Memiliki anak menjadi salah satu harapan bagi banyak pasangan setelah menikah. Namun, tidak semua pasangan langsung mendapatkan kehamilan meskipun sudah berusaha. Kondisi ini terkadang menimbulkan kekhawatiran, terlebih ketika waktu terus berjalan dan kehamilan belum juga terjadi. Lantas, kapan sebenarnya pasangan perlu memeriksakan kesuburan dan apa saja yang perlu diperhatikan selama menjalani program hamil?
NGOBRAS kali ini, DJ Gita Nugraha bersama dr. Razmaeda Sarastry, M.Sc., Sp.OG, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dari RSIA Hermina Mutiara Bunda Salatiga. Dalam perbincangan ini, akan mengulas berbagai faktor yang dapat memengaruhi kesuburan, pemeriksaan yang perlu dilakukan, hingga langkah yang bisa diupayakan pasangan untuk meningkatkan peluang kehamilan.
Kapan Pasangan Dikatakan Mengalami Kesulitan Hamil?
Perlu diketahui bahwa kesulitan mendapatkan keturunan atau infertilitas bukan hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan perempuan saja, Teman Setia. dr. Razmaeda menjelaskan bahwa proses kehamilan melibatkan kedua belah pihak sehingga pemeriksaan kesuburan sebaiknya dilakukan oleh suami maupun istri. Dengan demikian, tidak tepat jika kesulitan hamil langsung dianggap sebagai masalah dari salah satu pihak saja.
Secara medis, pasangan umumnya dikatakan mengalami infertilitas apabila belum mendapatkan kehamilan setelah melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa menggunakan alat kontrasepsi selama satu tahun. Namun, batas waktu tersebut juga dipengaruhi usia perempuan. Jika berusia di bawah 35 tahun, pemeriksaan disarankan setelah satu tahun mencoba. Sementara itu, perempuan berusia 35 tahun ke atas sebaiknya mulai berkonsultasi setelah enam bulan belum mendapatkan kehamilan. Bagi perempuan berusia di atas 40 tahun, pemeriksaan lebih awal perlu dipertimbangkan.
Namun, pemeriksaan juga tidak perlu menunggu sampai batas waktu tersebut apabila terdapat kondisi tertentu, seperti menstruasi tidak teratur, dugaan gangguan pada rahim atau saluran telur, maupun riwayat masalah kesuburan pada salah satu pasangan.
Apa Saja yang Memengaruhi Kesuburan?
Penyebab kesulitan hamil cukup beragam dan bisa berasal dari faktor internal maupun eksternal. Faktor internal berkaitan dengan usia, kondisi organ reproduksi, serta fungsi organ dan hormon. Sementara itu, faktor eksternal dapat dipengaruhi pola makan, berat badan, aktivitas fisik, stres, dan kebiasaan sehari-hari.
Pada perempuan, beberapa hal yang berpengaruh terhadap kesuburan di antaranya proses pelepasan sel telur atau ovulasi, kondisi saluran telur, serta kesehatan rahim. Ovulasi yang terganggu dapat membuat peluang kehamilan menjadi lebih kecil. Begitu pula jika saluran telur mengalami penyumbatan atau terdapat gangguan pada rahim.
Sedangkan pada laki-laki, kualitas sperma menjadi salah satu faktor penting. Jumlah, bentuk, dan kemampuan gerak sperma dapat memengaruhi peluang terjadinya pembuahan. Karena itu, pemeriksaan kesuburan perlu dilakukan secara bersamaan agar penyebabnya dapat diketahui dengan lebih menyeluruh.
Dalam beberapa kasus, hasil pemeriksaan awal mungkin tidak menunjukkan gangguan yang jelas. Kondisi ini bukan berarti pemeriksaan tidak diperlukan lagi. Dokter perlu melihat jenis pemeriksaan yang sudah dilakukan, kapan pemeriksaan dilakukan, serta apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan. Kualitas sperma maupun kondisi reproduksi dapat mengalami perubahan sehingga hasil pemeriksaan sebelumnya belum tentu menggambarkan kondisi terkini.
Pemeriksaan Apa Saja yang Perlu Dilakukan?
Langkah awal untuk mengetahui kondisi kesuburan tentunya dengan melakukan konsultasi dan skrining fertilitas bersama dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Pemeriksaan akan disesuaikan dengan riwayat kesehatan serta kondisi masing-masing pasangan.
Pada perempuan, dokter dapat melakukan USG transvaginal untuk melihat kondisi rahim dan ovarium, termasuk menghitung jumlah folikel antral atau calon sel telur yang terlihat. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada awal siklus menstruasi, sekitar hari kedua hingga kelima. Selain itu, dokter dapat menyarankan pemeriksaan hormon AMH (Anti-Müllerian Hormone) untuk membantu memperkirakan cadangan ovarium. Meski demikian, hasil AMH tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk menentukan seseorang bisa atau tidak bisa hamil secara alami. Pemeriksaan cadangan ovarium perlu dibaca bersama usia, hasil USG, riwayat kesehatan, dan pemeriksaan lainnya.
Jika diperlukan, dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan HSG (Hysterosalpingography) untuk melihat apakah saluran telur terbuka atau mengalami penyumbatan. Pemeriksaan hormon lainnya juga dapat dilakukan apabila ditemukan tanda-tanda gangguan ovulasi.
Sementara itu, pada laki-laki, pemeriksaan yang umum dilakukan adalah analisis sperma. Pemeriksaan ini bertujuan mengetahui jumlah, pergerakan, dan bentuk sperma. Apabila ditemukan kelainan, dokter dapat menentukan apakah diperlukan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut.
Mengenali Masa Subur untuk Meningkatkan Peluang Kehamilan
Selain memastikan kondisi organ reproduksi, Teman Setia juga perlu memahami waktu terjadinya ovulasi atau pelepasan sel telur. Karena, hubungan seksual yang dilakukan pada masa subur dapat meningkatkan peluang terjadinya kehamilan.
Salah satu cara mengenali masa subur adalah memperhatikan perubahan lendir serviks. Menjelang ovulasi, lendir biasanya menjadi lebih bening, licin, dan elastis menyerupai putih telur. Pasangan juga dapat menggunakan alat tes ovulasi atau LH kit yang tersedia di apotek. Alat ini mendeteksi peningkatan hormon LH yang biasanya terjadi menjelang pelepasan sel telur.
Info 💡: Sel telur hanya bertahan sekitar 12–24 jam setelah ovulasi, sedangkan sperma dapat bertahan hingga 5 hari di dalam tubuh perempuan. Karena itu, hubungan seksual beberapa hari sebelum ovulasi tetap berpeluang menghasilkan kehamilan.
Bagi perempuan dengan siklus menstruasi teratur, pencatatan jadwal haid juga dapat membantu memperkirakan masa subur. Siklus menstruasi dihitung sejak hari pertama haid hingga sehari sebelum menstruasi berikutnya. Siklus normal umumnya berkisar antara 21–35 hari. Namun, perhitungan kalender hanya memberikan perkiraan karena waktu ovulasi dapat berubah setiap siklus.
Jika menstruasi tidak teratur, penyebabnya perlu dicari terlebih dahulu. Kondisi seperti PCOS (Polycystic Ovary Syndrome), gangguan hormon, atau masalah kesehatan reproduksi lainnya dapat memengaruhi proses ovulasi.
Apakah Kesulitan Hamil Bisa Diobati?
Kabar baiknya, kesulitan hamil dapat ditangani, Teman Setia. Namun, jenis penanganannya bergantung pada penyebab yang ditemukan melalui pemeriksaan.
Pada laki-laki, misalnya, varikokel atau pelebaran pembuluh darah di sekitar testis dapat memengaruhi kualitas sperma. Kondisi tertentu mungkin memerlukan tindakan medis, termasuk operasi. Apabila ditemukan infeksi, dokter dapat memberikan pengobatan yang sesuai. Sementara itu, gangguan kualitas sperma akibat faktor lingkungan atau kebiasaan sehari-hari perlu ditangani dengan memperbaiki faktor pemicunya.
Pada perempuan, salah satu kondisi yang cukup sering berkaitan dengan gangguan kesuburan adalah PCOS. Kondisi ini berhubungan dengan ketidakseimbangan hormon dan gangguan metabolisme yang dapat menyebabkan ovulasi tidak teratur. Penanganannya dapat meliputi pengaturan pola makan, aktivitas fisik, pengelolaan berat badan, serta obat-obatan apabila diperlukan.
Bagi perempuan dengan berat badan berlebih dan PCOS, penurunan berat badan secara bertahap dapat membantu memperbaiki fungsi metabolisme dan keteraturan ovulasi. Namun, target dan penanganannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Menjaga Kesuburan Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari
Upaya menjaga kesuburan sebaiknya tidak baru dilakukan ketika pasangan mulai merencanakan kehamilan. Menurut dr. Razmaeda, pola hidup sehat perlu diperhatikan sejak usia remaja, terutama karena gangguan metabolisme dan hormon dapat berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi.
Beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan antara lain menjaga berat badan tetap sehat, rutin berolahraga, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Sebisa mungkin, batasi makanan ultra-proses dan makanan dengan kandungan gula berlebih. Kebiasaan tersebut dapat membantu menjaga kesehatan metabolisme yang turut berperan dalam keseimbangan hormon dan proses ovulasi.
Selain itu, jangan mengabaikan nyeri menstruasi yang sangat berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Nyeri haid berlebihan dapat menjadi salah satu tanda kondisi medis seperti endometriosis, yang berpotensi memengaruhi kesuburan. Jika mengalami keluhan tersebut, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya.
Jadwal Praktik dr. Razmaeda Sarastry
Bagi Teman Setia yang ingin berkonsultasi mengenai kesehatan reproduksi maupun program hamil, dr. Razmaeda Sarastry, M.Sc., Sp.OG melayani pemeriksaan di RSIA Hermina Mutiara Bunda Salatiga dengan jadwal:
Teman Setia, perjalanan mendapatkan buah hati memang membutuhkan kesabaran, usaha, dan dukungan satu sama lain. Namun, jangan sampai keinginan untuk segera memiliki keturunan membuat Teman Setia menunda pemeriksaan ketika sudah waktunya berkonsultasi. Jika sudah mencoba selama satu tahun, atau enam bulan bagi perempuan berusia 35 tahun ke atas, jangan ragu untuk menemui dokter. Yuk, lebih peduli dengan kesehatan reproduksi dan jalani program hamil bersama pasangan. Tetap semangat, saling mendukung, dan ingat bahwa upaya mendapatkan keturunan merupakan perjalanan bersama, bukan tanggung jawab salah satu pihak saja.
- Senin: pukul 12.00–14.00 WIB dan 18.00–20.00 WIB.
- Kamis: pukul 12.00–14.00 WIB.
- Jumat: pukul 12.00–14.00 WIB.
Teman Setia, perjalanan mendapatkan buah hati memang membutuhkan kesabaran, usaha, dan dukungan satu sama lain. Namun, jangan sampai keinginan untuk segera memiliki keturunan membuat Teman Setia menunda pemeriksaan ketika sudah waktunya berkonsultasi. Jika sudah mencoba selama satu tahun, atau enam bulan bagi perempuan berusia 35 tahun ke atas, jangan ragu untuk menemui dokter.
Yuk, lebih peduli dengan kesehatan reproduksi dan jalani program hamil bersama pasangan. Tetap semangat, saling mendukung, dan ingat bahwa upaya mendapatkan keturunan merupakan perjalanan bersama, bukan tanggung jawab salah satu pihak saja.

No responses yet