Sakit gigi, gigi berlubang, atau gigi patah sering kali membuat seseorang langsung berpikir bahwa satu-satunya jalan keluar adalah mencabut gigi. Padahal, tidak semua gigi yang mengalami kerusakan harus berakhir di tempat pencabutan. Dengan pemeriksaan dan penanganan yang tepat, sejumlah kondisi gigi masih dapat dipertahankan agar tetap berfungsi dan membantu menjaga penampilan.

Dalam kesempatan NGOBRAS kali ini, DJ Gita Nugraha ditemani drg. Blofoma M. Veransa, Sp.KG, dokter spesialis konservasi gigi di RSUD dr. Soebarkat Tjitrodarmodjo Kota Salatiga yang membahas berbagai hal seputar perawatan konservasi gigi. Mulai dari perawatan saluran akar, penanganan gigi patah akibat kecelakaan, hingga kondisi gigi yang copot seluruhnya. Berbagai tindakan tersebut dapat menjadi pilihan untuk mempertahankan gigi selama kondisinya masih memungkinkan.

Apa Itu Konservasi Gigi?

Secara sederhana, konservasi gigi merupakan bidang kedokteran gigi yang berfokus pada mempertahankan gigi selama mungkin di dalam mulut, sekaligus mengembalikan fungsi dan penampilannya. Jadi, ketika gigi mengalami kerusakan, dokter akan melihat terlebih dahulu apakah gigi tersebut masih dapat diperbaiki sebelum mempertimbangkan pencabutan.

Salah satu tindakan yang paling dikenal adalah perawatan saluran akar (PSA). Perawatan ini dilakukan ketika jaringan lunak di bagian dalam gigi, yang berisi saraf dan pembuluh darah, mengalami infeksi atau kerusakan. Jaringan yang terinfeksi dibersihkan, saluran di dalam akar disterilkan, kemudian diisi dan ditutup agar infeksi tidak kembali.

Karena itu, istilah yang sering Teman Setia dengar sebagai “mematikan saraf gigi” sebenarnya merupakan penyederhanaan. Dalam PSA, jaringan saraf atau pulpa yang sudah terinfeksi memang diangkat dari dalam gigi. Tujuannya bukan sekadar menghilangkan rasa sakit, tetapi membersihkan sumber infeksi sehingga struktur gigi yang masih tersisa dapat dipertahankan.

Dokter Gigi Umum dan Spesialis Konservasi Gigi, Apa Bedanya?

Ilustrasi dokter gigi sedang melakukan pemeriksaan gigi pada pasien (lafayett zapata montero/unsplash)

Dokter gigi umum menangani berbagai masalah gigi dan mulut yang umum ditemui sehari-hari, seperti pemeriksaan, penambalan, pembersihan karang gigi, dan perawatan dasar lainnya. Sementara itu, dokter spesialis konservasi gigi memiliki keahlian lebih khusus untuk menangani gigi yang mengalami kerusakan lebih kompleks dan masih memungkinkan untuk dipertahankan.

Misalnya, kasus saluran akar yang sulit, gigi dengan bentuk akar yang kompleks, hingga gigi yang patah atau mengalami kerusakan akibat benturan. Jadi, ketika kondisi gigi membutuhkan penanganan lebih kompleks, dokter gigi umum dapat merujuk pasien ke dokter spesialis konservasi gigi sesuai kebutuhannya.

Gigi Patah atau Copot karena Benturan, Apa yang Harus Dilakukan?

Kecelakaan atau benturan pada wajah bisa membuat gigi patah, bahkan terlepas seluruhnya, Teman Setia. Namun, kondisi tersebut tidak selalu berarti gigi harus dicabut atau diganti dengan gigi palsu. Selama kondisi gigi masih memungkinkan, dokter spesialis konservasi gigi dapat melakukan tindakan untuk mempertahankannya.

Jika gigi hanya patah, penanganannya akan disesuaikan dengan bagian dan seberapa parah gigi mengalami kerusakan. Dalam sejumlah kasus, gigi yang patah masih dapat dibentuk dan diperbaiki kembali sehingga fungsi serta penampilannya tetap terjaga. Sementara itu, jika gigi terlepas seluruhnya akibat benturan, kondisi tersebut disebut avulsi dan membutuhkan penanganan secepat mungkin. Gigi yang copot jangan digosok atau dipegang pada bagian akarnya.

Tips untuk pertolongan pertama gigi yang copot atau patah ini, Teman Setia dapat merendamnya di susu UHT atau di bawah lidah atau di antara gusi dan pipi untuk menjaga jaringan gigi tetap hidup. Namun, tidak disarankan untuk anak-anak, orang tua, atau korban kecelakaan yang sedang syok atau pingsan karena dapat tertelan masuk ke lambung atau tersedak masuk ke saluran pernapasan.

Kenapa Perawatan Saluran Akar Bisa Berkali-kali?

Ilustrasi model implan gigi (Jonathan Borba./unsplash)

Perawatan saluran akar tidak selalu selesai dalam satu kali kunjungan. Lama perawatan bergantung pada kondisi gigi, tingkat infeksi, serta seberapa kompleks saluran akar yang harus ditangani. Pada kasus tertentu, dokter perlu melakukan pembersihan beberapa kali dan memberikan obat di dalam saluran akar untuk membantu mengatasi infeksi sebelum gigi dapat ditutup secara permanen.

Karena itu, pasien mungkin diminta kembali untuk melakukan kontrol dengan jarak waktu tertentu. Umumnya kontrol dapat dilakukan sekitar satu hingga dua minggu, tetapi waktunya tetap disesuaikan dengan kondisi gigi dan obat yang diberikan. Jadi, jika perawatan saluran akar membutuhkan beberapa kali kunjungan, bukan berarti perawatannya bermasalah. Justru setiap tahap dilakukan untuk memastikan bagian dalam gigi sudah cukup bersih dan kondisinya siap untuk mendapatkan penambalan akhir.

Setelah Perawatan, Kok Gigi Masih Terasa Sakit?

Rasa sakit atau tidak nyaman setelah perawatan gigi bisa saja terjadi. Namun, jika keluhan masih muncul beberapa hari setelah perawatan, bukan berarti perawatan yang dilakukan pasti gagal. Dokter perlu memeriksa kembali untuk memastikan sumber rasa sakitnya.

Menurut drg. Blofoma M. Veransa, Sp.KG, dalam beberapa kasus rasa sakit justru berasal dari gigi di sebelah gigi yang sedang dirawat. Karena letaknya berdekatan, rasa sakit dari gigi tersebut bisa terasa seolah-olah berasal dari gigi yang baru mendapatkan perawatan.

Karena itu, jika gigi masih terasa sakit setelah perawatan, sebaiknya Teman Setia jangan langsung menyimpulkan atau mengobatinya sendiri. Pemeriksaan kembali diperlukan untuk mengetahui sumber keluhan dan menentukan penanganan yang tepat.

Bagaimana Cara Mendapatkan Layanan Konservasi Gigi di RSDS?

Bagi Teman Setia yang ingin mendapatkan layanan konservasi gigi di RSUD dr. Soebarkat Tjitrodarmodjo Kota Salatiga, pasien umum dapat langsung menyampaikan saat pendaftaran bahwa ingin memeriksakan kondisi gigi ke dokter spesialis konservasi gigi. Sementara bagi pasien BPJS, diperlukan rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama sesuai alur pelayanan yang berlaku.

Pelayanan konservasi gigi juga dapat ditanggung BPJS sesuai ketentuan yang berlaku. Sementara bagi pasien umum, drg. Blofoma M. Veransa, Sp.KG menyampaikan estimasi biaya perawatan hingga selesai berada di kisaran Rp1,5 juta hingga Rp2 juta. Besaran biaya dapat berbeda tergantung kondisi gigi dan tindakan yang diperlukan.

Untuk jadwal praktik, layanan tersedia pada Kamis dan Sabtu pagi mulai pukul 07.00 hingga selesai, serta Jumat sore pukul 14.00–16.00 WIB.

Menjaga kesehatan gigi bukan hanya soal menghindari sakit, tetapi juga mempertahankan fungsi gigi selama mungkin. Ketika gigi Teman Setia mengalami kerusakan, pemeriksaan lebih awal dapat membantu menentukan apakah gigi masih bisa dipertahankan dan perawatan apa yang sesuai dengan kondisinya.

drg. Blofoma M. Veransa, Sp.KG, mengingatkan bahwa kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu bagian penting dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Karena itu, jangan menunggu sampai keluhan semakin parah untuk memeriksakan gigi. Dengan perawatan yang tepat dan kebiasaan menjaga kebersihan gigi, gigi asli yang masih dapat dipertahankan punya peluang untuk tetap menemani Teman Setia lebih lama.

Please follow and like us:
Pin Share

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *