Tahun Baru Islam atau 1 Muharram selalu menjadi momen yang istimewa bagi banyak masyarakat. Bukan sekadar pergantian kalender Hijriah, Muharram juga menjadi waktu untuk berhenti sejenak, melihat perjalanan yang telah dilalui, sekaligus menyusun harapan dan langkah baru untuk masa depan yang lebih baik. Semangat inilah yang terus hidup di tengah masyarakat, termasuk di Jawa Tengah yang dikenal dengan nilai gotong royong dan kerukunannya.

Dialog interaktif kali ini, Dj Widia berbincang bersama anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah, yaitu H. Tugiman, S.P., Ribut Budi Santoso, S.P., Ayuning Sekar S., B.Bus., M.A., Sumarsono, S.Sos., dan Drs. H. Soenarno, M.M. Mereka membahas makna Muharram, tantangan pembangunan Jawa Tengah, hingga peran generasi muda dalam mewujudkan daerah yang lebih maju dan sejahtera.

Muharram sebagai Momentum Refleksi dan Memperkuat Persatuan

Bulan Muharram atau yang dikenal masyarakat Jawa sebagai bulan Suro menjadi momentum untuk melakukan refleksi diri sekaligus menumbuhkan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Menurut Sumarsono, masyarakat memaknai Muharram sebagai waktu untuk meningkatkan kesejahteraan, kebahagiaan, dan ketenteraman. Nilai tersebut juga tercermin dalam berbagai tradisi yang masih dilestarikan di berbagai daerah sebagai bentuk rasa syukur sekaligus harapan menyongsong masa depan.

Ibu Ayuning Sekar menjelaskan bahwa semangat Tahun Baru Islam tidak hanya mengajak setiap orang memperbaiki diri, tetapi juga memperkuat kepedulian terhadap sesama. Di tengah keberagaman masyarakat Indonesia, sikap saling menghormati dan menjaga kerukunan menjadi hal yang sangat penting, terlebih di era digital yang rentan dengan penyebaran ujaran kebencian dan informasi yang memecah belah.

Selain itu, Muharram juga mengajarkan semangat hijrah, yaitu berubah ke arah yang lebih baik. Bapak Sumarsono menilai semangat tersebut dapat diwujudkan melalui partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan daerah, seperti menyampaikan aspirasi kepada pemerintah maupun DPRD. Dengan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, berbagai harapan untuk mewujudkan Jawa Tengah yang lebih maju dan sejahtera dapat dicapai bersama.

Perkembangan Jawa Tengah dan Tantangan ke Depan

Perkembangan Jawa Tengah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang cukup positif. Ibu Ayuning Sekar menyebut perekonomian daerah terus bertumbuh dengan dukungan sekitar 4,2 juta pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi, serta meningkatnya investasi di sejumlah kawasan industri seperti Kendal dan Batang. Kondisi ini sejalan dengan data terbaru yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan I 2026 mencapai 5,89%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61%. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, serta sektor industri pengolahan yang masih menjadi penggerak utama ekonomi daerah.

Selain dari sisi ekonomi, ibu Ayuning juga menilai kerukunan masyarakat di Jawa Tengah semakin baik. Hal ini terlihat dari masuknya empat kota di Jawa Tengah ke dalam jajaran 10 Kota Toleran di Indonesia, terlebih Kota Salatiga menjadi Kota Tertoleran nomor 1 di Indonesia. Di sisi lain, kepedulian sosial masyarakat juga terus tumbuh melalui berbagai kegiatan gotong royong dan aksi penggalangan bantuan bagi warga yang membutuhkan.

Kondisi pasar pagi di Pasar Raya 1, Salatiga (Damar Handyanjaya/unsplash)

Meski begitu, masih ada sejumlah tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama. Ibu Ayuning menyoroti masih adanya kesenjangan pembangunan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, keterbatasan akses internet di beberapa daerah, menurunnya minat generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian, serta dampak perubahan iklim yang memengaruhi hasil panen. Menurutnya, potensi besar yang dimiliki Jawa Tengah perlu diimbangi dengan pemanfaatan teknologi agar sektor pertanian tetap mampu menjadi penopang ketahanan pangan.

Sementara itu, bapak Soenarno menambahkan bahwa pengentasan kemiskinan ekstrem, pemerataan pendapatan, pembangunan infrastruktur, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia masih menjadi pekerjaan rumah yang harus terus diselesaikan. Ia menegaskan, berbagai tantangan tersebut membutuhkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat agar pembangunan dapat dirasakan secara merata di seluruh wilayah Jawa Tengah.

SDM dan Literasi Digital, Kunci Menghadapi Masa Depan

Selain pembangunan fisik, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) juga menjadi tantangan besar bagi Jawa Tengah. Bapak Tugiman menyampaikan bahwa rata-rata lama sekolah penduduk Jawa Tengah hingga akhir tahun 2025 baru mencapai 8,15 tahun atau setara kelas 2-3 SMP. Angka tersebut masih berada di bawah rata-rata Pulau Jawa, sehingga menjadi perhatian agar masyarakat memiliki bekal yang lebih baik untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital juga menuntut masyarakat untuk terus beradaptasi. Baik menurut bapak Tugiman dan Ibu Ayuning, kemampuan menggunakan teknologi atau digital skill memang mulai meningkat, namun masih terdapat tantangan pada aspek etika dan keamanan digital. Fenomena seperti penyebaran ujaran kebencian, maraknya judi online, hingga informasi palsu (hoax) menjadi bukti bahwa literasi digital tidak cukup hanya sebatas mampu mengoperasikan teknologi. Kemajuan teknologi memang membawa banyak manfaat, tetapi juga dapat memicu perpecahan apabila tidak digunakan secara bijak. Karena itu, Teman Setia diharapkan lebih cermat dalam menyaring informasi dan menjadikan media sosial sebagai sarana menyebarkan hal-hal yang positif.

Bapak Tugiman berpendapat bahwa pemanfaatan teknologi yang tepat dapat mendukung berbagai sektor, mulai dari pendidikan, dunia usaha, hingga pelayanan publik. Oleh sebab itu, peningkatan kualitas SDM harus berjalan beriringan dengan penguatan literasi digital agar masyarakat Jawa Tengah mampu menghadapi tantangan sekaligus memanfaatkan peluang di era digital.

Peran Masyarakat dan Generasi Muda Mewujudkan Jawa Tengah yang Lebih Baik

Salah Satu Pusaka dari Ndalem Ageng Puro Mangkunegaran Saat Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Suro.(Anggara Wikan Prasetya/KOMPAS.com)

Bapak Ribut menilai peringatan Tahun Baru Islam tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial. Menurutnya, setiap tradisi yang dilaksanakan perlu dimaknai sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada masyarakat, terutama generasi muda. Semangat Muharram diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama.

Bapak Tugiman juga menegaskan bahwa Generasi Z memiliki peran penting dalam mewujudkan Jawa Tengah yang lebih baik. Ia mengajak anak muda memanfaatkan media sosial secara bijak, mulai dari menyebarkan informasi yang benar, meningkatkan kemampuan digital, hingga menghindari penyebaran hoaks maupun ujaran kebencian. Menurutnya, di era digital saat ini, generasi muda justru dapat menjadi penggerak perubahan melalui pemanfaatan teknologi yang positif.

Selain itu, bapak Tugiman juga mengingatkan pentingnya membangun kemandirian ekonomi sejak dini. Di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan, masyarakat, khususnya generasi muda, diharapkan lebih bijak dalam mengelola keuangan, mengurangi perilaku konsumtif, serta berani mencari peluang usaha atau penghasilan tambahan. Dengan begitu, mereka akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan ekonomi di masa depan.

Selain meningkatkan kualitas sumber daya manusia, masyarakat juga diajak untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Bapak Ribut mengatakan bahwa kesadaran menjaga alam perlu terus ditanamkan kepada generasi muda. Salah satunya melalui berbagai tradisi yang mengajarkan pentingnya menghargai alam sebagai sumber kehidupan. Ia mencontohkan tradisi masyarakat di salah satu desa di Kecamatan Teras yang melakukan muhasabah dengan berjalan menggunakan obor menuju sumber mata air sebagai bentuk penghormatan terhadap alam. Menurutnya, menjaga kelestarian lingkungan merupakan salah satu bentuk rasa syukur sekaligus tanggung jawab untuk menjaga kehidupan bagi generasi mendatang.

Teman Setia, semangat Muharram menjadi pengingat bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Muharram juga mengajarkan keberanian untuk terus berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Melalui semangat refleksi, kebersamaan, dan gotong royong, masyarakat diajak mengambil peran nyata dalam pembangunan daerah, mulai dari meningkatkan kualitas diri, bijak memanfaatkan teknologi, peduli terhadap lingkungan, hingga menjaga kerukunan. Dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, harapan untuk mewujudkan Jawa Tengah yang lebih maju, sejahtera, dan harmonis bukan sekadar cita-cita, melainkan tujuan yang dapat diwujudkan bersama.

Please follow and like us:
Pin Share

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *