KBRN, Jakarta: Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) sukses menyalurkan dana bergulir pada triwulan pertama mencapai Rp 553 miliar dari target Rp 1,6 triliun pada tahun 2021. Adapun jumlah koperasi yang mendapatkan pinjaman/pembiayaan dana bergulir tersebut sebanyak 60 unit, dan kurang lebih 500 UMKM. 

“Saya memberikan apresiasi kepada seluruh insan LPDB karena dalam sejarah di triwulan satu ini kita sudah bisa menyalurkan kepada seluruh koperasi yang di dalamnya itu ada UKM-UKM kita, yang mana di kondisi Pandemi ini sangat berdampak. Jadi mau nggak mau LPDB harus hadir,” kata Direktur Utama LPDB-KUMKM Supomo saat memberikan pengarahan dalam acara Berkah Ramadhan di kantornya, Jakarta, Selasa (4/5/2021) malam. 

Capaian pada triwulan pertama ini diharapkan dapat memotivasi seluruh insan LPDB-KUMKM untuk lebih semangat lagi dalam melakukan tugas penyaluran dana bergulir kepada koperasi mitra di seluruh Tanah Air. Sehingga dengan demikian target yang diberikan oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan untuk menyalurkan dana bergulir sebesar Rp 1,6 triliun dapat tercapai hingga akhir tahun 2021. 

“Kenapa triwulan satu bisa mencapai Rp 553 miliar, karena jeripayah kalian, karena kepiawaian kalian, juga pantang menyerah, tidak mengenal lelah, dan kerja keras yang luar biasa. Ke depan insya Allah atas ridho Allah pada bulan Ramadhan ini kita berkumpul di sini kita akan bisa melewati triwulan dua, triwulan tiga, triwulan empat dengan lancar sebagaimana halnya dengan triwulan satu,” ungkap Supomo.

Supomo mengatakan nilai penyaluran dana bergulir Rp 553 miliar tersebut terdiri dari pinjaman konvensional sebesar Rp 252 miliar dan pembiayaan syariah sebesar Rp 301 miliar. Untuk Koperasi Simpan Pinjam (KSP) menyerap 85 persen, sedangkan 15 persen sisanya bagi sektor riil atau pangan yang meliputi peternakan susu, holtikultura, koperasi produksi ikan, maupun koperasi produksi tahu-tempe. Adapun penyaluran dana bergulir tersebar di 12 provinsi, Jawa Tengah tercatat sebagai provinsi dengan jumlah penyerapan terbanyak.

“Kenapa Jawa Tengah atau pada umumnya Jawa karena memang jumlah koperasi-nya banyak dan semua kepala dinas baik di provinsi, kabupaten, maupun kota menginkubasi itu bagus, dan aksesnya bagus. Jadi itu memang karena peran pemerintah daerah melalui dinas-dinas,” papar Supomo.

Dalam menyalurkan dana bergulir LPDB-KUMKM menggunakan dua pola sekaligus, yakni konvensional, syariah. Dari total target penyaluran tahun 2021 sebesar Rp 1,6 triliun, LPDB-KUMKM lebih memfokuskan pada pola syariah, bahkan pada capaian triwulan pertama sebesar Rp 553 miliar, pola syariah lebih mendominasi, yakni mencapai 54 persen (Rp 301 miliar).

“Kenapa fokus ke syariah karena tahun-tahun kemarin syariah itu masih kecil porsinya, sehingga kita coba sama-sama kenapa di sana banyak koperasi-koperasi syariah baik itu KSPPS, BMT maupun yang berbasis pondok pesantren itu adalah suatu sektor ekonomi yang banyak menunjang pertumbuhan ekonomi,” papar Supomo.

“Karena mereka-lah (KSPPS, BMT, ponpes) yang sebenarnya menggerakkan ekonomi, karena untuk satu pesantren saja bisa sampai 10 ribu – 16 ribu santrinya. Nah itu berapa gerakan ekonomi yang mengalir di situ sehingga ini perlu diedukasi atau diinkubasi sehingga menjadi suatu pola gerakan ekonomi di pesantren,” lanjutnya.

Pandemi Covid-19 dikatakan turut mempengaruhi kinerja usaha koperasi karena terganggu akan masalah likuiditas, sehingga dengan kondisi ini membuat koperasi banyak yang mengalami gagal bayar. Karena itu, LPDB-KUMKM melalui Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki membuat suatu kebijakan yakni menetapkan dana bergulir 100 persen disalurkan kepada koperasi. Alhasil kebijakan itu mampu menghidupkan kembali ‘nafas’ koperasi yang sempat mengalami masalah likuiditas. 

“Boleh saya klaim kita berhasil untuk menahan supaya tidak ada tambahan dari koperasi yang gagal bayar, karena salah satu jantung dari koperasi simpan pinjam itu adalah likuiditas. Likuiditas itu asalnya dari penyimpan-penyimpan. Itulah LPDB hadir sehingga simpanan yang ditarik, diimbangi dengan pembiayaan dari LPDB sehingga anggota-anggota yang melakukan usaha produktif bisa menarik pinjaman karena likuiditasnya sudah tersedia,” ujar Supomo.

Supomo menjelaskan bahwa LPDB-KUMKM diberikan amanat bukan hanya menyalurkan dana bergulir saja, namun melakukan pendampingan kepada calon mitra atau mitra yang sudah existing sebagaimana yang amanatkan dalam Permenkop nomor 04 Tahun 2020. Untuk melakukan pendampingan, di tahun 2021 ini LPDB-KUMKM telah memilih 8 Inkubator Wirausaha.

Di antaranya, Badan Inovasi dan Inkubator Wirausaha Universitas Brawijaya (BIIW) Jawa Timur, Inkubator Bisnis LPPM Universitas Udayana Bali, Siger Innovation Hub Lampung, Pusat Inkubator Bisnis Universitas Ottow Geissler Papua, Cubic Inkubator Bisnis Jawa Barat, Badan Pengembangan Bisnis Rintisan dan Inkubasi Universitas Airlangga Jawa Timur, Pusat Inkubator Bisnis-Oorange Universitas Padjajaran Jawa Barat, dan Pusat Pengembangan Inovasi dan Inkubator Bisnis Teknologi Universitas Tanjungpura Kalimantan Barat.

Program ini bertujuan untuk memitigasi dampak pandemi Covid-19 dan mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Dengan menginkubasi pelaku usaha khususnya KUMKM, LPDB-KUMKM diharapkan dapat mendorong peningkatan kewirausahaan hingga mampu berkontribusi pada peningkatan ekonomi nasional.

Beli Produk UMKM

Dalam kesempatan itu, LPDB-KUMKM menggelar acara Berkah Ramadhan dengan melibatkan para pedagang kaki lima (PKL) di sekitar. Acara Berkah Ramadhan yang dihadiri oleh para Direksi dan karyawan LPDB-KUMKM bertujuan untuk membantu para UMKM dalam menghadapi masa sulit akibat pandemi Covid-19.

“Alhamdulillah kita bisa berkumpul pada suasana makan takjil bersama. Sengaja kita ajak, para pelaku UKM yang ada di sekitar sini kita panggil, kita ber takjil bersama, karena kita pengen menikmati takjil ini bersama,” kata Supomo. 

Ia mengatakan bukan hanya industri besar yang terdampak akibat pandemi Covid-19, namun juga UMKM. Oleh karena itu, lanjut ia MenkopUKM Teten Masduki terus berpesan agar Kementrian dan Lembaga (K/L) memberi ruang dan peluang seluas-luasnya kepada UMKM dalam memasarkan usahanya. Selain itu, 40 persen anggaran belanja K/L juga diharapkan dapat menyerap produk UMKM sehingga membuka peluang pasar bagi UMKM.

“Terkait hal ini, LPDB-KUMKM hadir dan mengupayakan semaksimal mungkin agar pelaku usaha khususnya UMKM dapat mampu bertahan melewati masa-masa sulit akibat pandemi Covid-19,” katanya.

Yang menarik dari acara ini, pedagang-pedagang kecil dan PKL di lingkungan sekitar diundang, sekaligus diberi tempat di halaman depan kantor LPDB-KUMKM untuk menjajakan barang daganganya menjelang buka puasa. Setelah itu oleh para direksi dan karyawan yang hadir produk UMKM berupa makanan takjil buka puasa diborong. Melalui acara Berkah Ramadhan LPDB-KUMKM ini membantu UMKM. 

“Terlebih LPDB-KUMKM merupakan satuan kerja Kementerian Koperasi dan UKM, dimana tugas dan peranannya sangat diperlukan dalam meningkatkan perekonomian nasional,” kata Supomo.

Bagikan Dengan Sekali Klik: