Di era digital seperti sekarang, informasi bisa datang dari mana saja dan dalam hitungan detik. Kabar terbaru, video, foto, hingga opini bertebaran di media sosial maupun aplikasi percakapan. Sayangnya, kemudahan tersebut juga diiringi dengan meningkatnya penyebaran hoaks dan disinformasi yang kerap membuat masyarakat bingung membedakan mana informasi yang benar dan mana yang menyesatkan.
Pada Dialog Interaktif kali ini, DJ Widia berbincang bersama anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah, yaitu H. Tugiman, S.P., Ribut Budi Santoso, S.P., dan Drs. Soenarno, M.M yang membahas berbagai tantangan di ruang digital sekaligus langkah-langkah yang dapat dilakukan masyarakat agar lebih bijak dalam menerima, menyaring, dan membagikan informasi.
Ruang Digital Memudahkan Hidup, tetapi Tantangannya Semakin Besar
Perkembangan teknologi digital telah membawa banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi menjadi lebih cepat, informasi semakin mudah diakses, dan masyarakat dapat memperoleh berbagai pengetahuan hanya melalui gawai di tangan.
Namun, di balik kemudahan tersebut muncul tantangan yang tidak kalah besar, yaitu maraknya penyebaran hoaks atau informasi palsu. Menurut Bapak Tugiman, hoaks dibuat dengan berbagai tujuan, mulai dari mencari keuntungan ekonomi, menyebarkan ujaran kebencian, menciptakan keresahan, hingga memicu ketidakstabilan di masyarakat.
Karena itu, kemampuan bermedia digital tidak lagi sebatas mampu menggunakan teknologi. Masyarakat juga perlu memahami cara memanfaatkan ruang digital secara bijak, bertanggung jawab, dan aman agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.
Mengapa Hoaks Mudah Dipercaya dan Apa Dampaknya?
Hoaks bukan sekadar informasi yang salah, tetapi juga dapat membawa dampak besar bagi kehidupan bermasyarakat. Menurut Bapak Soenarno, penyebaran informasi palsu berpotensi menimbulkan polarisasi atau memecah-belah masyarakat. Ketika seseorang langsung mempercayai sebuah kabar tanpa memastikan kebenarannya, rasa saling percaya dapat berkurang dan perbedaan pendapat berisiko berkembang menjadi konflik.
Di sisi lain, Bapak Ribut menjelaskan bahwa hoaks masih mudah dipercaya karena belum semua masyarakat memiliki literasi digital yang memadai. Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), juga dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk membuat konten palsu yang terlihat meyakinkan. Isu yang paling sering dimanfaatkan biasanya berkaitan dengan bantuan sosial, kesehatan, dan bencana. Tidak sedikit masyarakat yang menjadi korban penipuan karena tergiur oleh informasi bantuan atau diminta menyerahkan data pribadi, seperti foto KTP, yang kemudian disalahgunakan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan memilah informasi menjadi semakin penting. Semakin kritis seseorang dalam menyikapi informasi yang diterima, semakin kecil pula peluang hoaks menyebar dan menimbulkan dampak yang lebih luas di tengah masyarakat.
Membangun Literasi Digital Dimulai dari Diri Sendiri
Menurut Bapak Tugiman, menjadi pengguna media sosial yang bijak dimulai dari kebiasaan sederhana, yaitu memeriksa keabsahan informasi sebelum mempercayai atau membagikannya. Informasi yang mengandung hoaks umumnya berasal dari sumber yang tidak jelas, bersifat provokatif, atau mengandung unsur SARA. Jika masih ragu terhadap suatu informasi, sebaiknya luangkan waktu untuk mencari sumber pembanding atau memastikan kebenarannya melalui kanal resmi sebelum ikut menyebarkannya.
Selain itu, Bapak Tugiman menilai bahwa literasi digital perlu diperkuat sejak dini dan menjadi bagian dari proses pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan. Menurutnya, literasi digital tidak hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi (digital skill), tetapi juga membangun budaya digital (digital culture) dan kesadaran akan keamanan di ruang digital (digital safety). Ia juga berharap edukasi mengenai literasi digital dapat menjangkau hingga tingkat kecamatan maupun kelurahan melalui kehadiran agen-agen literasi yang mampu mendampingi masyarakat. Dunia digital pun tidak hanya memiliki sisi negatif, tetapi juga membuka banyak peluang positif, seperti mengembangkan usaha melalui digital marketing, memperluas jejaring, hingga menambah wawasan.
Sementara itu, Bapak Soenarno mengajak masyarakat untuk membiasakan budaya “saring sebelum sharing”. Kebiasaan ini dapat dimulai dengan memverifikasi informasi, mengecek sumber berita melalui kanal resmi yang terpercaya, serta mengedepankan empati digital agar tidak mudah menyebarkan informasi yang dapat merugikan orang lain. Dengan langkah-langkah sederhana tersebut, kita dapat menjadi pengguna media digital yang lebih cerdas sekaligus membantu mengurangi penyebaran hoaks.
Menciptakan Ruang Digital yang Sehat Butuh Kolaborasi Semua Pihak
Bapak Ribut menjelaskan bahwa hoaks yang paling sering beredar di Jawa Tengah umumnya berkaitan dengan bantuan sosial, politik, kesehatan, hingga bencana. Pelaku penyebar hoaks memanfaatkan isu-isu tersebut karena mudah menarik perhatian masyarakat. Selain itu, ujaran kebencian bernuansa SARA, meme bernada sarkas, hingga informasi palsu yang meminta data pribadi seperti KTP juga masih kerap ditemukan di media sosial. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati terhadap informasi yang beredar, terutama yang mengatasnamakan instansi tertentu atau meminta data pribadi.
Dalam upaya menekan penyebaran hoaks, Bapak Soenarno menjelaskan bahwa DPRD Provinsi Jawa Tengah memiliki peran melalui tiga fungsi utamanya, yaitu legislasi, anggaran, dan pengawasan. Melalui fungsi legislasi, DPRD mendorong penyusunan regulasi yang mengacu pada peraturan perundang-undangan dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Dari sisi anggaran, DPRD mendukung berbagai program literasi digital, sedangkan melalui fungsi pengawasan, DPRD memastikan program pemerintah berjalan secara efektif dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Meski begitu, menciptakan ruang digital yang sehat tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Bapak Ribut menegaskan bahwa dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, legislatif, media massa, lembaga pendidikan, komunitas, relawan, hingga masyarakat. Setiap pihak memiliki peran masing-masing dalam membangun ekosistem informasi yang sehat. Ketika semua elemen saling bersinergi, upaya memerangi hoaks akan menjadi lebih efektif dan ruang digital pun dapat dimanfaatkan sebagai tempat berbagi informasi yang bermanfaat.
Meski arus informasi memang tidak bisa dihentikan, kita bisa memilih bagaimana menyikapinya, Teman Setia. Dengan membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi, meningkatkan literasi digital, serta tidak mudah menyebarkan kabar yang belum terverifikasi, kita turut berkontribusi menciptakan ruang digital yang lebih sehat. Semoga pembahasan kali ini dapat menjadi pengingat bagi Teman Setia bahwa setiap informasi yang diterima maupun dibagikan memiliki dampak. Mari bersama-sama menjadi pengguna media digital yang lebih cerdas, bijak, dan bertanggung jawab.

No responses yet