Salatiga dikenal sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia karena masyarakatnya yang hidup rukun meskipun berasal dari beragam latar agama dan budaya. Sebagai kota dengan latar belakang masyarakat yang majemuk, Salatiga terbiasa dengan berbagai perayaan keagamaan dan budaya yang bukan hanya sarat makna, tetapi juga menjadi ruang hiburan bagi masyarakat.
Nah, dari semangat itulah sebuah acara menarik bernama ‘Salatiga Beda Festival 2026’ digagas di mana sebuah perayaan yang memadukan ekspresi seni, musikalitas, dan keberagaman dalam satu panggung besar yang menyenangkan. Bersama Dj Gita Nugraha dan Valentino Haribowo selaku Ketua DPC PAPPRI Kota Salatiga berbincang-bincang seputar ‘Salatiga Beda Festival 2026’ yang siap memeriahkan Kota Salatiga.
Salatiga Beda Festival: Dari Predikat Kota Toleran ke Aksi Nyata di Panggung Budaya
Salatiga bukan sekadar kota kecil dengan masyarakat yang beragam. Pemerintah Kota Salatiga secara terbuka menegaskan komitmennya untuk terus menjadi salah satu kota dengan indeks toleransi terbaik di Indonesia. Komitmen itu bahkan disampaikan langsung oleh Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan, saat menghadiri Konferensi Kota Toleran 2025 di Singkawang.
Dalam forum nasional itu ditegaskan bahwa menjaga keberagaman bukan hanya soal retorika, tetapi tentang membangun ekosistem toleransi yang berkelanjutan melalui kolaborasi lintas daerah dan lintas sektor. Partisipasi aktif Salatiga dalam konferensi tersebut sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu role model kota toleran di Indonesia. Namun, bila melihat dari pilar keberagaman agama, berbagai komunitas sudah cukup terwadahi dalam event besar kota.
Lalu bagaimana dengan pilar etnis? Di sinilah gagasan Salatiga Beda Festival muncul, Teman Setia.
Pak Valentino menilai, etnis Tionghoa sebagai bagian dari masyarakat Salatiga masih belum banyak muncul di ruang publik dalam skala event besar. Padahal, penguatan ekosistem toleransi harus melibatkan semua unsur secara setara tanpa lagi membedakan mayoritas dan minoritas.
Kata “Beda” dalam Salatiga Beda Festival bukan sekadar berarti berbeda secara harfiah saja Teman Setia, tetapi merupakan akronim dari Bergerak, Enerjik, Dinamis, Akomodatif. Jadi, kata “Beda” bukan untuk memisahkan, tapi justru untuk menegaskan bahwa perbedaan itu adalah kekuatan yang merupakan sebuah kebanggaan yang patut dirayakan bersama.
One Stop Show: Imlek, UMKM, Musik, dan Bakti Sosial dalam Satu Panggung
Salatiga Beda Festival 2026 akan digelar pada 13, 14, dan 15 Februari 2026 mulai pukul 09.00 – 21.00 WIB di kompleks halaman DPRD Kota Salatiga. Momentum ini dipilih berdekatan dengan perayaan Imlek dan Cap Go Meh.
Tahun ini bertepatan dengan shio Kuda Api yang secara filosofis melambangkan kreativitas, dinamika, dan kolaborasi. Konsep acara pun dirancang sebagai One Stop Show: satu lokasi, berbagai kegiatan, untuk semua kalangan. Festival ini dirancang bukan sekadar menjadi acara hiburan, tetapi juga panggung ekspresi bagi berbagai kalangan mulai dari pelajar hingga masyarakat umum. Setiap lomba dan pertunjukan dipilih dengan pertimbangan budaya, kreativitas, sekaligus daya tarik publik.
A. Mandarin Song Festival
Kompetisi ini menjadi salah satu highlight acara. Peserta akan membawakan lagu-lagu berbahasa Mandarin, baik lagu klasik maupun populer, dengan dua kategori: pelajar dan umum. Babak final nantinya akan digelar di panggung utama dengan konsep festival, lengkap dengan tata panggung dan sistem penilaian profesional.
B. Fashion Show
Fashion show ini menampilkan busana dengan sentuhan budaya Tionghoa, seperti cheongsam modern maupun kreasi kontemporer bernuansa oriental. Para peserta tentunya akan beradu kreativitas dan tampil percaya diri dengan hasil kreasinya.
C. Line Dance
Saat ini, line dance telah menjadi cabang olahraga (CabOr) yang dipertandingkan dalam Pekan Olahraga Nasional (PON). Dalam festival ini, Line Dance menjadi kombinasi unik antara olahraga, seni gerak, dan budaya dengan balutan lagu-lagu bernuansa Mandarin.
D. Lomba Menggambar & Mewarnai
Untuk lomba menggambar dikhususkan untuk anak kelas 1-3, sedangkan lomba mewarnai dikhususkan untuk anak TK. Tema yang diangkat tentu masih berkaitan dengan Imlek, toleransi, dan kebersamaan.
E. Lomba Membuat Lampion
Lampion menjadi salah satu simbol khas dalam perayaan Imlek. Dalam festival ini, peserta akan berkompetisi membuat lampion dengan kreativitas masing-masing. Yang menarik, hasil karya peserta tidak berhenti sebagai objek lomba saja. Lampion-lampion tersebut akan dipajang di sekitar venue acara, sehingga para pengunjung dapat merasakan atmosfer Imlek yang kuat serta dapat mengapresiasi langsung hasil lampion peserta.
F. Pertunjukan Barongsai
Kurang afdol rasanya bila perayaan Imlek tanpa barongsai. Pertunjukan ini akan menjadi daya tarik utama di panggung pembukaan maupun sela-sela acara.
G. Bakti Sosial
Mulai dari kegiatan donor darah dengan target 40 kantong yang bekerja sama dengan PMI, pembagian sembako gratis yang ditujukan kepada kaum duafa dan yang kurang beruntung, pemeriksaan gratis yang bekerja sama dengan Puskesmas Kalicacing, hingga potong rambut gratis bekerja sama dengan Gereja Bethel Area bisa Teman Setia manfaatkan.
H. Gebyar UMKM Halal
Dengan menargetkan 60 pelaku usaha, Salatiga Beda Festival akan meramaikan area bazar selama tiga hari penyelenggaraan. Produk yang ditampilkan pun beragam, mulai dari kuliner, fashion, kerajinan tangan, hingga produk kreatif lainnya. Yang menarik, seluruh produk kuliner dipastikan halal. Ini menjadi penegasan bahwa festival bernuansa budaya Tionghoa tetap dirancang inklusif dan nyaman untuk seluruh masyarakat Salatiga
Panitia mengusung konsep One Stop Show, yakni memusatkan seluruh rangkaian acara kompetisi, pertunjukan, kegiatan sosial, hingga bazar dalam satu lokasi agar pengunjung yang datang untuk satu agenda bisa sekaligus menikmati agenda lainnya. Harapannya, pengunjung tidak hanya datang menonton lalu pulang, tetapi juga berinteraksi dengan tenant UMKM sehingga tercipta perputaran ekonomi yang nyata.
Kolaborasi Hexahelix, Maksimal Sinergi
Festival ini dibangun dengan semangat kolaborasi lintas sektor, bukan semata-mata bergantung pada satu sumber pendanaan. Pemerintah Kota dan DPRD memberikan dukungan dari sisi kebijakan serta fasilitas ruang publik, sementara DPC PAPPRI dan PSMTI menjadi motor penggerak komunitas dan konten acara. Media mengambil peran dalam publikasi dan amplifikasi pesan, sedangkan pelaku usaha serta UMKM dilibatkan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang bergerak bersama.
Konsep hexahelix ini di mana pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat saling menguatkan peran masing-masing. Dengan pola tersebut, Salatiga Beda Festival tidak diposisikan sebagai proyek satu pihak, melainkan sebagai perayaan bersama yang tumbuh dari partisipasi kolektif. Justru dari sinilah kekuatan festival ini dibangun dengan rasa memiliki yang sama dari berbagai elemen kota.
Pada akhirnya, Salatiga Beda Festival 2026 bukan sekadar rangkaian lomba atau hiburan tahunan, melainkan wujud nyata dari penguatan ekosistem toleransi yang selama ini digaungkan. Jika konferensi kota toleran menjadi ruang diskusi dan perumusan kebijakan, maka festival ini menghadirkan praktiknya langsung di ruang publik, di tengah masyarakat. Di panggung budaya inilah komitmen itu diterjemahkan menjadi interaksi, kolaborasi, dan perayaan bersama. Karena di Salatiga, “beda” bukan alasan untuk berjarak, melainkan alasan untuk saling mendekat dan tumbuh bersama. Ayo, jangan lupa ikut berpartisipasi ya Teman Setia~

No responses yet