembang melalui semangat kolaborasi tersebut adalah SIMPORI atau Sistem Pengelolaan Sampah Organik Berbasis Biopori.
Ibu Maria Entina menjelaskan bahwa lahirnya SIMPORI berawal dari kepedulian terhadap persoalan sampah organik yang jumlahnya terus meningkat. Banyak tempat pembuangan akhir mengalami kelebihan kapasitas, sementara di tingkat rumah tangga masih banyak warga yang membuang atau membakar sampah organik begitu saja. Padahal, sisa makanan, daun, maupun limbah dapur sebenarnya masih memiliki nilai manfaat apabila dikelola dengan benar.
Dari kondisi tersebut, tim STIE AMA Salatiga mengembangkan SIMPORI, yaitu model Bank Sampah Organik berbasis biopori yang menggabungkan pengelolaan lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat. Konsepnya sederhana. Sampah organik dipilah dari rumah, kemudian dimasukkan ke dalam lubang biopori untuk diolah menjadi kompos. Hasil kompos tersebut dapat dimanfaatkan sendiri maupun dijual sehingga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Inilah yang melahirkan konsep “Dari Sampah Jadi Rupiah”, yaitu mengubah sesuatu yang semula dianggap tidak bernilai menjadi sumber manfaat bagi lingkungan sekaligus tambahan penghasilan.
SIMPORI Terus Berkembang Bersama Masyarakat
Program SIMPORI pertama kali diterapkan di Bendosari, wilayah yang saat itu masih menghadapi kebiasaan membuang atau membakar sampah rumah tangga. Oleh karena itu, pendampingan tidak hanya berfokus pada pembuatan lubang biopori, tetapi juga mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap sampah organik. Bersama kelompok PKK, warga diberikan sosialisasi mengenai pemilahan sampah, pelatihan membuat biopori, pengolahan sampah organik menjadi kompos, hingga pembentukan Bank Sampah Organik sebagai upaya untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Kompos yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk mendukung kebun gizi masyarakat. Bahkan, proses pembusukan sampah organik dapat dipercepat dengan memanfaatkan air cucian beras sehingga pengolahannya menjadi lebih efektif. Keberhasilan di Bendosari pun mendorong SIMPORI berkembang ke beberapa wilayah lain, seperti RW 13 Mangunsari, Pesona Merbabu, dan Ngentak. Melalui pendampingan tersebut, masyarakat diharapkan semakin terbiasa mengelola sampah organik dari rumah sehingga jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dapat terus berkurang.
Lebih dari sekadar menjaga kebersihan lingkungan, SIMPORI juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi. Program ini mendorong tumbuhnya budaya gotong royong, melahirkan kader-kader lingkungan, menghemat biaya pembelian pupuk melalui pemanfaatan kompos, hingga membuka peluang tambahan pendapatan dari hasil pengelolaan sampah. Dengan demikian, SIMPORI menunjukkan bahwa perubahan sederhana dalam pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat sekaligus menjadi contoh inovasi yang layak dikembangkan di berbagai wilayah.
Kolaborasi Menjadi Kunci Masa Depan
Membangun daerah yang inovatif tentu bukan pekerjaan satu pihak saja. Pemerintah dapat menyediakan kebijakan dan ruang kolaborasi, akademisi menghadirkan penelitian dan pendampingan, pelaku usaha membantu mengembangkan produk, media menyebarkan informasi, sementara masyarakat menjadi pelaku utama yang menerapkan inovasi dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui SIAP INOVASI, Salatiga berupaya menciptakan ekosistem yang membuat ide-ide baik dapat tumbuh dan berkembang. Di sisi lain, SIMPORI membuktikan bahwa inovasi tidak harus rumit. Berawal dari kebiasaan memilah sampah dan memanfaatkan lubang biopori, masyarakat dapat menjaga lingkungan sekaligus memperoleh nilai ekonomi. Ketika setiap pihak mau berkolaborasi, inovasi tidak lagi sekadar menjadi wacana, tetapi benar-benar menghadirkan manfaat yang bisa dirasakan bersama.

No responses yet