Menjadi orang tua tentunya membuat kita ingin memberikan perlindungan terbaik bagi anak sejak hari pertama kehidupannya, bukan, Teman Setia? Salah satu bentuk perlindungan yang penting adalah imunisasi. Meski begitu, masih ada orang tua yang memiliki pertanyaan seputar jenis vaksin, jadwal pemberian, efek samping, hingga keamanan pemberian beberapa vaksin dalam satu kunjungan. Wajar jika berbagai informasi yang beredar membuat orang tua ingin mencari tahu lebih banyak sebelum membawa anak untuk imunisasi.

NGOBRAS kali ini, DJ Gita Nugraha bersama dengan dr. Sonya Leomardy Low, Sp.A, dokter spesialis anak dari RS Hermina Blotongan Salatiga membahas seputar imunisasi bayi dan anak, mulai dari vaksin pertama setelah lahir, imunisasi ganda, vaksin booster, efek samping, sampai menjawab beberapa pertanyaan yang sering muncul dari orang tua.

Seberapa Pentingnya Vaksinasi dan Apakah Sama dengan Imunisasi?

Secara sederhana, vaksin adalah produk yang diberikan ke dalam tubuh untuk merangsang sistem kekebalan agar mengenali penyakit tertentu. Sementara imunisasi merupakan proses untuk membuat seseorang menjadi kebal atau terlindungi terhadap penyakit melalui pemberian vaksin. Jadi, keduanya memang berkaitan erat, tetapi istilahnya memiliki pengertian yang sedikit berbeda.

Tujuan utamanya adalah membantu tubuh membentuk perlindungan terhadap penyakit tertentu sebelum anak terpapar. Imunisasi juga tidak berarti seseorang dijamin 100 persen tidak akan pernah terkena penyakit. Namun, vaksin dapat membantu menurunkan risiko penyakit berat, komplikasi, kecacatan, bahkan kematian.

Tentunya vaksin sangat penting karena sistem kekebalan bayi dan anak kecil masih berkembang. Karena itu, imunisasi diberikan sejak usia dini agar perlindungan terbentuk pada saat anak memang membutuhkan perlindungan tersebut.

Mengapa vaksin sudah diberikan sejak bayi baru lahir?

Ilustrasi dokter anak sedang memeriksakan seorang bayi (Jonathan Borba/unsplash)

Karena sistem kekebalan tubuh bayi masih berkembang, perlindungan terhadap beberapa penyakit perlu mulai dibentuk sejak awal kehidupan melalui imunisasi. Kementerian Kesehatan juga menekankan bahwa imunisasi sejak bayi bertujuan menurunkan risiko kesakitan dan kematian akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi.

Contohnya seperti pemberian suntikan Hepatitis B dosis lahir atau HB0. Vaksin ini penting untuk mencegah infeksi Hepatitis B, termasuk penularan dari ibu kepada bayi. Infeksi Hepatitis B pada bayi juga perlu diwaspadai karena apabila berkembang menjadi infeksi kronis, dapat menyebabkan gangguan serius pada hati di kemudian hari. Karena risiko penularan dari ibu ke bayi dapat terjadi sejak proses persalinan, vaksin Hepatitis B diberikan sedini mungkin setelah bayi lahir dalam kondisi yang memungkinkan.

Selain Hepatitis B, BCG juga menjadi salah satu vaksin penting pada awal kehidupan. Vaksin BCG bertujuan memberikan perlindungan terutama terhadap bentuk TBC yang berat pada anak, seperti meningitis TBC dan TBC milier. Jadi, pemberian BCG bukan berarti anak sama sekali tidak mungkin terkena TBC, tetapi membantu menurunkan risiko anak mengalami bentuk penyakit TBC yang lebih berat.

Perlindungan sejak dini ini kemudian dilanjutkan dengan vaksin-vaksin berikutnya sesuai usia anak. Jadwal imunisasi dibuat bertahap karena setiap vaksin memiliki waktu pemberian dan jumlah dosis yang berbeda. Yang mana untuk jadwal bisa di cek pada buku KIA. Jadi, orang tua tidak perlu menganggap imunisasi sebagai satu kali pemberian saja. Perlindungan anak perlu dilanjutkan sesuai jadwal hingga mendapatkan dosis lanjutan dan booster.

Di sisi lain, pemerintah juga terus berupaya mengejar ketertinggalan imunisasi pada anak yang belum mendapatkan vaksin sesuai jadwal. Salah satu caranya melalui imunisasi kejar, termasuk pemberian imunisasi ganda ketika diperlukan. Dengan cara ini, anak yang terlambat mendapatkan imunisasi tetap memiliki kesempatan untuk melengkapi perlindungannya tanpa harus mengulang seluruh vaksinasi dari awal.

Apa itu vaksin booster dan kenapa masih diperlukan?

Ilustrasi seorang dokter anak yang sedang memberikan vaksinasi terhadap bayi yang tengah dipangku oleh ibunya (CDC/unsplash)

Imunisasi ternyata tidak berhenti setelah anak mendapatkan vaksin dasar. Beberapa vaksin membutuhkan dosis lanjutan atau booster untuk mempertahankan perlindungan.

