Permasalahan stunting masih menjadi isu kesehatan yang membutuhkan perhatian serius, tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. Stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak yang berada di bawah rata-rata, melainkan gambaran dari kekurangan gizi kronis yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Di tengah upaya penurunan angka stunting yang terus dilakukan, hadir Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta konsep gizi berkelanjutan sebagai strategi yang diharapkan mampu menjawab tantangan pemenuhan gizi masyarakat secara menyeluruh dan berjangka panjang.
NGOBRAS kali ini, Dj Gita Nugraha bersama dr. Firda dari RSUD Kota Salatiga membahas isu stunting, mulai dari pentingnya pemenuhan gizi sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan, peran ASI dan MPASI, hingga upaya pencegahan melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penerapan gizi berkelanjutan berbasis pangan lokal.
Stunting: Masalah Gizi Kronis yang Dimulai Sejak Dini
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak yang ditandai dengan tinggi badan lebih pendek dibandingkan standar usianya berdasarkan kurva pertumbuhan WHO. Kondisi ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh kekurangan gizi kronis yang berlangsung lama, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan, mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Menurut dr. Firda Nurachma, penyebab stunting sangat kompleks dan saling berkaitan. Faktor-faktor tersebut meliputi asupan gizi yang tidak mencukupi kebutuhan, kondisi sosial ekonomi keluarga, rendahnya pengetahuan tentang gizi, serta infeksi berulang yang menurunkan daya tahan tubuh anak. Oleh karena itu, pencegahan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan memerlukan pendekatan lintas sektor dan berkelanjutan.
Dikutip dari ayosehat.kemkes.go.id, stunting berhubungan erat dengan peningkatan risiko gangguan perkembangan kognitif, penurunan daya tahan tubuh, hingga produktivitas yang lebih rendah di usia dewasa. Kekurangan gizi mikro dan makro dapat menghambat pembentukan serta pembelahan sel, termasuk sel-sel vital dalam tubuh yang berperan penting dalam pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak, sehingga dampaknya bisa dirasakan hingga jangka panjang.
Pencegahan Sejak Remaja, Kehamilan, hingga Masa MPASI
Pencegahan stunting idealnya dimulai bahkan sebelum seorang perempuan memasuki masa kehamilan. Pada masa remaja, khususnya remaja putri, memegang peran penting dalam memutus rantai stunting. Pemerintah mendorong pemberian tablet tambah darah atau yang dikenal sebagai “Pil Cantik” bagi siswi SMP dan SMA untuk mencegah anemia yang menjadi salah satu faktor risiko stunting di masa depan.
Selama kehamilan, pemantauan rutin melalui layanan antenatal care di puskesmas menjadi langkah krusial untuk memastikan status gizi ibu dan janin tetap optimal. Ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis memerlukan intervensi berupa pemberian makanan tambahan agar risiko melahirkan bayi stunting dapat ditekan.
Pada masa menyusui, ibu dianjurkan memberikan ASI hingga anak berusia dua tahun. Namun, bukan hanya kuantitas ASI yang penting, melainkan juga kualitasnya. Kualitas ASI sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan dan kecukupan gizi ibu menyusui, sehingga ibu perlu menjaga pola makan seimbang selama masa menyusui.
Memasuki usia enam bulan, anak membutuhkan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang bergizi seimbang. MPASI ideal tidak hanya terdiri dari satu jenis makanan, tetapi mencakup karbohidrat, protein, dan lemak. Lemak bahkan dibutuhkan pun dalam jumlah lebih tinggi dibandingkan orang dewasa karena berperan penting dalam perkembangan otak anak. Maka dari itu, ibu perlu memastikan variasi menu MPASI diberikan secara bertahap dengan porsi dan tekstur yang sesuai usia, serta memanfaatkan bahan pangan yang mudah diakses dan bernilai gizi tinggi.
Peran Program MBG dan Gizi Berkelanjutan dalam Menekan Stunting
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asuhan gizi seimbang, terutama selama masa tumbuh kembang. Program ini bertujuan memperbaiki status gizi, meningkatkan daya tahan tubuh, serta mendukung konsentrasi dan produktivitas anak, terlebih berbagai kajian menunjukkan persentase anak Indonesia mengalami kekurangan gizi mencapai lebih dari 20 hingga 30 persen.
Dalam konteks pencegahan stunting, MBG berperan penting dalam mengatasi faktor sosial ekonomi yang memengaruhi ketersediaan pangan. Menu MBG diharapkan dapat menjadi contoh pola makan sehat bagi keluarga di rumah karena telah mengombinasikan sumber protein hewani dan nabati secara seimbang. Pemerintah juga mendorong program “Ayo Makan Telur” karena telur merupakan sumber protein hewani berkualitas tinggi yang mudah diakses dan relatif terjangkau.
Upaya ini semakin kuat dengan penerapan konsep gizi berkelanjutan, yaitu pemenuhan kebutuhan gizi dengan tetap memperhatikan aspek kesehatan, lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi. Pemanfaatan pangan lokal tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga membantu mengurangi jejak karbon, meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak, serta memperkuat UMKM lokal.
Namun, implementasi gizi berkelanjutan masih menghadapi tantangan, mulai dari dampak perubahan iklim terhadap produksi pangan lokal hingga perubahan pola konsumsi anak yang cenderung menyukai makanan instan. Karena itu, edukasi gizi yang konsisten dan mudah dipahami menjadi kunci untuk mengenalkan kembali pangan lokal sebagai pilihan sehat dan bernilai gizi tinggi.
Kolaborasi Bersama Menuju Generasi Bebas Stunting
Pencegahan stunting bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan atau pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat. Mulai dari mengawal kualitas dan keamanan pangan, membiasakan pola makan sehat di keluarga, hingga menyebarkan edukasi gizi di lingkungan sekitar.
Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, upaya pencegahan stunting diharapkan dapat berjalan lebih efektif. Harapannya, anak-anak di Kota Salatiga dapat tumbuh dengan status gizi yang baik dan menjadi generasi penerus yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

No responses yet