Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar soal menyediakan makanan bagi penerima manfaat. Di balik makanan yang sampai ke tangan masyarakat, ada proses panjang yang perlu dipastikan, mulai dari kebersihan tempat pengolahan, keamanan bahan pangan, hingga kesesuaian kandungan gizinya. Karena itu, pengawasan menjadi bagian penting agar program MBG benar-benar memberikan manfaat dan tidak menimbulkan persoalan baru.

Maka dari itu, diperlukan inovasi untuk mengurangi berbagai permasalahan yang mungkin muncul di lapangan. Dalam NGOBRAS kali ini, DJ Gita Nugraha ditemani oleh Ony Suciaty, M.K.M., selaku Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Salatiga, membahas inovasi Si Mantap MBG yang dikembangkan Dinas Kesehatan Kota Salatiga untuk memperkuat proses monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBG.

Si Mantap MBG — Mengawasi MBG agar Aman dan Sesuai Standar

Si Mantap MBG merupakan singkatan dari Sistem Informasi Monitoring Evaluasi Cepat dan Terpadu pada Program MBG di Salatiga. Inovasi ini muncul dari kebutuhan untuk membuat proses pemantauan dan evaluasi MBG lebih terintegrasi.

Pelaksanaan MBG di lapangan perlu terus dipantau karena terdapat sejumlah aspek yang harus diperhatikan, termasuk keamanan pangan dan komposisi gizi. Apalagi, program ini menyasar kelompok yang membutuhkan asupan gizi memadai, seperti balita, anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kemungkinan terjadinya keracunan pangan serta ketidaksesuaian komposisi gizi. Karena itu, Dinas Kesehatan tidak hanya melakukan pengawasan, tetapi juga memberikan pembinaan dan pendampingan kepada Tempat Pengolahan Pangan (TPP), termasuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Melalui monitoring dan evaluasi, kondisi pengolahan makanan dapat diperiksa secara lebih terukur. Harapannya, makanan yang diproduksi tidak hanya aman dikonsumsi, tetapi juga memiliki kandungan kalori dan komposisi gizi yang sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat.

Berbasis Data dan Mulai Didigitalisasi

Pekerja SPPG Ledok Argomulyo, Salatiga, menata menu makanan yang akan didistribusikan ke siswa di Kota Salatiga, Jawa Tengah (Hawin Alaina/Solopos)

Salah satu hal yang membedakan Si Mantap MBG dengan proses pemantauan sebelumnya adalah penggunaan sistem digital. Jika sebelumnya petugas seperti ahli gizi dan sanitarian masih melakukan penginputan data secara manual, kini hasil monitoring dapat dilaporkan dan diolah secara lebih terintegrasi.

Petugas lapangan melakukan pemeriksaan langsung ke SPPG, kemudian hasilnya dimasukkan melalui Google Form. Data tersebut selanjutnya diolah dan dianalisis oleh tim IT untuk ditampilkan melalui dashboard Si Mantap MBG. Dari dashboard ini, pemerintah dapat melihat berbagai hasil monitoring, seperti skor Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL), skor ketepatan gizi, persentase SPPG yang telah memiliki izin, hingga kepatuhan terhadap SOP.

Dengan data yang tersusun secara digital, hasil monitoring tidak hanya menjadi catatan, tetapi juga dapat digunakan untuk melihat bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Jika ditemukan persoalan, hasil tersebut dapat dibahas bersama dalam rapat koordinasi untuk menentukan langkah tindak lanjut.

Apa Saja yang Dinilai dalam Monitoring?

Info 💡: Teman Setia dapat mengecek hasil SiMantap MBG di link ini.

Lalu, apa saja yang diperiksa ketika petugas melakukan monitoring ke SPPG? Ada sekitar 25 indikator yang menjadi bagian dari pemeriksaan. Beberapa di antaranya berkaitan dengan kondisi ruangan, suhu penyimpanan makanan, kebersihan, serta penerapan SOP dalam proses pengolahan pangan.

Pemeriksaan juga tidak hanya melihat kondisi lingkungan. Dari sisi gizi, ahli gizi turut menghitung kandungan seperti kalori, serat, dan komponen lainnya untuk memastikan makanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat. Jadi, monitoring tidak hanya memastikan makanan aman dikonsumsi, tetapi juga memperhatikan ketepatan gizinya.

Keamanan pangan juga berkaitan erat dengan kualitas air yang digunakan dalam proses pengolahan. Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi, Dinas Kesehatan Kota Salatiga mengeluarkan surat edaran yang mewajibkan TPP melakukan pemeriksaan kualitas air secara berkala. Pemeriksaan mikrobiologi dilakukan satu bulan sekali, sedangkan pemeriksaan kimia dan parameter lainnya dilakukan setiap tiga bulan.

Ketentuan tersebut menjadi bagian dari pengawasan kesehatan lingkungan. Hal ini juga sejalan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023. Untuk tempat pengolahan pangan berisiko tinggi seperti SPPG, pengawasan internal dilakukan setiap satu bulan sekali, sementara pengawasan eksternal dilakukan setiap enam bulan sekali.

Melalui pemeriksaan tersebut, kondisi SPPG dapat dipantau secara lebih menyeluruh, mulai dari lingkungan pengolahan, keamanan pangan, kualitas air, hingga kandungan gizi makanan yang diberikan kepada penerima manfaat.

Sudah Diterapkan di Sejumlah SPPG

Tampilan Banner Dashboard Si Mantap MBG

Si Mantap MBG telah diluncurkan pada awal September dalam kegiatan yang turut dihadiri unsur pemerintah, TP PKK, masyarakat, dan kader SPPG. Dalam dua bulan awal pelaksanaannya, monitoring dan evaluasi telah dilakukan pada 12 SPPG.

Dari data yang disampaikan, saat ini terdapat 34 SPPG yang telah beroperasi dan 29 di antaranya sudah berjalan. Dinas Kesehatan menargetkan seluruh SPPG dapat menjalani monitoring dan evaluasi dalam jangka menengah.

Dalam pelaksanaannya, Dinas Kesehatan berperan sebagai pembina sekaligus fasilitator. Artinya, hasil pemeriksaan digunakan sebagai dasar untuk memberikan pendampingan dan pembinaan kepada SPPG, termasuk ketika ditemukan aspek yang masih perlu diperbaiki.

Bagaimana Jika SPPG Tidak Mematuhi SOP?

Salah satu pertanyaan yang muncul dari masyarakat adalah bagaimana pemerintah memastikan SPPG mematuhi standar yang telah ditetapkan.

Kepatuhan terhadap SOP menjadi salah satu indikator yang diperiksa dalam monitoring. Setiap SPPG memiliki skor berdasarkan hasil pemeriksaan. Jika ditemukan kekurangan, hasil tersebut akan menjadi dasar bagi Dinas Kesehatan untuk memberikan pembinaan dan pendampingan.

Monitoring secara berkala diharapkan membuat SPPG semakin memperhatikan kualitas pengolahan pangan. Dengan demikian, perbaikan tidak hanya dilakukan ketika terjadi masalah, tetapi menjadi bagian dari proses rutin. Meski demikian, Dinas Kesehatan tidak memiliki kewenangan untuk memberikan sanksi secara langsung. Apabila diperlukan tindakan lebih lanjut, hasil monitoring akan disampaikan kepada Satgas MBG, yang diketuai oleh Wakil Wali Kota Salatiga, Nina Agustin.

Tantangan dan Kolaborasi Pengembangan Sistem

Ilustrasi sekelompok orang yang tengah berdiskusi (Vitaly Gariev/unsplash)

Pelaksanaan Si Mantap MBG juga diperkuat melalui kolaborasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) lain. Dinas Kesehatan Kota Salatiga bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup serta Dinas Pangan dan Pertanian untuk menindaklanjuti hasil monitoring dan evaluasi di lapangan.

Kolaborasi tersebut salah satunya dilakukan melalui workshop bagi kepala SPPG se-Kota Salatiga. Dinas Lingkungan Hidup memberikan perhatian pada pengelolaan limbah, sementara Dinas Pangan dan Pertanian memberikan pembinaan terkait pemilihan bahan pangan yang sehat. Dengan keterlibatan berbagai pihak, persoalan yang ditemukan dari hasil monitoring dapat ditangani sesuai bidang masing-masing.

Meski begitu, pelaksanaan Si Mantap MBG masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu yang terbesar adalah pengaturan sumber daya manusia. Petugas teknis yang melakukan monitoring tetap harus menjalankan tugas pokok dan fungsi masing-masing, sekaligus melaksanakan berbagai program dari pemerintah pusat.

Dari sisi teknologi, sistem yang digunakan saat ini masih dalam tahap pengembangan. Ke depan, Si Mantap MBG diharapkan dapat diperkuat dengan dukungan teknologi dan Dinas Komunikasi dan Informatika agar sistemnya lebih lengkap, termasuk untuk membantu mendeteksi lebih dini kemungkinan kasus keracunan maupun persoalan spesifik lainnya.

Pengembangan juga dilakukan dari sisi gizi di mana diperlukan sistem pelaporan dengan indikator tersendiri agar komposisi dan kandungan gizi makanan dapat dihitung secara lebih valid. Dengan begitu, data yang terkumpul tidak hanya berguna untuk melihat kondisi SPPG, tetapi juga dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah perbaikan.

Keberlanjutan program MBG membutuhkan sinergi dari berbagai pihak. Dinas Kesehatan tidak dapat bekerja sendiri dalam memastikan keamanan pangan dan kualitas makanan yang diterima masyarakat. Karena itu, dukungan dari OPD terkait, SPPG, serta masyarakat tetap diperlukan agar berbagai persoalan yang ditemukan di lapangan dapat segera ditindaklanjuti. Melalui Si Mantap MBG, upaya monitoring dan evaluasi diharapkan semakin terarah sehingga pelaksanaan MBG dapat berjalan aman, sesuai standar, dan memberikan manfaat yang optimal bagi penerima manfaat.

Please follow and like us:
Pin Share

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *