Banyak orang merasa dirinya sehat karena tidak merasakan keluhan apa pun. Aktivitas sehari-hari berjalan normal, tubuh terasa bugar, dan tidak ada rasa sakit yang mengganggu. Namun, kondisi tersebut belum tentu menandakan tubuh benar-benar bebas dari penyakit. Ada sejumlah gangguan kesehatan yang berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas, salah satunya adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Hipertensi menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian karena dapat memicu berbagai komplikasi serius. Dalam NGOBRAS kali ini, Dj Gita Nugraha akan ditemani dr. Ronny Mahendra Aditya, Sp.PD dari RS Hermina Blotongan Salatiga, membahas tentang hipertensi, mulai dari penyebab, gejala, cara pencegahan, hingga pentingnya pemeriksaan tekanan darah secara rutin.

Apa itu Hipertensi dan Kenapa Bisa Terjadi?

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan kondisi ketika tekanan darah seseorang berada di atas batas normal. Seseorang dikatakan mengalami hipertensi apabila tekanan darah sistolik berada di atas 130 mmHg atau tekanan darah diastolik di atas 80 mmHg. Bahkan, dr. Ronny menjelaskan, jika hanya salah satu angka yang melebihi batas tersebut, kondisi tersebut sudah termasuk hipertensi.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan hipertensi pada seseorang, seperti:

1. Kelebihan berat badan (obesitas)
Orang dengan berat badan berlebih memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi. Menurut dr. Ronny, tubuh yang lebih besar membutuhkan aliran darah yang lebih banyak untuk menjangkau seluruh jaringan tubuh. Kondisi ini membuat tekanan pada pembuluh darah meningkat sehingga tekanan darah cenderung lebih tinggi.

2. Gangguan pada pembuluh darah
Hipertensi juga dapat terjadi akibat adanya masalah pada pembuluh darah. dr. Ronny mengibaratkannya seperti selang air yang tertekan atau menyempit. Ketika ruang aliran darah menjadi lebih sempit, tekanan yang dihasilkan akan meningkat.

3. Kebiasaan merokok
Zat-zat yang terkandung dalam rokok dapat merusak pembuluh darah dan mengganggu sistem peredaran darah. Kerusakan tersebut dapat menyebabkan tekanan darah meningkat dan memperbesar risiko terjadinya hipertensi.

4. Konsumsi natrium berlebihan
Pola makan yang tinggi natrium atau garam juga menjadi salah satu penyebab hipertensi. Natrium dapat menarik dan menahan cairan di dalam tubuh sehingga volume darah meningkat. Akibatnya, jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah dan tekanan darah pun menjadi lebih tinggi.

Pentingnya Pemeriksaan yang Benar

Namun, dalam penetapan diagnosis seseorang tidak hanya berdasarkan satu kali pemeriksaan. Jika seseorang memperoleh hasil tekanan darah tinggi saat pemeriksaan pertama, perlu dilakukan pemeriksaan ulang beberapa kali. Hal ini karena tekanan darah dapat meningkat sementara akibat rasa cemas, mengalami White Coat Hypertension atau Hipertensi Jas Putih, aktivitas fisik, atau kondisi tertentu saat pemeriksaan berlangsung.

Ilustrasi seseorang sedang mengecek tensinya (Mufid Majnun/unsplash)

Supaya hasil pemeriksaan lebih akurat, Teman Setia sebaiknya beristirahat terlebih dahulu selama lima hingga sepuluh menit setelah beraktivitas. Saat pengukuran berlangsung, tubuh harus dalam keadaan rileks, tidak berbicara, dan tidak melakukan aktivitas lain yang dapat memengaruhi tekanan darah. Selain itu, istirahat yang cukup pada malam sebelum pemeriksaan juga dapat membantu memperoleh hasil yang lebih akurat.

Selain memperhatikan cara pemeriksaan, pemilihan alat ukur tekanan darah juga perlu menjadi perhatian, Teman Setia. Saat ini tersedia berbagai perangkat yang dapat digunakan untuk mengukur tekanan darah, seperti alat tensimeter digital yang diletakkan di pergelangan tangan atau smartwatch. Sayangnya, hasil pengukuran dari perangkat tersebut belum dapat dijadikan patokan dalam mendiagnosis hipertensi. Oleh karena itu, bagi Teman Setia yang ingin memantau tekanan darah secara mandiri bisa menggunakan tensimeter digital yang dipasang pada lengan atas dan digunakan sesuai petunjuk tetap lebih dianjurkan.

Kenapa Hipertensi Disebut Silent Killer?

Hipertensi sering dijuluki sebagai silent killer atau pembunuh senyap karena pada banyak kasus tidak menimbulkan gejala yang khas. Banyak penderita merasa sehat dan tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa menyadari bahwa tekanan darahnya sudah berada di atas batas normal.

Menurut dr. Ronny, gejala spesifik hipertensi sebenarnya tidak ada. Keluhan yang paling sering dirasakan adalah nyeri pada bagian tengkuk ketika tekanan darah meningkat sangat tinggi. Namun, keluhan tersebut tidak selalu muncul pada setiap penderita. Bahkan, banyak kasus hipertensi baru diketahui setelah terjadi gangguan pada organ tubuh lainnya.

Kondisi inilah yang membuat hipertensi menjadi berbahaya, Teman Setia. Tekanan darah yang terus-menerus tinggi dapat merusak pembuluh darah dan mengganggu aliran darah ke berbagai organ penting. Akibatnya, penderita berisiko mengalami komplikasi serius seperti stroke, penyakit jantung, gangguan ginjal, hingga gangguan penglihatan akibat perdarahan pada pembuluh darah mata.

Apabila tidak terdeteksi dan tidak dikendalikan dengan baik, komplikasi tersebut dapat menurunkan kualitas hidup bahkan menyebabkan kematian. Oleh karena itu, meskipun tidak menimbulkan gejala yang jelas, hipertensi tetap perlu diwaspadai melalui pemeriksaan tekanan darah secara rutin dan penerapan pola hidup sehat.

Hipertensi Kini Mengintai Usia Produktif

Ilustrasi seorang perempuan sedang melakukan pemeriksaan tensi dengan dokter (Vitaly Gariev/unsplash)

Jika dulu hipertensi lebih sering dikaitkan dengan kelompok usia lanjut, kini kondisi tersebut juga semakin banyak ditemukan pada usia produktif. Perubahan pola hidup dan pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya kasus hipertensi pada kelompok usia yang lebih muda.

Menurut dr. Ronny, salah satu penyebab yang perlu mendapat perhatian adalah tingginya konsumsi natrium dalam makanan dan minuman sehari-hari. Kandungan natrium tidak hanya berasal dari garam dapur, tetapi juga banyak ditemukan pada makanan dan minuman olahan, makanan instan, serta berbagai produk kemasan yang menggunakan bahan pengawet. Bahkan, penyedap rasa atau MSG juga mengandung natrium yang perlu diperhitungkan dalam konsumsi harian.

Karena itu, Teman Setia harus lebih cermat dalam memperhatikan kandungan gizi pada produk yang dikonsumsi. Membaca informasi nilai gizi dan membatasi asupan natrium dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi risiko hipertensi sejak usia muda. Dengan pola makan yang lebih sehat dan gaya hidup yang aktif, risiko terkena hipertensi pada usia produktif dapat ditekan sehingga kesehatan tetap terjaga hingga usia lanjut.

Mengendalikan Hipertensi agar Terhindar dari Komplikasi

Meski menjadi salah satu penyakit tidak menular yang banyak diderita masyarakat, hipertensi bukan berarti tidak bisa dikendalikan, ya Teman Setia. Menurut dr. Ronny, hipertensi pada prinsipnya tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, tetapi dapat dikontrol agar tekanan darah tetap berada dalam batas yang aman. Karena itu, penderita perlu menjalani pengobatan dan menerapkan pola hidup sehat secara konsisten.

Perbaikan pola hidup menjadi langkah yang lebih diutamakan dalam mengendalikan penyakit hipertensi. Namun, apabila tekanan darah masih tetap tinggi meskipun sudah berupaya menjalani gaya hidup sehat, dokter dapat memberikan terapi obat. Bagi pasien yang telah mendapatkan obat hipertensi, konsumsi obat harus dilakukan secara teratur sesuai anjuran dokter dan tidak boleh dihentikan sendiri tanpa konsultasi. Jika tekanan darah belum terkontrol, dokter dapat menyesuaikan dosis maupun jenis obat sesuai kondisi pasien.

Selain menjalani pengobatan, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu mengendalikan hipertensi sekaligus mencegah terjadinya komplikasi, yaitu:

1. Menjaga berat badan tetap ideal
Kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko hipertensi karena tubuh membutuhkan aliran darah yang lebih besar untuk menjangkau seluruh jaringan. Oleh karena itu, menurunkan berat badan menjadi salah satu langkah penting dalam mengendalikan tekanan darah.

2. Membatasi konsumsi natrium
Asupan natrium yang berlebihan dapat menyebabkan tubuh menahan lebih banyak cairan sehingga tekanan darah meningkat. Mengurangi konsumsi makanan tinggi garam, makanan olahan, serta produk kemasan dapat membantu menjaga tekanan darah tetap stabil.

3. Berhenti merokok
Kebiasaan merokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko berbagai penyakit kardiovaskular. Menghentikan kebiasaan ini menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan pembuluh darah dan mengurangi risiko komplikasi hipertensi.

4. Rutin beraktivitas fisik
Olahraga dan aktivitas fisik secara teratur membantu menjaga kesehatan jantung, mengontrol berat badan, serta mendukung kestabilan tekanan darah.

5. Memeriksakan tekanan darah secara berkala
Karena hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala, pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi cara terbaik untuk memantau kondisi kesehatan dan mendeteksi perubahan tekanan darah sejak dini.

Penyakit hipertensi bukanlah penyakit yang boleh dianggap sepele hanya karena sering kali tidak menimbulkan gejala. Justru karena sifatnya yang diam-diam, banyak orang baru menyadari keberadaannya setelah muncul komplikasi yang serius. Karena itu, Teman Setia mulai biasakan memeriksa tekanan darah secara berkala, menerapkan pola hidup sehat, serta menjaga pola makan sehari-hari. Dengan langkah sederhana tersebut, Teman Setia dapat mengurangi risiko hipertensi dan menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang.

Please follow and like us:
Pin Share

Categories:

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *