Daging sapi menjadi salah satu bahan pangan yang banyak dicari masyarakat. Namun, ketika harga dan permintaan daging meningkat, konsumen perlu lebih teliti agar tidak mendapatkan daging dengan kualitas yang tidak sesuai. Salah satunya adalah daging glonggongan yang mengandung banyak air akibat perlakuan tertentu sebelum sapi disembelih.

Agar Teman Setia tidak salah membeli, DJ Gita Nugraha bersama drh. Suharyo membahas seperti apa daging layak lewat konsep daging ASUHno dari Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Salatiga membahas seperti apa daging yang layak dikonsumsi melalui konsep daging ASUH., yaitu Aman, Sehat, Utuh, dan Halal, ciri-ciri daging glonggongan, sampai inovasi SeLaDA untuk mencegah peredaran daging gelonggongan.

Mengenal Daging Glonggongan

Daging glonggongan merupakan daging yang berasal dari sapi yang diberi air dalam jumlah sangat banyak sebelum disembelih. Dalam praktiknya, sapi dapat diberi air selama sekitar dua hingga tiga jam hingga bagian perutnya mengembang. Bahkan, terdapat kasus sapi diberi air sebanyak 30 hingga 50 liter.

Cara tersebut dilakukan dengan tujuan meningkatkan berat sapi saat ditimbang atau disembelih, padahal peningkatan tersebut sebenarnya berasal dari volume air. Setelah dipotong, kandungan air yang berlebihan akan menyusut sehingga berat daging yang diperoleh konsumen bisa jauh berkurang.

Wah, miris banget ya, Teman Setia, karena praktik penggelonggongan menjadi persoalan dari sisi kesejahteraan hewan. Sapi yang diberi air dalam jumlah berlebihan dapat mengalami ketidaknyamanan dan rasa sakit. Selain itu, sebagai konsumen, kita dirugikan karena kualitas dan kuantitas daging tidak sesuai.

Kenali Ciri Daging yang Aman dan Berkualitas

Ilustrasi pasar daging (Kimm/unsplash)

Bagi masyarakat awam, harga memang sering menjadi salah satu pertimbangan ketika membeli daging. Harga yang lebih murah bisa terlihat menarik, tetapi jangan sampai membuat kita mengabaikan kondisi daging yang akan dibeli. Untuk itu, Teman Setia perlu mengenali ciri-ciri daging yang segar atau glonggongan:

1. Warna daging: Daging yang masih segar umumnya berwarna merah, sedangkan daging glonggongan cenderung terlihat lebih pucat. Ciri ini masih bisa diperhatikan meskipun daging sudah dalam kondisi frozen.
2. Tekstur daging: Daging ASUH terasa kenyal dan akan kembali ke bentuk semula ketika ditekan. Sementara itu, daging glonggongan cenderung lebih lunak atau lembek dan membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke bentuk semula.
3. Tetesan air: Ketika daging glonggongan diangkat, biasanya akan terlihat air yang menetes dari daging. Kondisi tersebut berbeda dengan daging ASUH yang tidak mengeluarkan banyak air.
4. Kondisi saat digantung: Daging glonggongan cenderung mengeluarkan air berlebih ketika diangkat. Jika daging diletakkan di atas meja dan tidak digantung, Teman Setia bisa menggunakan tisu untuk melihat apakah terdapat air yang keluar atau menempel pada permukaan daging.

▶️ Baca juga: Bijak Memilih Bahan Pangan Asal Hewan: Cerdas Menyantap, Sehat Menjalani Hidup

Apa yang Dimaksud dengan Daging ASUH?

Agar lebih mudah dipahami, Teman Setia bisa mengenal istilah daging ASUH. ASUH merupakan singkatan dari Aman, Sehat, Utuh, dan Halal. Untuk itu, ASUH menjadi acuan dalam memastikan kualitas daging yang akan dikonsumsi.

1. Aman: Daging bebas dari kontaminasi yang dapat merugikan dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.
2. Sehat: Daging memiliki nilai gizi yang cukup, termasuk kandungan protein yang dibutuhkan tubuh.
3. Utuh: Daging tidak mengalami pemalsuan atau penambahan bahan lain, termasuk penambahan air secara berlebihan.
4. Halal: Daging diperoleh dan diproses sesuai dengan ketentuan syariat Islam.

▶️ Baca juga: Sehat Hewannya, Berkah Kurbannya: Panduan Memilih dan Menangani Hewan Kurban secara ASUH

Dari Mana Daging Glonggongan Bisa Beredar?

Rumah Potong Hewan (RPH) memiliki komitmen untuk menyediakan daging yang memenuhi prinsip ASUH. Namun, daging yang beredar di pasar Salatiga tidak seluruhnya berasal dari RPH setempat. Ada pula daging yang masuk dari luar daerah atau berasal dari sumber lain.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat kemungkinan beredarnya daging glonggongan tetap perlu diwaspadai. Penjual pun belum tentu mengetahui kondisi daging yang mereka dapatkan. Namun, ada pula kemungkinan baik penjual tidak tahu atau bekerja sama untuk menjualnya. Karena itu, pengawasan dan keterlacakan asal daging menjadi penting untuk melindungi konsumen.

SeLaDA, Cara Lebih Mudah Mengetahui Asal Daging

Daging berbarcode dari inovasi SeLaDA. Dapat ditemukan pada pedagang yang bekerja sama dengan Dinas Pangan dan Pertanian Kota Salatiga (Erna Yunus Basri/jateng.disway.id)

Untuk membantu Teman Setia mendapatkan daging ASUH, Dispangtan Salatiga juga menghadirkan inovasi SeLaDA atau Sematkan Label Daging ASUH. SeLaDA menggunakan stiker label QR code yang ditempelkan pada wadah khusus daging yang dibeli konsumen dari pedagang mitra RPH. Label tersebut menjadi salah satu tanda bahwa daging berasal dari jalur yang dapat ditelusuri dan memenuhi penjaminan kualitas yang dilakukan melalui RPH.

Dari barcode tersebut, Teman Setia dapat memperoleh informasi mengenai daging yang dibeli, mulai dari RPH, pedagang, waktu pemotongan, nomor halal, hingga Nomor Kontrol Veteriner. Penggunaan barcode SeLaDA ditujukan untuk daging dari pedagang mitra yang mengambil daging dari RPH.

Inovasi ini sudah berjalan sekitar dua minggu dan dalam kegiatan inspeksi mendadak yang dilakukan pada pekan sebelumnya, para mitra menyampaikan bahwa inovasi tersebut membantu mereka menghadapi peredaran daging glonggongan sekaligus mendukung persaingan usaha yang lebih sehat.

Dengan adanya inovasi SeLaDa, Teman Setia bisa lebih mudah mengenali daging dari pedagang mitra yang mengambil daging dari RPH sekaligus memperoleh informasi mengenai asal dan proses pemotongannya. Meski begitu, jika membeli dari pedagang yang belum menggunakan label SeLaDa, tetap penting untuk lebih teliti dengan memperhatikan warna, tekstur, kondisi air pada daging, serta asal daging sebelum membeli.

Menjadi konsumen yang cerdas tidak harus berarti menjadi ahli dalam memilih daging. Kebiasaan sederhana seperti memeriksa kondisi daging dan mencari tahu asalnya bisa membantu Teman Setia mendapatkan daging yang sesuai dengan prinsip Aman, Sehat, Utuh, dan Halal untuk dikonsumsi bersama keluarga.

Please follow and like us:
Pin Share

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *