Beberapa hari kemarin viral kasus bullying atau perundungan yang melibatkan beberapa pejabat kemahasiswaan yang nirempati dalam menyikapi kematian seseorang. Tentunya hal ini membuat kita bertanya-tanya, kenapa orang bisa menjadi perundung, orang yang tidak memiliki empati? Fenomena ini menunjukkan bahwa kekerasan dalam bentuk verbal maupun sosial masih dianggap lumrah, bahkan di lingkungan yang seharusnya mencetak generasi berpendidikan dan beretika.

Kasus seperti ini bukan yang pertama, dan sayangnya bukan yang terakhir. Masih banyak perundungan lain yang tak pernah muncul ke permukaan, tersembunyi di balik tawa, ruang kelas, bahkan grup pertemanan, karena tidak semua korban berani bersuara, dan tidak semua cerita sempat menjadi viral..

Peristiwa ini sekaligus membuka kembali diskusi penting tentang apa yang membuat seseorang mampu melakukan perundungan, serta sejauh mana lingkungan turut membentuk perilaku tersebut. Pada akhirnya, kasus ini menjadi cermin bagi kita semua, bahwa tanpa disadari, kita sering hidup di tengah budaya yang menormalisasi kekejaman dengan dalih “bercanda.”

Kalau Anak Membully, Apa yang Salah: Dirinya, Kita, atau Lingkungannya?

Ilustrasi kumpulan anak yang sedang merundung temannya (Inside Creative House/istockphoto)

Ketika mendengar kasus perundungan, reaksi umum masyarakat biasanya cepat: menyalahkan pelaku sepenuhnya. Namun jika hanya berhenti di situ, akar masalahnya tidak akan pernah tersentuh. Perilaku bullying memang tidak bisa dibenarkan, tapi memahami bagaimana ia terbentuk penting agar bisa dicegah sejak awal.

Penelitian Adolescent characteristics and parenting style as the determinant factors of bullying in Indonesia: a cross-sectional study menunjukkan bahwa pola asuh orang tua berperan besar dalam membentuk perilaku agresif anak. Pola asuh yang otoriter atau terlalu permisif sama-sama meningkatkan risiko anak menjadi pelaku bullying. Dari sini terlihat bahwa keluarga bisa jadi tempat pertama anak belajar menggunakan kekuasaan dengan cara yang salah. Peran orang tua sangat penting dalam pembentukan karakter anak sebelum keluar dan baerbaur di tengah masyarakat.

Selain itu, studi dari School Collective Efficacy and Bullying Behaviour: A Multilevel Study menjelaskan bahwa di lingkungan sekolah pun dapat menciptakan kasus perundungan apabila sekolah memiliki hubungan sosial rendah dan pengawasan moral lemah. Padahal, sekolah merupakan tempat bersosialisasi utama bagi anak dan remaja, tempat mereka belajar memahami batas, empati, dan tanggung jawab sosial.

Di lingkungan masyarakat pun, perundungan dapat tercipta dengan pengaruh yang lebih besar dibanding faktor genetik dalam membentuk perilaku perundungan. Dari Genetic and Environmental Influences on Different Forms of Bullying Perpetration, Bullying Victimization, and Their Co-occurrence | Behavior Genetics menjelaskan bahwa tekanan sosial, norma kelompok, dan eksposur terhadap kekerasan memiliki pengaruh yang jauh lebih kuat terhadap munculnya perilaku perundungan.

Artinya, anak belajar menjadi pembully dari interaksi sosial di sekitarnya, bukan karena “sudah jahat dari lahir.” Melihat anak yang membully sebagai “jahat” semata justru membuat kita melewatkan banyak konteks penting: bagaimana pola asuh orang tua membentuknya, bagaimana sekolah merespons perilaku tersebut, dan bagaimana lingkungan sosial ikut mendukung atau membiarkannya tumbuh.

Jadi, bukan berarti pelaku harus dikasihani. Justru ini menjadi pengingat bahwa penanganan bullying tidak cukup hanya dengan memberi hukuman, tapi juga memperbaiki sistem yang melahirkan dan menormalkannya. Karena selama kekerasan masih ditoleransi, bahkan dibungkus dalam bentuk “candaan,” perundungan akan terus berulang, hanya berganti wajah dan korban.

Faktor yang Bisa Membuat Anak Jadi Pembully

Ilustrasi seorang anak yang dirundung oleh teman-temannya (La Fabbrica Dei Sogni/unsplash)

Anak tidak serta-merta memilih menjadi pelaku bullying. Perilaku itu sering tumbuh dari lingkungan, pola asuh, dan konteks sosial yang membentuk cara mereka bertindak. Berikut beberapa faktor penting yang berdasarkan penelitian ilmiah:

1. Pola asuh otoriter atau kurang kasih sayang. Anak yang sering menyaksikan atau mengalami kekerasan di rumah cenderung meniru perilaku tersebut di luar rumah. Mereka belajar bahwa kekerasan adalah cara untuk mengendalikan atau menegaskan diri pada orang lain untuk dihormati.

2. Pernah menjadi korban bullying. Anak yang pernah menjadi korban bisa tumbuh dengan rasa marah dan ingin membalas pengalamannya. Akibatnya, mereka berpotensi menjadi pelaku agar tidak kembali merasa lemah atau direndahkan.

3. Kurangnya empati dan pendidikan emosional. Ketika anak tidak terbiasa memahami perasaan orang lain, mereka lebih mudah bersikap kasar. Kurangnya kemampuan mengelola emosi juga bisa membuat anak bereaksi agresif terhadap hal-hal kecil.

4. Tekanan sosial dan ekonomi. Tekanan hidup akibat kesulitan ekonomi atau lingkungan sosial yang tidak stabil bisa menimbulkan stres dan rasa rendah diri. Dalam beberapa kasus, anak menyalurkan rasa frustrasinya dengan merundung orang lain.

5. Pengaruh teman sebaya. Anak bisa melakukan perundungan karena ingin diterima atau diakui oleh kelompoknya. Dalam banyak kasus, mereka melakukan bullying untuk menunjukkan kekuasaan atau mengikuti tekanan dari teman-teman.

6. Lingkungan sekolah yang abai. Sekolah yang tidak segera menindak atau menegur pelaku bullying bisa membuat perilaku itu dianggap wajar. Kurangnya pengawasan dan respons tegas dari pihak sekolah memberi ruang bagi anak untuk terus mengulangi tindakannya.

7. Pola asuh orang tua. Pola asuh yang keras, penuh hukuman, atau sebaliknya yang terlalu membiarkan dapat memengaruhi perilaku anak. Anak mungkin tumbuh tanpa batasan yang jelas atau justru meniru cara orang tua yang menggunakan kekuasaan secara salah.

Ilustrasi sekumpulan anak sekolah (Jerry Zhang/unsplash)

Perubahan kecil dalam tingkah laku anak sering kali menjadi sinyal awal bahwa perilaku bullying sedang mulai berkembang — penting bagi orang tua, guru, dan pendidik untuk tanggap sejak dini.

  • Suka mengejek teman dengan nada merendahkan. Anak yang sering menggunakan ejekan atau olokan sebagai lelucon bisa sedang menunjukkan upaya mendominasi atau merasa unggul secara sosial.
  • Cepat marah dan susah mengontrol emosi. Ketidakmampuan mengelola rasa frustrasi atau konflik bisa berubah menjadi ledakan agresif terhadap teman atau lingkungannya.
  • Bangga kalau orang lain takut padanya. Rasa puas saat orang lain menunjukkan ketakutan bisa menandakan anak merasa berkuasa lewat cara yang salah.
  • Sering memimpin dengan cara memaksa. Kepemimpinan yang muncul dari intimidasi atau paksaan, bukan empati atau kerja sama, bisa jadi tanda bahwa anak menggunakan kekuasaan sebagai alat sosial.
  • Gak merasa bersalah setelah menyakiti teman. Ketidakmampuan merasakan empati atau konsekuensi dari tindakannya menunjukkan bahwa norma moral internal belum terbentuk dengan baik.
  • Cenderung mencari perhatian lewat cara negatif. Daripada melalui prestasi atau kerjasama, anak memilih jalan instan lewat mengejek atau mengambil alih teman—karena mungkin merasa diabaikan.
  • Mulai meniru perilaku kasar dari lingkungan sekitar. Lingkungan yang membiarkan ejekan, hinaan, atau kekuasaan salah arah bisa mengajari anak bahwa menyakiti adalah bagian normal dari interaksi sosial.

Kenapa Anak Mulai Membully?

Bukan karena mereka ‘jahat’, tapi karena ada alasan di balik tindakan. Misalnya:

  • Ingin merasa kuat atau berkuasa. Anak bisa membully untuk mendapatkan tempat atau pengontrolan dalam lingkungannya.
  • Kurang diperhatikan dan ingin diakui. Saat anak merasa diabaikan, perilaku agresif bisa jadi jalan cepat untuk “dilihat”.
  • Merasa iri, tersaingi, atau terancam harga dirinya. Rasa sakit atau ketidakadilan yang tak tertangani kadang berubah jadi agresi.
  • Sedang mencari jati diri dan ingin diterima. Anak yang belum stabil identitasnya mencari pengakuan lewat tindakan luar biasa, meskipun lewat jalan salah.
  • Tekanan dari kelompok sebaya. Demi diterima atau tidak dikucilkan, anak bisa ikut-ikutan membully.
  • Pelampiasan emosi atau masalah pribadi. Anak yang tidak tahu cara mengekspresikan marah, kecewa atau takut bisa memilih kekerasan sebagai pelampiasan.
  • Mendapat penguatan dari reaksi lingkungan (ditertawakan = dibenarkan). Saat ejekan dianggap lelucon, anak belajar bahwa menyakiti orang lain itu “oke”.
  • Kurang arahan dalam menghadapi konflik. Tanpa bimbingan bagaimana menyelesaikan perbedaan secara sehat, intimidasi jadi pilihan.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Melawan bullying bukan cuma soal menghukum pelaku, tapi soal membangun ekosistem yang sehat untuk tumbuhnya empati. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat, dengar, dan alami setiap hari. Jadi perubahan harus dimulai dari kita semua, yaitu orang tua, guru, teman, dan lingkungan.

Pertama, dengarkan tanpa menghakimi. Banyak korban diam karena takut dianggap lemah atau drama. Dengan menciptakan ruang aman untuk bercerita, kita bisa mencegah luka mereka semakin dalam.

Kedua, ajarkan empati sejak dini. Dikutip dari kongacademy.org, anak yang diajarkan berempati tidak hanya akan memiliki hubungan yang sehat dengan sesama, tapi juga memahami sudut pandang yang berbeda dan dapat menyelesaikan dan mendapatkan solusi dalam memecahkan masalah. Selain itu anak yang dilatih mengenali dan memahami perasaan orang lain lebih kecil kemungkinannya untuk terlibat dalam perilaku agresif. Mulailah dari hal kecil seperti minta anak memperhatikan ekspresi temannya atau tanyakan bagaimana perasaan orang lain jika diperlakukan tidak adil.

Ketiga, beri contoh yang konsisten. Anak meniru lebih cepat daripada mendengar nasihat. Saat orang dewasa bisa meminta maaf, menahan amarah, dan berkomunikasi dengan hormat, mereka belajar hal yang sama.

Keempat, jadikan sekolah dan komunitas sebagai tempat aman. Dari hasil evaluasi program ROOT, UNICEF Indonesia menyatakan bahwa lingkungan yang punya sistem pelaporan bullying yang jelas dan tindak lanjut yang cepat dapat menurunkan kasus kekerasan hingga 30%. Artinya, kebijakan yang berpihak pada perlindungan anak efektif bila dijalankan secara konsisten.

Dan terakhir, ubah budaya “candaan yang melukai” menjadi kepedulian yang menyembuhkan. Karena setiap tawa atas penderitaan orang lain, tanpa sadar memperpanjang siklus kekerasan.

Perundungan tidak akan hilang dalam semalam, tapi bisa berkurang kalau setiap dari kita memilih untuk peduli dan bukan diam, Teman Setia. Kita bisa mengambil langkah-langkah kecil untuk mengubah kebiasaan jelek menjadi kebiasaan yang baik. Karena pada akhirnya, yang bisa menghentikan siklus kekerasan bukan hanya aturan atau hukuman, tapi keberanian untuk peduli.

Ayo peduli dengan sekitar kita untuk membawa perubahan yang nyata dalam menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman untuk anak-anak!

Please follow and like us:
Pin Share

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow by Email
Instagram
Telegram