
Banyak orang mengenal Salatiga sebagai kota yang sejuk, nyaman, dan memiliki panorama alam yang indah. Namun, di balik keindahannya itu, nggak semua orang mengetahui bahwa Salatiga juga menyimpan beragam kekayaan budaya yang menarik untuk disimak. Sebagai kota tertua kedua di Indonesia, Salatiga nggak hanya menyimpan jejak sejarah panjang, tetapi juga terus melahirkan karya-karya budaya yang merepresentasikan identitas lokalnya.
Kira-kira kamu tahu nggak, nih Teman Setia apa saja budaya yang dimiliki oleh Salatiga? Nah, kali ini kita bakal membahas salah satu di antaranya, yaitu Tari Jurit Ampil Kridha Warastra, tarian yang menyimpan sejumlah fakta unik loh. Yuk simak infonya!
1. Mengisahkan tentang Perjanjian Salatiga
Ternyata tarian ini based on true event, Teman Setia. Tari Jurit Ampil Kridha Warastra mengisahkan Perjanjian Salatiga yang terjadi pada tanggal 17 Maret 1757 di Gedung Pakuwon, Kota Salatiga. Perjanjian ini menjadi lanjutan dari permasalahan Perjanjian Giyanti yang menandai berakhirnya konflik panjang di tubuh Kesultanan Mataram.
Melalui perjanjian tersebut, wilayah Mataram kemudian dibagi menjadi tiga kekuasaan, yaitu Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, dan Kadipaten Mangkunegaran. Tokoh-tokoh penting seperti Mangkunegara I, Hamengkubuwana I, dan Pakubuwana III turut terlibat, bersama pihak VOC.
Menariknya, meskipun berangkat dari peristiwa abad ke-18, tarian ini justru merupakan tari kreasi baru yang diciptakan pada tahun 2007 di Kota Salatiga, dilansir dari jurnal Penerapan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Tari Jurit Ampil Kridha Warastra, Teman Setia.
2. Menampilkan kesatuan prajurit putri para selir
Tari Jurit Ampil Kridha Warastra nggak hanya menarik dari segi gerak, tetapi juga menyimpan makna mendalam di balik setiap istilah yang digunakan. Kata jurit berarti prajurit, garwa ampil merujuk pada selir dari Mangkunegara I, sedangkan warastra berarti gendewa atau busur panah. Ketiga istilah ini menggambarkan sosok perempuan yang nggak hanya hadir sebagai bagian dari lingkungan keraton, tetapi juga memiliki peran dalam menunjukkan kesiapan dan kekuatan.
Makna tersebut kemudian diwujudkan melalui gerak tari yang memadukan gaya klasik Surakarta dengan unsur tari rakyat. Perpaduan ini menghasilkan karakter gerakan yang tegas namun tetap luwes, mencerminkan sosok prajurit putri yang tangguh sekaligus anggun. Tarian ini pun bersifat fleksibel karena dapat ditampilkan secara tunggal, berpasangan, maupun berkelompok atau beregu, sesuai dengan kebutuhan pertunjukan.
Tarian ini juga menggambarkan pasukan garwa ampil yang sedang berlatih perang. Hal ini nggak terlepas dari konteks sejarah Perjanjian Salatiga, di mana pihak-pihak yang terlibat pada masa itu menunjukkan kekuatan pasukannya masing-masing. Dalam hal ini, Mangkunegara I turut menghadirkan pasukan Jurit Ampil sebagai simbol kesiapan dan kekuatan, yang kemudian divisualisasikan kembali melalui tarian ini.
3. Bentuk tarian lepas dengan busana keprajuritan
Salah satu daya tarik utama Tari Jurit Ampil Kridha Warastra terletak pada busana yang dikenakan para penarinya. Para penari tampil sebagai prajurit putri dengan rambut bergelung kecil, dilengkapi baju, sabuk, dodot, dan celana yang mempertegas kesan tangguh namun tetap anggun. Nggak hanya itu, mereka juga membawa berbagai perlengkapan senjata seperti endhong jemparing, nyenyep, gendewa, dan cundrik yang semakin memperkuat karakter keprajuritan dalam tarian ini.
Dari segi penyajian, tarian ini termasuk dalam bentuk tarian lepas, sehingga dapat ditampilkan secara fleksibel, baik secara tunggal, berpasangan, maupun berkelompok. Fleksibilitas ini membuat Tari Jurit Ampil Kridha Warastra dapat disesuaikan dengan berbagai kebutuhan pertunjukan tanpa menghilangkan nilai dan makna yang terkandung di dalamnya.
Sementara itu, gerakan tari merupakan perpaduan antara gaya klasik Surakarta dan gerak tari rakyat yang menghasilkan karakter gerakan tegas namun tetap luwes. Gerakan tersebut diiringi oleh gamelan Jawa laras pelog yang meliputi ricikan seperti gender, kendhang, demung, saron, kenong, kempul, dan gong, dengan bentuk gendhing lancaran, srepeg, dan palaran yang memperkuat suasana pertunjukan.
4. Mengandung Nilai-Nilai Pendidikan Karakter
Nggak hanya soal keindahan dan sejarah, Tari Jurit Ampil Kridha Warastra juga mengandung nilai-nilai pendidikan karakter yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan jurnal yang sama, terdapat tujuh nilai utama yang terkandung dalam tarian ini, yaitu religius, disiplin, kerja keras, rasa ingin tahu, cinta tanah air, bersahabat dan komunikatif, serta tanggung jawab.
Nilai religius terlihat dari gerakan sembahan dan makna tembang yang mengiringinya, yang mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan. Nilai disiplin tercermin dalam gerakan jurus yang harus dilakukan secara tepat dan serempak. Sementara itu, kerja keras tampak pada gerakan srisig yang membutuhkan latihan berulang, serta proses belajar tari yang nggak instan.
Selain itu, rasa ingin tahu muncul melalui gerakan yang mendorong penari untuk terus mengeksplorasi makna di balik tarian. Nilai cinta tanah air tercermin dari makna tembang yang menggambarkan semangat melindungi Ibu Pertiwi. Sikap bersahabat dan komunikatif terlihat dari kerja sama antar penari, sedangkan tanggung jawab tercermin dari penggunaan kostum dan properti yang harus dijaga dengan baik.
Gimana nih, Teman Setia, sekarang sudah tahu tentang Tari Jurit Ampil Kridha Warastra, bukan? Unik bukan salah satu tari khas Salatiga ini!
Tari Jurit Ampil Kridha Warastra nggak hanya menampilkan keindahan gerak dan busana, tetapi juga menyimpan makna serta nilai-nilai karakter yang bisa kita pelajari. Mulai dari disiplin, kerja keras, sampai rasa cinta terhadap budaya, semuanya tercermin dalam setiap gerakannya. Jadi, Teman Setia, budaya seperti ini nggak hanya untuk dinikmati, tapi juga penting untuk kita kenali, jaga, dan lestarikan bersama agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Penulis :Widya P
Editor: Enggar

No responses yet