Nyeri otot sering kali dianggap hal sepele, apalagi jika muncul setelah bekerja terlalu lama, salah posisi tidur, atau aktivitas yang terlalu padat. Padahal, rasa nyeri yang terus muncul dan tidak kunjung membaik bisa menjadi tanda adanya gangguan pada otot maupun saraf. Jika dibiarkan, kondisi ini tentu dapat mengganggu aktivitas sehari-hari hingga menurunkan kualitas hidup seseorang.

Dalam NGOBRAS kali ini Dj Gita Nugraha bersama dr. Martha Octavia Dewi dari RS Hermina Blotongan membahas mengenai terapi dry needle sebagai salah satu metode penanganan nyeri otot kronis. 

Mengenal Terapi Dry Needle

Dry needle adalah teknik terapi medis menggunakan jarum steril tipis tanpa menyuntikkan cairan obat apa pun ke dalam tubuh. Terapi ini berfokus penuh untuk menyasar trigger point, yaitu titik-titik simpul yang amat tegang dan mengeras pada jaringan otot pasien. dr. Martha menjelaskan bahwa ketika jarum ditusukkan tepat pada simpul tersebut, otot yang sebelumnya tegang akan perlahan dibuat lebih relaks kembali.

Biasanya terapi ini digunakan ketika Teman Setia merasa kaku di bagian seperti leher, bahu, hingga punggung bawah. Menurut dr. Martha, terapi ini banyak digunakan pada pasien yang mengalami keluhan nyeri akibat postur tubuh yang kurang baik, aktivitas berulang, hingga stres yang memicu ketegangan otot.

Bedanya Dry Needle dengan Akupuntur

Pastinya, ketika pertama kali mendengar Dry Needle, Teman Setia mengira terapi ini sama seperti akupunktur. Padahal, meski sama-sama menggunakan jarum, keduanya memiliki fungsi dan metode penanganan yang berbeda.

Pada dry needle, penusukan dilakukan langsung pada trigger point atau titik otot yang tegang untuk meredakan nyeri. Sedangkan akupunktur dilakukan pada beberapa titik tubuh tertentu untuk membantu menyeimbangkan aliran energi dan melancarkan sirkulasi tubuh.

Bila melihat dari sejarahnya, terapi dry needle ditemukan pada awal tahun 1940-an oleh dua dokter asal Amerika Serikat, yaitu Dr. Janet Travell dan Dr. David Simons. Awalnya, bentuk terapi ini menggunakan jarum suntik berisi cairan medis, namun penelitian Dr. Karel Lewit pada tahun 1979 membuktikan bahwa efek penyembuhan justru berasal dari stimulasi tusukan jarum fisik itu sendiri tanpa bantuan obat kimia.

Sedangkan teknik akupunktur berasal dari pengobatan tradisional Tiongkok kuno yang berfokus pada keseimbangan aliran energi tubuh (Qi). Penempatan jarumnya pun dilakukan pada beberapa titik tertentu di tubuh untuk membantu melancarkan aliran energi dan sirkulasi darah. Walau begitu, dry needle juga dapat membantu memperlancar aliran darah karena saat otot ditusuk, pembuluh darah ikut melebar sehingga otot menjadi lebih relaks.

Ilustrasi terapi dry needling (directorthocare.com)

Dry Needle Bukan Sekadar Ditusuk Jarum

Dry needle ternyata tidak hanya dilakukan dengan menusukkan jarum ke area tubuh yang terasa nyeri dan kaku saja, Teman Setia. dr. Martha menjelaskan bahwa setelah jarum dimasukkan ke area otot yang tegang, dokter biasanya akan melakukan gerakan seperti memutar, menggerakkan ke depan-belakang, maupun sedikit menaikkan posisi jarum. Teknik tersebut dilakukan untuk membantu melemaskan otot sekaligus memperlancar aliran darah di area yang terasa nyeri.

Saat jarum mengenai trigger point, pasien biasanya akan merasakan refleks nyeri atau kedutan kecil pada otot. Namun, setelahnya, area otot justru terasa lebih ringan dan lega. Hasil terapi biasanya mulai terasa dalam 1 hingga 2 hari setelah tindakan dilakukan.

