Menjaga tubuh tetap sehat bukan hanya soal bebas dari penyakit, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa bergerak dengan nyaman dan leluasa dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Di tengah gaya hidup modern yang cenderung minim gerak, banyak orang mulai merasakan keluhan seperti pegal, nyeri sendi, hingga keterbatasan mobilitas tanpa disadari. Padahal, kemampuan bergerak merupakan salah satu kunci utama dalam menjaga kualitas hidup secara menyeluruh.

NGOBRAS kali ini, DJ Gita Nugraha bersama Reza Arshad Yanuar, S. St. FT., selaku fisioterapis dari RSUD dr. Soebarkat Tjitrodarmodjo membahas pentingnya aktivitas fisik dalam rangka Hari Aktivitas Fisik Sedunia, yang menjadi momentum untuk mengingatkan masyarakat agar lebih aktif bergerak demi hidup yang lebih sehat. Lalu, seberapa penting sebenarnya peran gerak dalam kehidupan sehari-hari?

Gerak sebagai Fondasi Kualitas Hidup

Gerak bukan sekadar aktivitas fisik biasa, tetapi merupakan kebutuhan dasar manusia. Ketika tubuh mampu bergerak tanpa hambatan dan nyeri, maka aktivitas sehari-hari pun dapat dilakukan secara optimal. Sebaliknya, keterbatasan gerak akan berdampak langsung pada penurunan kualitas hidup, mulai dari berkurangnya produktivitas hingga terganggunya kesehatan mental.

Organisasi kesehatan dunia seperti WHO merekomendasikan aktivitas fisik minimal 30 menit per hari untuk menjaga kebugaran tubuh. Aktivitas ini tidak harus berat, Teman Setia, cukup melibatkan otot-otot besar seperti berjalan kaki, bersepeda, atau senam ringan. Kurangnya aktivitas fisik sendiri telah dikaitkan dengan berbagai risiko penyakit, seperti penyakit jantung, diabetes, hingga gangguan muskuloskeletal.

Aktivitas Fisik vs Aktivitas Harian

Ilustrasi seseorang berjalan di pagi hari (Emma Simpson/unsplash)

Masih banyak masyarakat yang menganggap pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengepel, atau mencuci sudah cukup sebagai aktivitas fisik. Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Aktivitas harian cenderung bersifat rutinitas dan dilakukan tanpa target tertentu untuk meningkatkan kebugaran, sementara aktivitas fisik dirancang secara sadar untuk melibatkan gerakan tubuh yang lebih optimal dan terukur.

Aktivitas fisik biasanya melibatkan otot-otot besar, meningkatkan denyut jantung, serta membantu pembakaran energi secara lebih efektif. Contohnya seperti jalan cepat, bersepeda, jogging, atau senam. Berbeda dengan aktivitas harian yang intensitasnya cenderung ringan dan sering kali tidak cukup untuk memberikan manfaat kebugaran secara maksimal, terutama jika dilakukan dalam waktu singkat atau dengan jeda yang tidak konsisten.

Jadi, kegiatan aktivitas sehari-hari seperti menyapu atau pun mengepel bukan aktivitas berat, meskipun tetap melibatkan otot, terutama pada bagian tangan, Teman Setia.

Dampak Kurangnya Gerak pada Tubuh

Kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, terutama pada sistem gerak. Tubuh yang jarang digunakan akan mengalami penurunan kekuatan otot, kekakuan sendi, hingga gangguan postur. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu nyeri kronis dan keterbatasan mobilitas.

Penelitian dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga menunjukkan bahwa gaya hidup sedentari meningkatkan risiko kematian dini. Selain itu, pada usia remaja hingga dewasa, kurangnya aktivitas fisik juga dapat berkontribusi pada masalah postur seperti skoliosis.

HOAX: Masih banyak mitos yang beredar di masyarakat terkait aktivitas fisik. Salah satunya adalah anggapan bahwa ketika mengalami nyeri, seseorang harus berhenti bergerak sepenuhnya. Padahal, dalam banyak kasus, gerakan yang tepat justru membantu proses pemulihan.

Peran Fisioterapi dalam Pemulihan dan Rehabilitasi

Fisioterapi memiliki peran penting dalam membantu memulihkan fungsi gerak, mengurangi nyeri, serta meningkatkan kemampuan seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari tanpa bergantung pada obat-obatan. Tidak hanya itu, fisioterapi juga berperan dalam memberikan edukasi kepada pasien agar lebih memahami kondisi tubuhnya, sehingga dapat mencegah kekambuhan di kemudian hari.

Dalam praktiknya, fisioterapi merupakan bagian dari layanan rehabilitasi medik yang memiliki cakupan lebih luas. Rehabilitasi medik tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, tetapi juga mencakup aspek mental dan sosial agar pasien dapat kembali beraktivitas secara mandiri dan optimal. Oleh karena itu, proses pemulihan ini melibatkan kolaborasi berbagai tenaga medis, mulai dari dokter spesialis, fisioterapis, hingga tenaga kesehatan lainnya.

Ilustrasi seorang pasien bersama fisioterapis (Sincerely Media/unsplash)

Fisioterapi dapat diberikan pada berbagai kondisi, mulai dari gangguan ringan hingga berat, seperti nyeri punggung dan leher, cedera olahraga, osteoarthritis, hingga kondisi neurologis seperti pasca stroke dan cedera saraf. Pada anak, fisioterapi juga diperlukan untuk menangani gangguan perkembangan seperti cerebral palsy maupun kelainan postur seperti skoliosis. Sementara pada lansia, terapi ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan tubuh dan mencegah risiko jatuh.

Di RSUD dr. Soebarkat Tjitrodarmodjo, layanan fisioterapi dilakukan melalui berbagai metode yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan yang tepat, sesuai dengan kebutuhan dan tingkat keparahan yang dialami. Selain itu, penanganan ini juga dievaluasi bersama dokter yang bersangkutan.

Cara Sederhana Menjaga Sistem Gerak Tetap Aktif

Menjaga kesehatan sistem gerak tidak harus selalu dimulai dari olahraga berat, Teman Setia. Justru, kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten memiliki dampak besar bagi tubuh. Teman Setia bisa melakukan berjalan kaki, bersepeda, atau senam ringan. Bila ingin meningkatkan intensitas aktivitas fisik dapat ditingkatkan secara bertahap sesuai dengan kemampuan tubuh, misalnya dengan menambah durasi, frekuensi, atau variasi gerakan agar tubuh tidak mudah beradaptasi. Asal dilakukan dengan kemauan dan sungguh-sungguh, ya Teman Setia.

Selain itu, penting juga untuk memperhatikan postur tubuh dalam aktivitas sehari-hari, terutama saat duduk dalam waktu lama. Usahakan posisi duduk tetap tegak dan sesekali lakukan peregangan ringan agar otot tidak kaku. Teman Setia juga disarankan untuk tidak duduk terlalu lama dengan memberi jeda setiap satu jam sekali untuk berdiri atau berjalan sejenak.

Salah satu konsep yang bisa diterapkan adalah “Minute to Move”, yaitu membiasakan diri untuk bergerak setiap satu jam sekali meskipun hanya selama 1–2 menit. Gerakan sederhana seperti peregangan leher, bahu, tangan, dan pinggang dapat membantu mengurangi ketegangan otot. Kebiasaan kecil ini terbukti efektif untuk menjaga tubuh tetap bugar, terutama di tengah aktivitas yang padat dan minim gerak.

Gerak adalah bagian penting dari kehidupan yang tidak boleh diabaikan. Ketika tubuh mulai terasa nyeri atau kaku, itu bisa menjadi sinyal bahwa tubuh membutuhkan perhatian lebih. Oleh karena itu, penting untuk mulai lebih peduli terhadap kondisi tubuh sejak dini.

Mulailah dari langkah kecil dengan meningkatkan aktivitas fisik secara bertahap dan konsisten. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami keluhan, agar dapat ditangani dengan tepat. Dengan dukungan penanganan yang sesuai, termasuk fisioterapi bila diperlukan, kualitas hidup yang lebih baik bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai.

Please follow and like us:
Pin Share

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow by Email
Instagram
Telegram