Pernah membayangkan kalau halaman rumah yang sederhana bisa menjadi sumber sayuran segar untuk keluarga? Di tengah harga bahan pangan yang sering berubah-ubah, memiliki kebun kecil di rumah bukan hanya membantu menghemat pengeluaran, tetapi juga membuat kebutuhan pangan keluarga lebih terjamin. Dari sinilah pentingnya membangun kemandirian pangan, dimulai dari langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan setiap warga.

Nah, Teman Setia, semangat itulah yang menjadi dasar lahirnya Gerakan KERAN GIWARI di Kelurahan Kecandran. Dalam Dialog Interaktif yang dipandu DJ Gita Nugraha, Neti Susanti, S.Sos., selaku Kasi Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Kecandran, memperkenalkan program yang dirancang untuk mendorong warga memanfaatkan pekarangan rumah sebagai kebun gizi sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.

Mengenal Gerakan KERAN GIWARI

Gerakan KERAN GIWARI merupakan singkatan dari Gerakan Kecandran Mandiri dengan Kebun Gizi Warga Mandiri. Program ini dirancang sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam berbagai tanaman pangan dan gizi. Dengan begitu, masyarakat diharapkan mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri sekaligus meningkatkan kualitas gizi keluarga.

Lahirnya gerakan ini tidak lepas dari peran Kelurahan Kecandran sebagai fasilitator dan penggerak pemberdayaan masyarakat. Di tengah tantangan seperti fluktuasi harga pangan dan berkurangnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan, diperlukan gerakan yang mampu mengajak masyarakat memanfaatkan lahan di sekitar rumah secara lebih produktif. Karena itu, Kelurahan Kecandran menggandeng kader PKK mulai dari tingkat RT, RW, hingga kelurahan agar program ini dapat berjalan dengan semangat gotong royong sekaligus mendorong peningkatan ekonomi masyarakat.

Seperti Apa Target Jangka Pendek hingga Jangka Panjangnya?

Ilustrasi menanam bibit dengan wadah pembibitan (Markus Spiske/unsplash)

Agar Gerakan KERAN GIWARI dapat berjalan secara bertahap dan berkelanjutan, pelaksanaannya dibagi menjadi tiga target waktu, yaitu jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

1. Jangka Pendek
Pada tahap awal, fokus utama adalah membangun fondasi program. Kegiatannya meliputi membangun komitmen bersama seluruh aparatur, menyiapkan kader pionir yang tersertifikasi dalam bidang urban farming, serta menyusun dokumen instruksi kerja yang aplikatif sebagai pedoman pelaksanaan Gerakan KERAN GIWARI.

2. Jangka Menengah
Setelah tahap awal selesai, program akan mulai direplikasi ke wilayah lain di Kelurahan Kecandran. Targetnya adalah semakin banyak RW yang menerapkan urban farming secara aktif, mengembangkan pengelolaan sampah organik, menerapkan sistem tabungan pangan warga, serta mulai melakukan pencatatan hasil produksi secara digital.

3. Jangka Panjang
Dalam jangka panjang, Gerakan KERAN GIWARI ditargetkan dapat diterapkan di seluruh RW di Kelurahan Kecandran. Selain mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan, program ini juga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi sirkular baru serta melahirkan masyarakat yang memiliki jiwa kewirausahaan sosial di lingkungan masing-masing.

Dari Kader Pionir hingga Kebun Gizi Warga

Langkah awal pelaksanaan Gerakan KERAN GIWARI adalah membentuk kader pionir sebagai penggerak utama di setiap wilayah. Kader ini berasal dari perwakilan PKK di masing-masing RW dan akan dibekali berbagai pelatihan, mulai dari urban farming, budidaya tanaman, pembuatan pupuk organik cair, hingga budidaya ikan. Setelah mengikuti pelatihan, mereka diharapkan dapat membagikan ilmu yang diperoleh kepada warga di lingkungan masing-masing sehingga gerakan ini dapat berkembang secara bertahap.

Program ini juga mengajak masyarakat memanfaatkan halaman rumah sebagai kebun gizi. Menariknya, warga tidak harus memiliki lahan yang luas karena berbagai media tanam dapat dimanfaatkan, seperti polybag, botol plastik, kaleng bekas, maupun sistem hidroponik. Beragam sayuran yang cepat panen, seperti bayam dan pakcoy, hingga tanaman cabai dan tomat direncanakan menjadi tanaman uji coba. Selain menghasilkan bahan pangan segar untuk keluarga, cara ini juga menjadi salah satu bentuk pemanfaatan barang bekas agar lebih bernilai guna.

Kolaborasi Warga dan PKK Jadi Kunci Gerakan

Keberhasilan Gerakan KERAN GIWARI tentu tidak bisa berjalan hanya mengandalkan satu pihak saja. Program ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari Kelompok Wanita Tani, pengurus Pokja TP PKK di tingkat kelurahan dan RW, hingga kader-kader yang nantinya menjadi pionir dalam menggerakkan warga. Sebagai tahap awal, RW 6 direncanakan menjadi lokasi percontohan sebelum program diperluas ke seluruh tujuh RW di Kelurahan Kecandran. Harapannya, pemanfaatan lahan di sekitar rumah dapat menjadi kebiasaan yang tumbuh di setiap lingkungan.

Agar pelaksanaannya lebih terarah, setiap Pokja juga memiliki peran yang saling melengkapi. Pokja I dan II akan berfokus pada edukasi, pelatihan, serta pembinaan kader pionir. Sementara itu, Pokja III bertanggung jawab dalam pemanfaatan lahan, pengembangan pangan, serta tata laksana rumah tangga. Adapun Pokja IV akan membantu sosialisasi kepada masyarakat dengan menggandeng Karang Taruna dan Remaja Masjid agar informasi mengenai Gerakan KERAN GIWARI dapat menjangkau lebih banyak warga.

Ilustrasi kumpulan ibu-ibu mengenakan jarik, caping, dan membawa ceret (Mufid Majnun/unsplash)

Meski begitu, pelaksanaan program tentu tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satunya adalah mendorong partisipasi masyarakat agar semakin merata serta memastikan ketersediaan sarana pendukung di setiap wilayah. Karena itu, kolaborasi dengan ketua RT, tokoh masyarakat, serta penguatan peran kader Dasawisma menjadi langkah yang direncanakan untuk memperluas keterlibatan warga sekaligus memastikan Gerakan KERAN GIWARI dapat berjalan secara berkelanjutan.

Rundown Rencana Pelaksanaan Gerakan KERAN GIWARI

Agar pelaksanaannya berjalan sesuai tahapan yang telah direncanakan, Gerakan KERAN GIWARI memiliki rundown kegiatan sebagai berikut:

  • 2–3 Juli 2026 – Pembentukan tim efektif.
  • 6 Juli 2026 – Koordinasi dengan para pemangku kepentingan.
  • 7–9 Juli 2026 – Penyusunan modul dan petunjuk teknis Gerakan KERAN GIWARI.
  • 10–15 Juli 2026 – Penyusunan sekaligus pengembangan konsep gerakan.
  • 16–21 Juli 2026 – Pelatihan urban farming dan pembuatan pupuk organik cair.
  • 22–27 Juli 2026 – Penyusunan buku saku digital, infografis, serta video pendek sebagai media sosialisasi.
  • 28–29 Juli 2026 – Uji coba Gerakan KERAN GIWARI.
  • 6–7 Agustus 2026 – Sosialisasi kepada masyarakat.
  • 10–14 Agustus 2026 – Implementasi program di lapangan.
  • 15–21 Agustus 2026 – Monitoring dan evaluasi pelaksanaan program.

Teman Setia, membangun ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas atau modal yang besar. Halaman rumah yang selama ini belum dimanfaatkan pun bisa menjadi sumber pangan sehat jika dikelola dengan baik. Melalui Gerakan KERAN GIWARI, masyarakat diajak untuk bersama-sama belajar, menanam, dan memanfaatkan hasil kebun demi memenuhi kebutuhan keluarga secara lebih mandiri.

Harapannya, gerakan ini tidak hanya menjadi sebuah program, tetapi juga mampu menumbuhkan kebiasaan baru di masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan sehat, sehingga ketahanan pangan keluarga dapat dimulai dari lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Please follow and like us:
Pin Share

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *