Puisi legendaris karya Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, ternyata bisa menjelma jadi untaian nada yang magis di tangan solois asal Medan, Niesya Harahap. Lewat singel ketiganya yang bertajuk “Aku Melihat Indonesia”, Niesya meramu teks puisi historis tersebut menjadi sebuah komposisi musik yang megah bergenre World Music, lengkap dengan sentuhan etnik Celtic hingga tabuhan Gordang Sambilan khas Mandailing. Dirilis pada 14 Agustus 2020 untuk menyambut HUT ke-75 RI, lagu ini lahir dari kekaguman mendalam Niesya terhadap pemikiran Bung Karno setelah ia melahap berbagai buku sejarah koleksi orang tuanya.
Menyimak trek ini gak bakal sama dengan mendengarkan lagu nasionalis biasa yang cenderung seremonial. Di bawah payung Rumah Musik Suarasama, Niesya berhasil menerjemahkan bait-bait kontemplatif Bung Karno mengenai keindahan alam, keberagaman suku, hingga binar mata anak-anak desa menjadi sebuah harmoni yang bikin merinding. Buat Teman Setia yang ingin merasakan cara baru dalam mencintai tanah air lewat perpaduan seni sastra dan musik etnik yang berkelas.
Pstt… kamu bisa banget request lagu Niesya – Aku Melihat Indonesia di acara TAMIA (Taman Mini Anak) pukul 09.00 – 10.00 WIB, ya Teman Setia!
Jikalau aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar Lautan Hindia bergelora
membanting di pantai Ngliyep itu
Aku mendengar lagu, sajak Indonesia
Jikalau aku melihat
sawah-sawah yang menguning-menghijau
Aku tidak melihat lagi
batang-batang padi yang menguning menghijau
Aku melihat Indonesia
Jikalau aku melihat gunung-gunung
Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Merbabu
Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Kelebet
dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia
Jikalau aku mendengarkan
Lagu-lagu yang merdu dari Batak
bukan lagi lagu Batak yang kudengarkan
Aku mendengarkan Indonesia
Jikalau aku mendengarkan Pangkur Palaran
bukan lagi Pangkur Palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia
Jikalau aku mendengarkan lagu Olesio dari Maluku
bukan lagi aku mendengarkan lagu Olesio
Aku mendengar Indonesia
Jikalau aku mendengarkan burung Perkutut
menyanyi di pohon ditiup angin yang sepoi-sepoi
bukan lagi aku mendengarkan burung Perkutut
Aku mendengarkan Indonesia
Jikalau aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia
Jikalau aku melihat wajah anak-anak
di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar
“Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!”
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia

No responses yet