KBRN, Yogyakarta: Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan Dusun Ngablak dan Watugender Yogyakarta merupakan ladang rezeki bagi pemulung dan pengepul barang bekas.

Sebagai tempat pembuangan akhir sampah terbesar di Yogyakarta, TPST Piyungan telah memberi berkah selama 25 tahun terakhir.

Tak terkecuali di Bulan Ramadan, pintu rezeki di TPST Piyungan tetap terbuka, mengalir berkah ke saku para pemulung.

Seperti dilakoni Nuri Hidayah. Bapak tiga anak berusia 65 tahun ini tetap mendulang rezeki dari tumpukan sampah, namun tetap kokoh menjalani ibadah puasa di dalam keimanan.

“Saya cari plastik, kardus, botol, apa pun yang bisa dijual,” tuturnya ketika ditemui RRI.co.id, Minggu (9/5/2021).

Baginya, panggilan hati untuk menjalankan ibadah di bulan yang penuh keberkahan tak bisa ditanggalkan hanya demi mencari keduniawian.

“Tapi kalau bulan puasa nggak bisa full, sekuatnya saja. Jadi, kerja lebih santai,” ungkap bapak tiga orang anak ini.

Di gubuk seluas hanya 2×2 meter, tangan kasar Nuri bergiyu telaten memilah-milah sampah. Lelaki kelahiran Gunungkidul tersebut tak merasa terkungkung ketika bekerja.

“Biasanya setiap hari berangkat pukul 06:00 sampai puku 16:00. Kalau capek ya istirahat, sekarang saya tinggal di bawah (dekat TPST). Nggak perlu terlalu ngoyo,” ujar dia.

Awalnya, Nuri berprofesi sebagai tukang kayu dan batu. Dirinya sering mengikuti proyek-proyek pembangunan di Ibu kota Jakarta. Namun seiring usia, Nuri memilih memulung sampah dengan TPST Piyungan.

“Sudah tua, Mas. Dulu masih kuat, sekarang saya kerja santai saja. Seperti ini tidak capek, tapi memang kendalanya panas,” ungkapnya tanpa mengeluh.

Siasati waktu

Hal yang sama juga dilakukan Sukardi warga Sitimulyo Piyungan. Selama 24 tahun memulung sampah, dirinya tak pernah mengabaikan kewajiban berpuasa meski ibadah itu tidaklah mudah.

Menyiasatinya, Sukardi pun memperpendek waktu pekerjaannya ketika bulan Ramadan tiba.

“Kalau sekarang ya berangkat pukul 07:00 sampai pukul 11:00. Nanti saya pulang, dan kemudian jemput istri saya yang memulung di sini juga sekitar pukul 14:00,” paparnya.

Dengan pekerjaan yang lebih ringan, waktu luang ia manfaatkan untuk beribadah mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

“Sekuatnya saja, Mas, yang terpenting puasanya tidak batal,” kata Sukardi.

Tak hanya kaum pria, banyak juga wanita yang memulung sampah di TPST Piyungan tetap menjalankan ibadah puasa. Mayoritas mereka juga masih harus menjalankan kewajiban domestik sebagai ibu rumah tangga. Ibu Bagus merupakan salah satu di antaranya.

Dirinya tetap menjalankan puasa, di tengah kesibukannya mencari dan memilah sampah di Bukit Sampah Piyungan.

“Ya sehari paling tidak dapat Rp50 ribu terkadang lebih. Saya tetap puasa biasanya, tapi karena semalam tidak sahur, dan hari ini panas banget, saya tidak puasa. Tapi biasanya puasa, Mas,” katanya.

Walaupun di tengah kondisi yang tetap mengharuskan mereka mencari sesuap nasi, para pemulung dan pengepul sampah tetap menginginkan cahaya keimanan di bulan yang penuh ampunan, dapat merasuk ke dalam sanubari mereka. (ros)

Bagikan Dengan Sekali Klik: