Momen kehamilan tentu menjadi saat-saat yang paling membahagiakan dan dinantikan oleh pasangan suami istri. Membayangkan hadirnya si buah hati selalu berhasil menghadirkan rasa hangat dan rasa bersyukur. Namun, di balik kebahagiaan tersebut, menjaga kesehatan tubuh selama masa kehamilan adalah hal utama yang tak boleh terlewatkan. Tubuh ibu hamil melewati begitu banyak perubahan, dan kewaspadaan ekstra sangat dibutuhkan agar ibu serta janin tetap aman hingga hari persalinan tiba.
Untuk mengupas lebih dalam mengenai isu kesehatan saat hamil, NGOBRAS kali ini DJ Gita Nugraha akan berbincang bersama dr. Herwati, Sp.OG dari RSUD dr. Soebarkat Tjitrodarmodjo mengenai bahaya preeklamsia dan bagaimana cara menyikapinya agar ibu serta calon buah hati tetap sehat.
Apa Itu Preeklamsia?
Mungkin sebagian dari Teman Setia masih asing dengan istilah preeklamsia. Dulu, kondisi ini lebih dikenal sebagai “keracunan kehamilan”. Padahal, istilah tersebut kurang tepat karena penyebabnya bukan racun, melainkan gangguan yang terjadi selama kehamilan.
Preeklamsia adalah kondisi ketika ibu hamil mengalami tekanan darah tinggi setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu, yang umumnya disertai adanya protein dalam urine sebagai tanda gangguan fungsi ginjal. Dalam beberapa kasus, preeklamsia juga dapat didiagnosis meskipun protein urin tidak ditemukan, asalkan sudah muncul gangguan pada organ lain seperti hati, ginjal, otak, atau jumlah trombosit turun.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 3–8 persen kehamilan di seluruh dunia mengalami preeklamsia. Di Indonesia, kondisi ini juga menjadi perhatian serius. Kementerian Kesehatan RI mencatat bahwa preeklamsia dan eklamsia merupakan penyebab kematian ibu terbesar kedua setelah perdarahan dengan kontribusi sekitar 25 persen dari total kasus. Sayangnya, sebagian besar kasus yang ditemukan merupakan preeklamsia berat, di mana hampir 70% ibu mengalami kondisi serius yang berpotensi membahayakan. Hal ini membuat operasi sesar menjadi tindakan yang paling banyak dilakukan, karena kondisi ibu dan janin sering kali tidak memungkinkan untuk persalinan normal.
Mengapa Preeklamsia Berbahaya?
Jika di masa lalu penyebab utama kematian ibu saat melahirkan didominasi oleh perdarahan, kini preeklamsia menjadi salah satu ancaman terbesar bagi keselamatan ibu dan bayi. Kondisi ini perlu diwaspadai karena sering berkembang tanpa gejala yang jelas. Tidak sedikit ibu hamil yang merasa tubuhnya baik-baik saja dan tidak mengalami keluhan apa pun, padahal saat diperiksa tekanan darahnya sudah meningkat cukup tinggi.
Tekanan darah yang tidak terkontrol dapat mengganggu aliran darah ke berbagai organ tubuh, termasuk plasenta yang berperan menyalurkan oksigen dan nutrisi kepada janin. Akibatnya, pertumbuhan bayi dapat terhambat dan risiko komplikasi pada ibu pun meningkat. Karena gejalanya sering tidak disadari, banyak ibu hamil baru memeriksakan diri ketika kondisinya sudah cukup berat, sehingga penanganannya menjadi lebih sulit.
Apa Penyebabnya dan Kapan Bisa Menjadi Eklamsia?
Hingga saat ini, penyebab pasti preeklamsia masih terus diteliti. Menurut dr. Herwati, kondisi ini diduga berawal dari proses pembentukan plasenta yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Akibatnya, plasenta menghasilkan zat yang memengaruhi pembuluh darah sehingga menyempit dan mengganggu aliran darah ke berbagai organ tubuh, seperti otak, hati, ginjal, hingga janin. Gangguan inilah yang kemudian memicu tekanan darah tinggi dan berbagai komplikasi selama kehamilan.
Gangguan pada pembuluh darah tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi ibu, tetapi juga perkembangan janin di dalam kandungan. Bayi berisiko mengalami pertumbuhan yang lebih lambat, lahir prematur, bahkan pada kondisi tertentu dapat kehilangan detak jantung di dalam kandungan. Preeklamsia juga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap stunting karena bayi dapat lahir dengan berat badan rendah atau sebelum waktunya.
Apabila kondisi preeklamsia semakin berat dan tidak segera ditangani, ibu hamil dapat mengalami eklamsia, yaitu fase ketika muncul kejang yang tidak disebabkan oleh penyakit saraf lain. Sebelum kejang terjadi, biasanya muncul tanda-tanda seperti sakit kepala hebat, pandangan kabur, mual, muntah, atau nyeri di ulu hati. Kondisi tersebut dikenal sebagai impending eklamsia dan membutuhkan penanganan medis secepat mungkin.
Yang juga perlu diketahui, eklamsia tidak selalu terjadi saat kehamilan. Pada sebagian kasus, kondisi ini baru muncul setelah persalinan atau disebut eklamsia postpartum. Oleh karena itu, ibu tetap perlu menjalani pemeriksaan selama masa nifas meskipun proses melahirkan telah selesai.
Siapa yang Lebih Berisiko?
Tidak semua ibu hamil memiliki risiko yang sama, Teman Setia. Berdasarkan penjelasan narasumber, risiko preeklamsia lebih tinggi pada ibu yang:
- sedang menjalani kehamilan pertama;
- berusia di bawah 20 tahun atau di atas 40 tahun;
- memiliki riwayat hipertensi;
- hamil bayi kembar;
- menderita diabetes;
- memiliki faktor sosial dan ekonomi tertentu.
Selain itu, WHO dan Mayo Clinic menambahkan bahwa obesitas, penyakit ginjal, penyakit autoimun, serta riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya juga meningkatkan risiko.
Gejala yang Tidak Boleh Diabaikan
Meski sering berkembang tanpa keluhan yang jelas, bukan berarti preeklamsia tidak memiliki tanda bahaya. Ada beberapa gejala yang perlu Teman Setia kenali sejak dini. antara lain:
- tekanan darah meningkat;
- sakit kepala hebat;
- pandangan kabur;
- bengkak pada tangan dan wajah;
- nyeri ulu hati;
- mual dan muntah yang berat;
- jumlah urine berkurang;
- sesak napas.
Jika salah satu gejala tersebut muncul, jangan menunggu hingga membaik sendiri. Segera periksakan diri ke bidan, puskesmas, atau rumah sakit agar mendapat pemeriksaan lebih lanjut.
Bagaimana Cara Mendeteksinya?
Teman Setia mungkin bertanya, apakah preeklamsia bisa diketahui sejak awal?
Jawabannya, bisa. Salah satu cara terbaik adalah melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin. Dokter akan mengukur tekanan darah, memeriksa urine, melakukan pemeriksaan laboratorium bila diperlukan, hingga USG untuk memantau kondisi janin. Bahkan, risiko preeklamsia sudah dapat diprediksi sebelum usia kehamilan 20 minggu pada sebagian ibu hamil yang memiliki faktor risiko tertentu.
Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.
Apakah Preeklamsia Bisa Dicegah?
Meski belum ada cara yang mampu mencegah preeklamsia secara mutlak, risikonya dapat ditekan melalui gaya hidup sehat dan pemeriksaan kehamilan yang rutin. Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
- memeriksakan kehamilan sesuai jadwal;
- mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya protein, buah, dan sayuran;
- tetap aktif dengan olahraga ringan sesuai usia kehamilan;
- menghindari rokok maupun paparan asap rokok;
- mengontrol tekanan darah bila memiliki riwayat hipertensi;
- mengikuti anjuran dokter mengenai obat, vitamin, maupun suplemen selama kehamilan.
dr. Herwati menyampaikan bahwa kasus preeklamsia masih cukup sering dijumpai. Bahkan, di tempat praktiknya bisa ditemukan sekitar dua kasus setiap minggu. Karena itu, edukasi tidak hanya diberikan kepada ibu hamil, tetapi juga kepada keluarga agar bersama-sama mengenali tanda bahaya dan segera mencari pertolongan bila diperlukan.
Kehamilan memang merupakan proses alami, tetapi bukan berarti bebas dari risiko. Pemeriksaan kehamilan secara rutin bukan hanya untuk melihat perkembangan janin, melainkan juga mendeteksi gangguan kesehatan yang mungkin belum menimbulkan keluhan. Jadi, jangan menunda kontrol kehamilan meski merasa sehat. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, peluang ibu dan bayi menjalani kehamilan yang sehat hingga persalinan akan jauh lebih besar.

No responses yet