Salah satu contohnya adalah vaksin DPT. Setelah mendapatkan dosis awal ketika masih bayi, anak mendapatkan dosis lanjutan pada usia berikutnya. Dalam jadwal imunisasi nasional, DPT-HB-Hib diberikan kembali pada usia 18 bulan. Vaksin campak-rubela juga memiliki dosis lanjutan pada usia tersebut.

Booster pada dasarnya bukan berarti vaksin sebelumnya gagal. Dosis lanjutan diberikan untuk mempertahankan atau memperkuat perlindungan tubuh. Untuk vaksin tambahan tertentu, seperti influenza, pemberiannya juga dapat dilakukan secara berkala sesuai rekomendasi dokter dan jenis vaksin.

Selain imunisasi rutin, pemerintah juga memiliki program Bulan Imunisasi Anak Sekolah atau BIAS yang menyasar anak usia sekolah dasar. Program ini menjadi salah satu upaya untuk memberikan imunisasi lanjutan atau booster sekaligus menjaga perlindungan anak terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Baca juga: Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS): Mengapa Imunisasi Tetap Penting Meski Anak Sudah Besar?

Bagaimana kalau anak sedang batuk atau pilek saat jadwal imunisasi?

Anak yang sedang mengalami sakit ringan seperti pilek atau batuk ringan belum tentu harus menunda imunisasi. CDC menjelaskan bahwa anak dengan penyakit ringan, termasuk pilek, batuk, demam ringan, atau diare ringan, pada umumnya masih dapat menerima vaksin jika dokter menilai kondisinya memungkinkan.

Namun, apabila anak sedang mengalami penyakit sedang hingga berat, pemberian vaksin dapat ditunda sampai kondisinya membaik. Keputusan tersebut tetap perlu ditentukan oleh dokter atau tenaga kesehatan setelah melakukan pemeriksaan.

Jadi, tidak perlu langsung membatalkan jadwal imunisasi hanya karena anak sedang sedikit pilek. Sebaiknya tetap datang dan sampaikan kondisi anak kepada tenaga kesehatan agar dapat dilakukan skrining.

Fun Fact: Vaksin tidak terbukti menyebabkan autisme. WHO, berdasarkan peninjauan terhadap berbagai penelitian, menyatakan tidak ditemukan hubungan sebab-akibat antara vaksin dan autism spectrum disorder (ASD). Autisme sendiri merupakan kondisi perkembangan yang melibatkan berbagai faktor, termasuk faktor genetik dan biologis.

Demam dan bengkak setelah imunisasi, apakah berbahaya?

Setelah imunisasi, sebagian anak memang dapat mengalami reaksi ringan seperti demam, nyeri, kemerahan, atau bengkak di lokasi suntikan. Kondisi tersebut termasuk reaksi yang umum dan biasanya membaik dalam beberapa hari. Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa nyeri, bengkak, dan demam merupakan beberapa reaksi yang dapat terjadi setelah imunisasi.

Namun, perlu diperhatikan jika keluhan semakin berat, tidak kunjung membaik setelah beberapa hari, atau muncul tanda reaksi alergi berat seperti kesulitan bernapas, pembengkakan pada wajah atau tenggorokan, anak perlu segera mendapatkan pertolongan medis.

Pada imunisasi ganda, Kementerian Kesehatan juga menyebutkan bahwa anak biasanya dipantau selama sekitar 30 menit setelah pemberian vaksin untuk mengantisipasi reaksi berat yang sangat jarang terjadi.

Jangan ragu untuk melakukan vaksinasi

Sebagian orang tua mungkin masih bertanya-tanya, apakah vaksin yang diberikan kepada anak benar-benar bekerja atau justru bisa “ditolak” oleh tubuh? Pada dasarnya, vaksin bekerja dengan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan membentuk perlindungan terhadap penyakit tertentu. Jadi, tubuh tidak sekadar menerima vaksin, tetapi membangun respons kekebalan setelah mendapatkannya.

Memang, tidak ada vaksin yang memberikan perlindungan hingga 100 persen. Namun, bukan berarti vaksin tidak efektif. Anak yang sudah mendapatkan vaksin tetap bisa terinfeksi penyakit tertentu, tetapi vaksin dapat membantu menurunkan risiko mengalami gejala berat, komplikasi, hingga kematian. Karena itu, vaksinasi tetap penting dilakukan sesuai jadwal yang dianjurkan.

Perlindungan dari vaksinasi juga tidak hanya dirasakan oleh anak yang mendapatkan vaksin. Ketika semakin banyak orang memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit, penyebaran penyakit di masyarakat dapat ikut berkurang. Kondisi ini dikenal sebagai kekebalan kelompok atau herd immunity. Dengan cakupan imunisasi yang tinggi, anak-anak yang belum bisa mendapatkan vaksin karena alasan medis tertentu juga dapat ikut terlindungi dari risiko penularan.

Jadi, jangan ragu untuk melakukan vaksinasi dan jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya. Jika masih memiliki kekhawatiran mengenai keamanan, efek samping, atau efektivitas vaksin, orang tua dapat berkonsultasi langsung dengan dokter atau tenaga kesehatan agar mendapatkan informasi yang sesuai dengan kondisi anak.

Please follow and like us:
Pin Share

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *