Kalau membicarakan makanan khas Salatiga, apa saja sih yang terlintas dibenak Teman Setia? Mungkin tumpang koyor yang melegenda, ronde jago yang hangat di malam hari, atau enting-enting gepuk yang renyah dan manisnya pas di lidah. Nyatanya, makanan khas Salatiga tidak hanya itu saja, loh Teman Setia! Ada beragam kuliner lain yang tidak kalah populer dan sudah menjadi bagian dari culinary heritage kota ini. Selain itu, Salatiga juga memiliki inovasi kuliner baru yang tentunya berperan membangun identitas kota kecil ini agar semakin dikenal luas.

Dalam dialog kali ini, Dj Gita Nugraha ditemani dengan Yayat Nurhayat, AP. M.Si dan M. Lukman dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Salatiga yang membahas perjalanan Salatiga menuju predikat City of Gastronomy UNESCO serta peran penting Masyarakat Duta Gastronomi Salatiga (MDGS) dalam mengembangkan potensi kuliner lokal agar mampu bersaing di kancah internasional.

Salatiga sebagai Kota Kreatif Gastronomi

Ternyata predikat Kota Kreatif berbasis Kuliner resmi disematkan pada Salatiga oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 30 November 2021 di Samarinda. Penetapan ini bukan tanpa alasan, karena Salatiga memiliki kekayaan kuliner yang khas, beragam, dan sudah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Keunikan inilah yang menjadikan Salatiga berani melangkah lebih jauh dengan mencalonkan diri sebagai anggota UNESCO Creative Cities Network (UCCN) di bidang City of Gastronomy.

Dalam kategori gastronomi, penilaian bukan hanya dari sisi kelezatan kuliner, tetapi juga meliputi sejarah panjang, keberlanjutan bahan lokal, inovasi dalam pengolahan, hingga peran masyarakat dalam menjaga identitas makanan tersebut. Dan langkah ini sendiri menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan diri ke kancah dunia— terlebih sudah memiliki modal kuat untuk bersaing.

Warisan Kuliner Khas Salatiga

Tumpang Koyor Mbah Rakinem (tourism.salatiga.go.id)

Di balik setiap hidangan, tersimpan cerita panjang tentang tradisi, resep turun-temurun, hingga perjuangan para pelaku usaha yang setia menjaga rasa khasnya. Jadi, tidak heran jika kuliner legendaris menjadi pondasi kuat dalam upaya menjadikan Salatiga sebagai kota gastronomi dunia.

Beberapa di antaranya bahkan masuk dalam daftar Culinary Heritage atau warisan kuliner kota, seperti Tumpang Koyor Bu Kori, Bakso Taman Sari, Ronde Jago, Roti Tegal, Kopi Babah Kacamata, Enting-enting Gepuk Cap Klenteng dan 2 Hoolo, Soto Kesambi, Gethuk Kethek, dan Soto Esto.

Warisan kuliner ini bukan hanya disukai masyarakat lokal, tapi juga banyak menarik perhatian wisatawan. Setiap hidangan yang tersaji seakan menjadi “pintu masuk” untuk mengenal lebih dalam budaya dan kehidupan warga Salatiga. Tidak berlebihan rasanya jika keberadaan kuliner-kuliner legendaris inilah yang membuat Salatiga semakin percaya diri untuk menapaki jalannya menuju pengakuan UNESCO.

Inovasi Melalui Food Startup

Selain kuliner tradisional, Salatiga juga diperkaya oleh hadirnya berbagai food startup kreatif. Contohnya ada Dzikro dengan produk cokelat kacang, Broker’Z dengan makaroni kekinian, Sobat Ngelak dengan minuman segar, hingga RitellaQu yang berhasil mengekspor keripik singkong ke luar negeri.

Kehadiran food startup ini menunjukkan bahwa generasi muda Salatiga juga ikut aktif menjaga warisan kuliner sambil menghadirkan inovasi baru agar kuliner lokal bisa bersaing di pasar global.

Masyarakat Duta Gastronomi Salatiga (MDGS)

Bundaran Salatiga (Visual Karsa/unsplash)

Salah satu langkah penting yang dilakukan adalah pembentukan komunitas Masyarakat Duta Gastronomi Salatiga (MDGS). Komunitas ini lahir dari program pelatihan kuliner, branding, dan pemasaran yang diinisiasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Salatiga. Ada lebih dari 80 peserta yang kini tergabung, saling mendukung, dan terus berinovasi.

MDGS juga difasilitasi ruang khusus untuk memamerkan produk, ikut serta dalam expo, hingga tampil dalam ajang besar seperti Jateng Fair. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa masyarakat punya peran penting dalam mewujudkan Salatiga sebagai kota gastronomi dunia.

Nah, Teman Setia, menarik bukan melihat bagaimana Salatiga berproses menuju City of Gastronomy? Dari kuliner tradisional yang melegenda, inovasi food startup, hingga komunitas Duta Gastronomi—semuanya berperan penting dalam menjaga identitas kota. Jadi, bila mampir ataupun bermain ke Salatiga, jangan lupa cicipi kuliner khasnya, karena setiap gigitan menyimpan cerita budaya yang berharga!

Please follow and like us:
Pin Share

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow by Email
Instagram
Telegram