Lama terapi pun relatif singkat. Jika ketegangan otot tidak terlalu berat, terapi bahkan dapat selesai dalam waktu 1 hingga 2 menit . Umumnya, pasien membutuhkan sekitar 2 sampai 3 sesi terapi, tergantung kondisi dan tingkat ketegangan otot yang dialami.

Efek Samping dan Hal yang Perlu Diperhatikan

Meski dikenal sebagai terapi yang minim tindakan invasif, dry needle tetap memiliki beberapa efek samping ringan yang umum terjadi setelah terapi dilakukan. dr. Martha menjelaskan bahwa pasien biasanya akan merasakan nyeri ringan pada area bekas tusukan, kemerahan, hingga munculnya memar kecil atau hematoma akibat proses penusukan jarum pada otot yang tegang. Namun, kondisi tersebut umumnya bersifat sementara dan akan membaik dengan sendirinya dalam beberapa hari.

Selain itu, saat proses terapi berlangsung, sebagian pasien juga dapat merasakan sensasi pegal, kedutan otot, hingga rasa tidak nyaman ketika jarum mengenai trigger point tertentu. Meski begitu, rasa tersebut justru menandakan bahwa titik otot yang tegang sudah ditemukan dan sedang dalam proses relaksasi.

Walau tergolong aman, terapi dry needle tetap tidak boleh dilakukan sembarangan. Sebelum tindakan dimulai, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan dan wawancara terlebih dahulu untuk memastikan kondisi pasien sesuai dengan indikasi terapi. Hal ini penting karena tidak semua jenis nyeri dapat ditangani dengan dry needle, terutama jika sumber nyeri berasal dari tulang, sendi, maupun kondisi medis tertentu lainnya.

Pentingnya Menjaga Otot Tetap Sehat

Ilustrasi nyeri otot pinggang (julien Tromeur/unsplash)

dr. Martha mengingatkan bahwa nyeri merupakan bagian dari kehidupan yang tidak bisa sepenuhnya dihindari. Namun, nyeri tidak boleh diabaikan begitu saja, terutama jika terjadi terus-menerus. Pada usia produktif, nyeri leher dan bahu banyak dipicu penggunaan gadget maupun posisi kerja yang kurang ergonomis. Karena itu, peregangan otot secara berkala setiap 30 menit hingga satu jam sangat dianjurkan untuk membantu mengurangi ketegangan otot.

Selain melakukan peregangan rutin, menjaga kesehatan otot juga dapat dilakukan dengan memperhatikan posisi tubuh saat bekerja maupun beristirahat. Posisi duduk yang baik, penggunaan kursi yang nyaman, serta pengaturan tinggi layar komputer sejajar dengan pandangan mata dapat membantu mengurangi tekanan berlebih pada leher dan bahu. dr. Martha juga mengingatkan agar masyarakat tidak memiliki kebiasaan membunyikan leher secara sembarangan karena dapat berisiko bagi kesehatan sendi dan otot.

Tak hanya itu, aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki, olahraga rutin, hingga menjaga kualitas tidur juga berperan penting dalam menjaga kondisi otot tetap sehat. Ketika tubuh kurang bergerak atau sering mengalami stres berlebihan, otot akan lebih mudah mengalami ketegangan. Karena itu, menjaga keseimbangan antara aktivitas, istirahat, dan manajemen stres menjadi hal penting untuk mencegah nyeri otot muncul berulang kali.

Nyeri otot bukanlah kondisi yang sebaiknya dianggap sepele atau terus ditahan begitu saja. Mengenali penyebab nyeri sejak awal serta menjaga kesehatan otot melalui peregangan, postur tubuh yang baik, dan pola aktivitas yang sehat menjadi langkah penting untuk mencegah keluhan semakin parah.

Bagi Teman Setia yang mulai merasakan nyeri berkepanjangan atau kekakuan otot yang tidak kunjung membaik, pemeriksaan sejak dini sebaiknya segera dilakukan. Dengan penanganan yang tepat, keluhan nyeri dapat diatasi lebih cepat sekaligus mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.

Please follow and like us:
Pin Share

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *