Pernahkah Teman Setia merasakan adanya benjolan pada payudara saat mandi, berganti pakaian, atau ketika tanpa sengaja merabanya? Kondisi seperti ini sering kali memicu rasa cemas dan berbagai pertanyaan dalam pikiran. Tidak sedikit orang yang langsung mengaitkan benjolan pada payudara dengan kanker. Padahal, kenyataannya tidak semua benjolan bersifat ganas. Meski demikian, benjolan pada payudara tetap tidak boleh dianggap sepele karena bisa menjadi tanda adanya perubahan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
NGOBRAS kali ini, Dj Gita Nugraha berbincang bersama dr. Nathania Hosea, Sp.B., dokter spesialis bedah dari RSIA Hermina Mutiara Bunda Salatiga, mengenai benjolan payudara, mulai dari penyebabnya, cara membedakan kondisi yang perlu diwaspadai, hingga langkah-langkah deteksi dini yang dapat dilakukan secara mandiri.
Benjolan di Payudara Tidak Selalu Berarti Kanker
Munculnya benjolan pada payudara sering kali langsung dikaitkan dengan kanker. Padahal, tidak semua benjolan bersifat ganas. Menurut dr. Nathania, semua benjolan pada dasarnya disebut tumor, baik yang bersifat jinak maupun ganas. Dilansir dari NCBI Bookshelf: Breast Lump mencatat bahwa sekitar 60% hingga 80% benjolan payudara justru bersifat jinak (non-kanker), seperti kista (kantung berisi cairan) dan Fibroadenoma Mammae (FAM).
Namun, untuk memastikan apakah suatu benjolan termasuk jinak atau ganas, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut. Hal ini karena beberapa jenis benjolan dapat memiliki karakteristik yang hampir serupa saat diraba. Secara umum, benjolan jinak cenderung berbentuk bulat atau beraturan, terasa kenyal, permukaannya licin, dan masih dapat digerakkan saat diraba. Sebaliknya, benjolan yang dicurigai ganas biasanya terasa lebih keras, bentuknya tidak beraturan, serta dapat disertai perubahan pada kulit maupun puting payudara. Meski begitu, ciri-ciri tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar diagnosis.
Maka dari itu, Teman Setia perlu memahami bahwa benjolan pada payudara – meski tidak terasa sakit pun harus di periksakan ke dokter, karena sakit bukan berarti aman. Banyak orang menunda pemeriksaan karena menganggap rasa nyeri sebagai satu-satunya tanda bahaya. Padahal, beberapa kasus kanker payudara pada tahap awal justru tidak menimbulkan rasa sakit sama sekali. Oleh karena itu, setiap benjolan yang ditemukan sebaiknya tetap mendapatkan evaluasi medis.
Kenali Perubahan pada Payudara dan Faktor Penyebabnya
Selain mengenali adanya benjolan, Teman Setia juga perlu memperhatikan berbagai perubahan lain yang terjadi pada payudara. Pasalnya, tidak semua gangguan pada payudara diawali dengan munculnya benjolan yang mudah dirasakan. Dalam beberapa kasus, perubahan pada kulit maupun puting justru menjadi tanda awal yang perlu diwaspadai.
Menurut dr. Nathania, beberapa perubahan yang perlu mendapat perhatian antara lain:
- Munculnya benjolan pada payudara atau area ketiak.
- Kulit payudara tampak seperti kulit jeruk.
- Adanya cekungan atau lesung pada permukaan kulit payudara.
- Kemerahan yang tidak kunjung membaik.
- Puting yang tertarik ke dalam.
- Keluarnya cairan dari puting, terutama bila bercampur darah.
- Perubahan ukuran atau bentuk payudara yang tidak biasa.

Meski tidak selalu menandakan kanker, berbagai perubahan tersebut sebaiknya tidak diabaikan dan perlu diperiksakan apabila berlangsung terus-menerus atau semakin memburuk.
Munculnya benjolan maupun perubahan pada payudara dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya:
- Perubahan hormonal
Menjadi salah satu penyebab yang paling sering ditemukan, terutama pada perempuan usia produktif. Perubahan hormon dapat memengaruhi jaringan payudara dan memicu munculnya benjolan tertentu yang umumnya bersifat jinak. - Faktor genetik atau riwayat keluarga
Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat kanker payudara diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan serupa dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat tersebut. - Pola makan dan gaya hidup
Konsumsi makanan yang kurang seimbang, kurang berolahraga, serta kebiasaan hidup yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk gangguan pada payudara. - Obesitas atau kelebihan berat badan
Berat badan berlebih dapat memengaruhi keseimbangan hormon dalam tubuh dan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko kanker payudara. - Infeksi saat menyusui
Saluran ASI yang tersumbat dapat menyebabkan peradangan hingga infeksi. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut bahkan dapat berkembang menjadi abses atau kumpulan nanah pada payudara.
Funfact: Kanker payudara pria menyumbang 1% kasus global. Karena jaringan dada pria lebih tipis, sel kanker lebih cepat menyebar ke dinding dada. Sayangnya, akibat kurangnya kesadaran dan stigma, lebih dari 40% pria baru terdiagnosis saat sudah memasuki stadium lanjut.
SADARI, Kunci Deteksi Dini Benjolan Payudara
Salah satu cara paling sederhana untuk menjaga kesehatan payudara adalah dengan melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri atau SADARI secara rutin. dr. Nathania menjelaskan, deteksi dini sangat penting karena orang yang pertama kali menyadari adanya perubahan pada tubuh adalah diri sendiri. Dengan mengenali kondisi normal payudara, seseorang dapat lebih cepat mengetahui apabila muncul benjolan atau perubahan lain yang mencurigakan.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa deteksi dini berperan besar dalam meningkatkan keberhasilan penanganan kanker payudara. Semakin cepat kelainan ditemukan, semakin besar peluang untuk mendapatkan pengobatan yang efektif dan mencegah penyakit berkembang ke stadium yang lebih lanjut.
Agar hasil pemeriksaan lebih akurat, SADARI sebaiknya dilakukan pada waktu yang tepat, yaitu:
- Tujuh hingga sepuluh hari setelah menstruasi selesai bagi perempuan yang masih mengalami siklus menstruasi.
- Pada tanggal yang sama setiap bulan bagi perempuan yang sudah menopause agar lebih mudah diingat dan dilakukan secara rutin.
SADARI dapat dilakukan sendiri di rumah dengan beberapa langkah sederhana berikut:
- Berdiri di depan cermin dengan tangan di pinggang untuk memperhatikan bentuk, ukuran, dan warna kulit payudara. Bandingkan kondisi payudara kanan dan kiri, serta perhatikan apakah terdapat perubahan yang tidak biasa.
- Mengangkat kedua tangan ke atas untuk melihat apakah terdapat bagian payudara yang tampak tidak simetris atau mengalami tarikan akibat adanya benjolan di dalam jaringan payudara.
- Meraba payudara secara perlahan menggunakan ujung jari dengan gerakan melingkar atau dari atas ke bawah secara sistematis. Langkah ini bertujuan untuk mendeteksi adanya benjolan atau perubahan tekstur pada jaringan payudara.
- Memeriksa area ketiak karena pembesaran kelenjar getah bening atau benjolan juga dapat muncul di daerah tersebut.
- Memperhatikan kondisi puting payudara untuk memastikan tidak ada cairan yang keluar, terutama cairan yang bercampur darah atau muncul tanpa sebab yang jelas.
Perlu diingat bahwa SADARI bukanlah alat diagnosis untuk menentukan apakah suatu benjolan bersifat jinak atau ganas. Pemeriksaan ini berfungsi sebagai langkah awal untuk mengenali adanya perubahan pada payudara sehingga seseorang dapat segera mencari pertolongan medis apabila menemukan kelainan.
Jika saat melakukan SADARI Teman Setia menemukan benjolan, perubahan pada kulit payudara, puting yang tertarik ke dalam, atau keluarnya cairan dari puting, jangan menunda untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Semakin cepat kelainan diketahui penyebabnya, semakin cepat pula penanganan yang dapat diberikan. Karena itu, membiasakan SADARI setiap bulan dapat menjadi langkah sederhana namun penting dalam menjaga kesehatan payudara.
Pemeriksaan Medis untuk Memastikan Diagnosis
Ketika mendapati benjolan, Teman Setia perlu memahami bahwa tidak semua benjolan dapat langsung diketahui penyebabnya hanya melalui perabaan atau pengamatan secara mandiri. Karena itu, pemeriksaan medis menjadi langkah penting untuk memastikan apakah benjolan tersebut bersifat jinak atau ganas.
dr. Nathania mengingatkan bahwa setiap benjolan yang ditemukan sebaiknya tidak diabaikan dan perlu diperiksakan ke tenaga kesehatan, terlebih dengan tanda-tanda yang sudah dijelaskan. Pemeriksaan sejak dini memungkinkan dokter menentukan langkah penanganan yang tepat sesuai kondisi pasien.
Pemeriksaan biasanya diawali dengan pemeriksaan fisik, yaitu dokter akan menilai ukuran, bentuk, tekstur, dan lokasi benjolan, serta memeriksa area sekitar payudara dan ketiak. Informasi mengenai riwayat kesehatan pasien dan keluhan yang dirasakan juga menjadi bagian penting dalam proses penilaian awal.
Apabila diperlukan, dokter akan menyarankan pemeriksaan penunjang untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi benjolan. Beberapa metode yang umum digunakan antara lain:
- USG payudara
Umumnya dilakukan pada perempuan usia muda karena jaringan payudaranya masih lebih padat. Melalui USG, dokter dapat melihat letak, ukuran, bentuk, serta mengetahui apakah benjolan berisi cairan atau jaringan padat. - Mammografi
Pemeriksaan ini lebih sering dilakukan pada perempuan usia yang lebih tua. Mammografi menggunakan sinar-X untuk membantu mendeteksi kelainan pada jaringan payudara yang mungkin belum dapat dirasakan melalui pemeriksaan fisik. - Pemeriksaan laboratorium atau biopsi
Jika diperlukan, dokter dapat mengambil sampel jaringan atau cairan dari benjolan untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium. Pemeriksaan ini membantu memastikan jenis benjolan dan menjadi salah satu metode yang paling akurat untuk menegakkan diagnosis.
Hasil dari berbagai pemeriksaan tersebut akan membantu dokter menentukan apakah benjolan tergolong jinak atau ganas. Jika dicurigai sebagai kanker, penanganan selanjutnya akan disesuaikan dengan ukuran benjolan, stadium penyakit, serta kondisi pasien secara keseluruhan. Penanganan dapat berupa operasi, terapi radiasi, kemoterapi, maupun kombinasi beberapa metode pengobatan sesuai kebutuhan.
Selain memeriksakan diri saat menemukan benjolan, dr. Nathania juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan kesehatan payudara secara berkala. Pemeriksaan medis dapat dilakukan setiap dua hingga tiga tahun sekali pada usia di atas 15 tahun, sedangkan perempuan berusia di atas 40 tahun dianjurkan menjalani pemeriksaan setiap tahun. Dengan pemeriksaan yang rutin dan deteksi dini, peluang keberhasilan penanganan berbagai gangguan pada payudara dapat semakin meningkat.
Menjaga kesehatan payudara bukanlah tentang rasa takut menemukan penyakit, melainkan bentuk nyata kasih sayang dan kepedulian terhadap diri sendiri. Jangan tunggu sampai muncul keluhan atau rasa sakit untuk mulai peduli ya, Teman Setia. Yuk, jadikan SADARI sebagai rutinitas bulanan kamu mulai hari ini!

No responses yet