Persoalan sampah menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama. Kebiasaan membuang sampah tanpa memilahnya terlebih dahulu tidak hanya membuat tempat pembuangan semakin penuh, tetapi juga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Padahal, sebagian sampah yang dihasilkan sehari-hari masih bisa dimanfaatkan kembali jika dikelola dengan cara yang tepat. Karena itu, perubahan kebiasaan sederhana dari rumah bisa menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih.

Untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam mengatasi persoalan tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Salatiga menghadirkan inovasi Smart Waste ECO-LINK RW SUKSES. Dalam Dialog Interaktif kali ini, DJ Gita Nugraha ditemani oleh Yunus Juniadi, ST, MM, MT, selaku Kepala DLH Kota Salatiga yang menjelaskan bagaimana inovasi ini dirancang untuk membangun kebiasaan memilah sampah sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Sampah Salatiga Capai 120 Ton per Hari

Berdasarkan data DLH Kota Salatiga tahun 2026, timbunan sampah di Kota Salatiga mencapai 120 ton per hari. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 45 persen yang berhasil dikelola melalui tempat pemrosesan akhir (TPA). Sementara itu, 55 persen sisanya berpotensi mencemari lingkungan, baik tanah, air, maupun udara. Tingkat sampah yang belum dipilah juga masih mencapai 72,5 persen, dengan rata-rata setiap orang menghasilkan sekitar 0,57 kilogram sampah per hari.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengandalkan petugas pengangkut maupun tempat pembuangan. Perlu ada keterlibatan masyarakat sejak sampah dihasilkan, terutama dari lingkungan rumah tangga yang menjadi salah satu sumber utama timbunan sampah.

Melihat kondisi tersebut, DLH Kota Salatiga berupaya membangun kebiasaan baru melalui Smart Waste ECO-LINK RW SUKSES. Inovasi ini menggabungkan teknologi digital, keterlibatan masyarakat di tingkat Rukun Warga (RW), serta pemberian penghargaan bagi warga yang aktif mengelola sampah.

ECO-LINK sendiri menggambarkan keterhubungan dalam ekosistem lingkungan di tingkat RW. Sementara itu, RW SUKSES merupakan singkatan dari RW Suka Kelola Sampah. Melalui program ini, masyarakat diajak untuk mulai memilah dan mengelola sampah dari rumah masing-masing.

Mengubah Sampah Menjadi Sesuatu yang Bernilai

Ilustrasi tempat sampah sesuai dengan jenisnya (boris misevic/unsplash)

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam inovasi ini adalah pemilahan sampah organik dan anorganik. Sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan dapat diolah menjadi kompos maupun dimanfaatkan untuk budidaya maggot. Sementara itu, sampah anorganik seperti botol plastik dan barang bekas tertentu masih memiliki nilai jual sehingga tidak harus berakhir di tempat pembuangan.

DLH mendorong agar sampah anorganik yang sudah dikumpulkan warga dapat dikelola melalui RW. Hasil penjualannya nantinya bisa dimanfaatkan sebagai tambahan kas RW. Bahkan, sudah ada pengelolaan sampah yang hasil penjualannya dikonversikan menjadi emas.

Untuk mempermudah proses pengelolaan dan penjualan, DLH juga berencana membuat nota kesepahaman (MoU) dengan pihak pengambil atau pengelola sampah. Dengan begitu, warga tidak perlu kesulitan mencari pembeli untuk sampah anorganik yang sudah dikumpulkan.

Menurut Bapak Yunus, inovasi ini bukan sekadar membuat sistem pengelolaan sampah, tetapi juga membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat. Warga yang sudah memiliki kesadaran untuk memilah sampah perlu terus didorong, salah satunya melalui pemberian penghargaan agar semakin banyak masyarakat yang ikut berpartisipasi.

Info 💡: Mengacu pada Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2024 dengan tetap memperhatikan kebijakan pemerintah pusat mengenai pemilahan sampah. Sampah yang sudah dipilah dapat dimanfaatkan, termasuk diberikan kepada peternak. Sementara itu, untuk ketentuan pembuangan sampah anorganik ke TPS atau TPA khusus anorganik, terdapat batas maksimal lima kilogram. Teman Setia yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut dapat menghubungi DLH Kota Salatiga.

Memanfaatkan Teknologi Digital untuk Memantau Pengelolaan Sampah

Salah satu pembaruan dalam inovasi ini adalah penggunaan teknologi digital untuk memantau kegiatan pengelolaan sampah di setiap RW. DLH berencana menyediakan portal melalui website yang dapat digunakan oleh admin RW maupun Satgas Sampah untuk mencatat jumlah dan berat sampah berdasarkan jenisnya.

Melalui portal tersebut, perkembangan pengelolaan sampah dapat dipantau secara lebih terukur. Data yang masuk juga akan membantu DLH mengetahui RW mana saja yang aktif melakukan pemilahan dan pengelolaan sampah, sekaligus melihat capaian masing-masing wilayah.

Data tersebut nantinya menjadi salah satu dasar pemberian penghargaan kepada RW yang berhasil menjalankan pengelolaan sampah dengan baik. Dengan demikian, penilaian tidak hanya berdasarkan kegiatan yang dilakukan, tetapi juga didukung oleh catatan hasil pengelolaan sampah.

Meski menggunakan teknologi digital, DLH berupaya membuat portal sesederhana mungkin agar mudah digunakan. Pengisian direncanakan dilakukan setiap bulan oleh admin yang ditunjuk dan dapat diakses melalui telepon genggam.

Bagi RW yang belum terbiasa menggunakan teknologi, DLH akan memberikan pendampingan setelah portal siap digunakan. Komunikasi dengan Satgas Sampah juga akan dibantu melalui grup WhatsApp agar koordinasi dan penyampaian informasi dapat berjalan lebih mudah.

Melibatkan 214 RW Secara Bertahap

Ilustrasi seorang ibu yang tengah memilah sampah (Bamban heru/unsplash)

Inovasi Smart Waste ECO-LINK RW SUKSES direncanakan melibatkan seluruh 214 RW yang ada di Kota Salatiga. Namun, pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dengan memulai proyek percontohan atau pilot project di 23 RW.

Dalam pelaksanaannya, DLH akan melihat kesiapan masing-masing RW, termasuk keberadaan satuan tugas (Satgas) Sampah yang bertugas menggerakkan masyarakat. Apabila belum terbentuk, DLH akan membantu proses pembentukannya. Sementara RW yang sudah memiliki kegiatan pengelolaan sampah akan didorong agar semakin berkembang melalui inovasi ini.

Pendekatan tersebut dilakukan karena setiap RW memiliki kebiasaan dan kondisi lingkungan yang berbeda. Artinya, program ini tidak harus dimulai dari nol, tetapi dapat menyesuaikan dengan kegiatan pengelolaan sampah yang sudah berjalan.

Selain masyarakat dan Satgas Sampah, DLH juga berencana melibatkan local hero atau tokoh penggerak lingkungan di masing-masing wilayah. Kehadiran mereka diharapkan dapat membantu memberikan edukasi sekaligus mengajak warga untuk lebih peduli terhadap sampah.

Sosialisasi dan Penghargaan untuk Meningkatkan Partisipasi Warga

Selain menyiapkan sistem digital, DLH juga menempatkan sosialisasi sebagai bagian penting dari pelaksanaan inovasi. Pasalnya, masih ada sejumlah persoalan yang perlu diselesaikan, mulai dari kebiasaan memilah sampah rumah tangga yang belum optimal, keterbatasan pengetahuan masyarakat, hingga belum meratanya pemanfaatan sampah menjadi produk bernilai ekonomi.

Ketersediaan pasar dan kepastian harga hasil pengolahan sampah juga menjadi perhatian. Di sisi lain, keterbatasan sumber daya manusia untuk melakukan pendampingan membuat DLH perlu membangun kerja sama dengan berbagai pihak.

Karena itu, keberhasilan program ini membutuhkan sinergi antara DLH, pemerintah kecamatan dan kelurahan, Satgas Sampah, masyarakat, hingga perusahaan atau pengelola sampah. Beberapa perusahaan bahkan sudah menawarkan diri untuk berkolaborasi dalam mendukung pemberian penghargaan kepada RW yang aktif mengelola sampah.

Program ini telah melalui tahap pre-launching pada 9 Oktober 2026 dengan melibatkan 23 RW. Selanjutnya, pada 29 Oktober 2026, kegiatan peluncuran dilaksanakan di Ruang Kaloka dengan melibatkan para pemangku kepentingan dan 52 RW.

Sebagai bentuk dorongan bagi masyarakat, pemberian penghargaan direncanakan pada 25 November 2026. Melalui penghargaan tersebut, setiap RW diharapkan semakin termotivasi untuk mengembangkan pengelolaan sampah di wilayahnya.

Pemerintah Kota Salatiga juga berupaya mendukung gerakan ini melalui berbagai langkah nyata. Salah satunya dengan rencana pembuatan biopori berukuran besar di beberapa RW untuk mengolah sampah organik, terutama bagi warga yang tidak memiliki lahan cukup di rumahnya.

Info 💡: Teman Setia juga didorong untuk mengolah sampah organik secara mandiri melalui pembuatan biopori di rumah. Bahkan dapat memanfaatkan galon bekas yang ditanam di tanah sebagai tempat pengolahan sampah organik. Untuk mendukung gerakan ini, DLH Kota Salatiga bersama DP3APPKB dan TP PKK turut menginisiasi program Ratu Ngebor guna mendorong pembuatan biopori di lingkungan masyarakat.

Keberhasilan Smart Waste ECO-LINK RW SUKSES tidak hanya bergantung pada teknologi maupun program yang dijalankan pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat. Yunus mengajak seluruh warga untuk mulai memilah sampah sesuai jenisnya dan memanfaatkan kembali sampah yang masih memiliki nilai guna. DLH Kota Salatiga berharap seluruh pihak dapat bersinergi dalam menyelesaikan persoalan sampah, sehingga lingkungan tetap bersih dan sehat untuk generasi mendatang.

Jadi, Teman Setia, yuk mulai memilah sampah dari rumah. Sebab, perubahan besar bisa dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan bersama-sama.

Please follow and like us:
Pin Share

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *