Menjadi astronot atau antariksawan bukanlah pekerjaan yang mudah, Teman Setia. Saat ini manusia nggak hanya menjelajahi Bulan atau Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), tetapi juga terus mengembangkan teknologi yang suatu hari nanti dapat membawa manusia ke Mars, si Planet Merah.
Nggak hanya harus melewati beberapa tes sebagai patokan layaknya seseorang untuk bisa pergi ke luar angkasa, para astronot juga harus menyadari bahaya yang melingkupi luar angkasa. Terlebih luar angkasa masih menyimpan banyak misteri yang belum terbongkar.
Untuk melindungi para penjelajah antariksa dari bahaya, lewat Human Research Program, NASA menetapkan 5 hal bahaya yang dihadapi para astronot dalam perjalanan mereka. Dalam meminimalisir bahaya tersebut, NASA menggunakan penelitian lewat kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan dalam menentukan strategi penjelajahan, loh. Sehingga keselamatan para astronot dapat terjamin baik saat di luar angkasa dan ketika kembali ke bumi.
Kira-kira kamu bisa menebak bahaya apa saja yang dihadapi oleh para astronot? Kalau belum, yuk simak 5 bahaya dalam perjalanan antariksa yang menghantui para astronot!
Radiasi Kosmik

Hal pertama yang menjadi perhatian NASA adalah radiasi kosmik yang dapat membahayakan tubuh astronot. Radiasi kosmik berasal dari partikel matahari dan bintang yang masuk ke atmosfer bumi. Terdiri dari atom-atom bermuatan tinggi seperti proton (88%), inti helium (9%), antiproton, elektron, positron, dan partikel netral (sinar gamma, neutrino, dan neutron).
Radiasi kosmik merupakan radiasi pengion di mana dapat melepaskan elektron dalam sebuah atom. Jadi, nggak heran bahayanya bila terpapar radiasi kosmik dalam jangka waktu lama. Para peneliti sudah mengkaji efek paparan radiasi bagi manusia yang dapat menyebabkan kanker, mutasi genetik, penyakit hati, katarak atau kerusakan sistem syaraf.
Sudah banyak studi yang dilakukan NASA dengan berbagai research center dan universitas dalam menghadapi permasalahan ini. Mulai dari protokol human radioresistance, eksperimen sel punca di ISS, Dosimetric Mapping (DOSMAP), dan lain-lain. Maka dari itu, NASA benar-benar matang untuk mempersiapkan misi berawak untuk menjelajah planet lain.
Isolasi dan Klaustrofobia

Bagi kamu yang punya fobia dengan ruang sempit (klaustrofobia) dan isolasi (autophobia), pupus sudah harapanmu kalau cita-cita kamu pingin menjadi astronot, Teman Setia. Pekerjaan astronot menuntut kamu untuk terbiasa bekerja di ruangan sempit dan terbatas. Terlebih pada misi selanjutnya masa periode yang dilakukan lebih lama dari yang pernah dilakukan. Jadi, NASA sudah memperhitungkan dan berhati-hati dalam melakukan penelitian, seleksi, dan persiapan untuk keberhasilan misi.
NASA sudah memiliki solusi dengan metode dan teknologi untuk mengatasi permasalahan dalam melakukan pekerjaan berat seperti permasalahan tidur (kurangnya jam tidur dan perubahan sklus tidur), perbedaan kultur, dan rasa bosan yang dialami astronot supaya tidak mengganggu misi. Jadi astronot nggak hanya berfokus pada tugasnya tapi juga terlibat dalam aktivitas yang relevan sepreti belajar bahasa baru, belajar keterampilan medis, sampai berkebun untuk stok makanan mereka nantinya.
Jauh dari Bumi
Terkadang kita merasa home sick atau pingin pulang bila berada di tempat asing begitu lama. Hal ini juga berlaku untuk para astronot yang harus tinggal jauh dari bumi, terlebih mereka nggak bisa asal pulang begitu saja dalam misinya. Berbeda dengan para astronot yang berada di ISS, mereka bisa kembali dalam hitungan jam ataupun hari, bila nanti kita melakukan perjalanan antraplanet atau eksplorasi luar angkasa jauh (deep space) sudah beda cerita lagi karena memakan waktu berbulan-bulan sampai tahunan.
Selain masalah waktu, masalah supply seperti makanan, perlengkapan, dan obat-obatan juga terbatas. Ketika berada di ISS, para astronot mendapatkan kargo supply secara rutin, di misi masa depan tentunya beda cerita, Teman Setia. Mereka harus bawa banyak barang sekaligus sejak awal karena nggak ada opsi resupply di tengah jalan.
Jarak yang luar biasa jauh ini juga memutus bantuan instan dari kendali misi di Bumi. Delay komunikasi radio bisa memakan waktu belasan hingga puluhan menit, tergantung seberapa jauh pesawat bergerak dari Bumi. Artinya, kalau terjadi kendala teknis atau medis yang kritis, para astronot nggak bisa menunggu jawaban dari Bumi. Mereka dituntut mandiri dan mampu mengambil keputusan krusial seketika demi bertahan hidup.
Gravitasi

