Menjaga kesehatan anak bukan hanya dilakukan ketika mereka masih bayi. Seiring bertambahnya usia, daya tahan tubuh terhadap beberapa penyakit dapat menurun sehingga perlindungan tambahan tetap diperlukan. Sayangnya, masih banyak orang tua yang mengira imunisasi cukup diberikan saat anak berusia di bawah dua tahun. Padahal, ada imunisasi lanjutan yang sama pentingnya untuk memastikan anak tetap terlindungi hingga memasuki usia remaja.
NGOBRAS kali ini, DJ Gita Nugraha berbincang bersama Muhlisin, S.K.M., M.H.Kes. dari Dinas Kesehatan Kota Salatiga mengenai Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) mulai dari pentingnya imunisasi, jadwal pelaksanaan, hingga kekhawatiran orang tua terhadap efek samping vaksin dibahas secara lengkap.
Imunisasi, Investasi Kesehatan yang Tidak Berhenti Saat Balita
Masih banyak yang beranggapan bahwa imunisasi hanya diberikan saat bayi. Padahal, imunisasi merupakan proses yang berkelanjutan. Seiring pertumbuhan anak, kemampuan tubuh dalam mempertahankan kekebalan terhadap beberapa penyakit dapat menurun. Karena itulah diperlukan imunisasi lanjutan atau booster untuk menjaga perlindungan tersebut tetap kuat.
Secara sederhana, imunisasi adalah upaya membentuk atau meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu. Caranya dengan memasukkan vaksin yang telah dirancang agar sistem imun mengenali bibit penyakit tanpa menyebabkan seseorang mengalami penyakit tersebut. Ketika suatu saat tubuh benar-benar terpapar virus atau bakteri penyebab penyakit, sistem imun sudah memiliki “ingatan” sehingga dapat melawan infeksi lebih cepat.
Melalui proses tersebut, risiko seseorang mengalami sakit berat, komplikasi, bahkan kematian akibat penyakit menular dapat ditekan secara signifikan. Itulah sebabnya imunisasi lebih dikenal sebagai langkah pencegahan yang jauh lebih efektif dibandingkan mengobati penyakit setelah seseorang terinfeksi. Maka dari itu, imunisasi merupakan bagian dari upaya pencegahan penyakit sehingga anak dapat tumbuh lebih sehat dan produktif.
Mengapa Anak Tetap Membutuhkan Imunisasi Saat Sudah Sekolah?
Mungkin Teman Setia pernah bertanya-tanya, “Kalau waktu bayi sudah lengkap imunisasinya, kenapa masih harus divaksin lagi?”
Bapak Muhlisin menjelaskan beberapa alasan utamanya:
Penurunan Daya Tahan (Waning Immunity): Antibodi yang terbentuk dari vaksinasi masa bayi akan menurun secara alami seiring bertambahnya usia. Tanpa dosis penguat (booster), perlindungan tubuh terhadap penyakit seperti Difteri dan Tetanus akan melemah.
Meningkatnya Interaksi & Paparan Kuman: Lingkungan sekolah adalah tempat berkumpulnya puluhan anak dalam satu ruangan tertutup selama berjam-jam. Aktivitas bermain, berbagi barang, dan belajar bersama membuat paparan virus maupun bakteri jauh lebih tinggi dibanding saat anak masih di rumah.
Mencegah Penularan di Lingkungan Sekolah (Herd Immunity): Imunisasi sekolah tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga menciptakan benteng perlindungan bagi teman-teman sekelasnya, terutama anak yang mungkin memiliki kondisi medis tertentu sehingga belum bisa divaksinasi.
Kesempatan Melengkapi Dosis (Catch-up Immunization): Bagi anak yang dulu sempat terlewat atau belum menerima imunisasi dasar secara lengkap karena sakit atau kendala lain, program BIAS menjadi momen emas untuk mengejar ketertinggalan tersebut.
Bagaimana Pelaksanaan BIAS dan Bagaimana Jika Anak Belum atau Sudah Dua Kali Divaksin?
Pelaksanaan BIAS dilakukan secara terkoordinasi antara Dinas Kesehatan, puskesmas, pihak sekolah, dan berbagai lembaga terkait lainnya. Biasanya, tim dari puskesmas akan datang langsung ke sekolah untuk memberikan imunisasi kepada siswa. Proses ini didampingi oleh guru serta petugas dari Dinas Kesehatan, dan telah diatur dalam jadwal yang disepakati sebelumnya antara sekolah dan fasilitas kesehatan.
Sebelum anak divaksinasi, petugas akan melakukan skrining sederhana untuk memastikan kondisi kesehatannya memungkinkan menerima vaksin, seperti tidak sedang demam, batuk, atau pilek berat. Bila anak dinyatakan layak, vaksinasi dilakukan dan anak diminta beristirahat sejenak untuk memantau reaksi setelah imunisasi.
Baca juga: Jangan Tunggu Sakit: Kenali Pentingnya Vaksin HPV dan Pap Smear untuk Cegah Kanker Serviks
Campak pada Orang Dewasa, Ancaman yang Sering Dianggap Sepele
Namun, bagaimana jika anak sedang sakit dan tidak bisa mengikuti jadwal imunisasi di sekolah? Tak perlu khawatir, Teman Setia. Vaksinasi bisa ditunda hingga anak sembuh dan nantinya dapat dilakukan di puskesmas wilayah masing-masing. Bahkan, jika ada cukup banyak anak yang berhalangan hadir, puskesmas bisa kembali datang ke sekolah untuk melakukan imunisasi susulan. Sistem yang fleksibel ini memastikan semua anak tetap mendapatkan hak imunisasi meski tidak sesuai jadwal awal.
Sasaran BIAS sudah ditentukan berdasarkan pedoman dari Kementerian Kesehatan dan rekomendasi WHO. Secara garis besar, berikut sasaran imunisasi:
- Agustus:
- Kelas 1 SD → Imunisasi campak rubela
- Kelas 5 SD → Imunisasi HPV
- Kelas 6 dan 9 (remedial HPV untuk yang belum vaksin bagi para siswi)
- November:
- Kelas 1 SD → Vaksin DT
- Kelas 2 dan 5 SD → Vaksin TD
Persiapan Pemerintah dan Peran Orang Tua dalam Menyukseskan BIAS
Suksesnya program BIAS tidak lepas dari persiapan matang yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Salatiga melalui Dinas Kesehatan. Sejumlah langkah strategis telah dijalankan, mulai dari sosialisasi melalui radio dan media sosial, hingga koordinasi lintas sektor dengan sekolah, Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, Dinas Sosial, dan PKK. Selain memastikan ketersediaan vaksin dan tenaga medis terlatih, pemerintah juga menyiapkan jadwal pelaksanaan yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Tak hanya menyasar anak-anak di sekolah, Dinas Kesehatan juga memastikan anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan formal tetap mendapatkan layanan imunisasi dengan pendataan dan pengorganisasian melalui puskesmas, kecamatan, serta lembaga masyarakat setempat.
Di sisi lain, keterlibatan orang tua sangat dibutuhkan untuk menyukseskan pelaksanaan BIAS. Orang tua diimbau memastikan anak dalam kondisi sehat saat akan divaksin, memberikan sarapan terlebih dahulu, serta membekali anak dengan pemahaman yang baik agar tidak takut saat imunisasi. Bila anak sedang sakit, vaksinasi dapat ditunda dan dilakukan di puskesmas ketika kondisinya sudah membaik. Untuk anak yang tidak bersekolah, orang tua bisa mendampingi mereka ke puskesmas sesuai wilayah domisili.
Setelah vaksinasi, orang tua tetap harus memantau kondisi anak, terutama jika muncul keluhan seperti nyeri di bekas suntikan atau demam ringan. Cukup berikan kompres dingin, air putih yang cukup, dan paracetamol sesuai dosis bila diperlukan – nantinya diberikan oleh petugas puskesmas. Namun, jika muncul gejala berat seperti kejang atau demam tinggi yang tidak mereda, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat. Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan orang tua — termasuk dalam menjangkau anak-anak di luar sistem pendidikan formal — menjadi kunci keberhasilan BIAS dalam menciptakan generasi yang lebih sehat dan terlindungi dari berbagai penyakit berbahaya.
Imunisasi terbukti menjadi langkah preventif yang sangat efektif dalam mencegah berbagai penyakit berbahaya. Melalui program BIAS, anak-anak Indonesia mendapat perlindungan yang lebih kuat sejak usia dini. Oleh karena itu, program ini wajib mendapat dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat, khususnya para orang tua. Pastikan anak-anak menerima imunisasi tepat waktu, dalam kondisi sehat, serta tidak melewatkan tahapan penting yang telah dijadwalkan.

No responses yet