Siapa nih yang pingin merasakan melayang di luar angkasa?
Walau kesannya menyenangkan, tapi efek gravitasi yang lemah ternyata berbahaya buat kesehatan, loh Teman Setia! Para astronot mengalami perubahan pada tubuhnya, seperti cairan di dalam tubuh bergeser naik dan menumpuk di area dada dan kepala, berkurangnya kepadatan tulang, sendi dan otot melemah, risiko batu ginjal sampai mata rabun. Selain itu, kalau nantinya mereka mendarat di planet lain, mereka juga harus beradaptasi lagi dengan kekuatan gravitasi yang berbeda-beda
Maka dari itu pelatihan yang dilakukan oleh astronot nggak main-main dan intens untuk membiasakan tubuh astronot dalam waktu yang lama. Jadi, nggak heran betapa beratnya pelatihannya. Untuk itu, NASA dan Food and Drug Administration (FDA) bekerja sama dalam penelitian dan mengembangkan obat-obatan serta alat medis khusus di antariksa. NASA juga melakukan pemeriksaan sebelum dan sesudah penerbangan supaya mengetahui perubahan apa saja yang terjadi, Teman Setia.
Pemeriksaan ketat juga dilakukan sebelum dan sesudah penerbangan, Teman Setia. Gunanya untuk memantau perubahan fisik astronot dan menyusun menu latihan pribadi agar tubuh mereka bisa kembali bugar saat pulang ke Bumi.
Lingkungan Tertutup dan Keras

Hidup di Bumi saja sudah terasa sulit dan keras, apa lagi kalau nanti kita hidup di luar angkasa? Manusia sepenuhnya bergantung pada ekosistem buatan di dalam wahana antariksa. Dan kalau teknologi penopang hidupnya bermasalah sedikit saja, taruhannya adalah nyawa.
Hidup berbulan-bulan di dalam ruangan sempit yang tertutup nggak hanya menguji kesehatan mental para astronot, tetapi juga fisik mereka. Lingkungan yang ekstrem dan penuh tekanan ini rupanya dapat memicu penurunan sistem kekebalan tubuh. Penelitian menunjukkan adanya perubahan aktivitas abnormal pada sel imun yang disebut sel T regulator, membuat tubuh astronot jadi lebih rentan terserang penyakit atau mengalami aktivasi virus yang semula tidur.
Untuk itu, NASA benar-benar memperhitungkan desain habitat luar angkasa demi kenyamanan psikologis dan efisiensi ruang gerak para astronot. Kualitas udara, suhu, pencahayaan, hingga mikroba di dalam pesawat dipantau secara ketat. Bahkan, sebelum peluncuran dilakukan, para astronot wajib mendapatkan vaksinasi lengkap dan menjalani karantina ketat agar mereka benar-benar bersih dari virus Bumi saat memulai misi.
Meski terkesan seperti film sci-fi, kenyataannya kita bisa menjelajahi luar angkasa walau memakan waktu yang lama berkat berbagai penelitian dan uji coba yang matang. Terlebih saat ini perkembangan industri antariksa sudah semakin maju dengan keterlibatan pihak swasta yang mulai membuka layanan penerbangan komersial.
Kira-kira kamu tertarik enggak nih buat ikutan mencicipi perjalanan ke luar angkasa suatu saat nanti, Teman Setia?

No responses yet