KBRN, Jakarta:  Ketua Pusat Studi Migrasi Migrant Care Anis Hidayah mencermati seputar peringatan Hari Buruh Internasional (Mayday) yang jatuh pada 1 Mei 2021. 

Menurutnya, sejak pandemi Covid-19 terjadi di Indonesia, jutaan buruh di dalam negeri kehilangan pekerjaan. 

Selain itu, ada juga yang tetap bekerja tetapi dengan gaji separuh, bahkan tanpa gaji. Diantara mereka ada yang sudah terjangkau bansos, tapi masih banyak yang belum. 

“Untuk cari pekerjaan baru dalam situasi seperti ini dmn?” tanya Anies di akun Instagramnya yang dilihat RRI.co.id, Sabtu (1/5/2021).

Sementara buruh migran juga situasinya tak berbeda, lanjutnya, pulang karena PHK. Pulang karena cuti tapi tak bisa kembali lagi. Ada yang tetap bekerja, tetapi gaji juga tak 100%. Bagi PRT migran, situasinya tentu makin sulit, ham kerja makin panjang, tak ada libur, tak bisa keluar rumah, makin depresi dan makin rentan terhadap kekerasan. 

“Bagi yang pulangpun, tidak otomatis dapat bansos, karena dianggap bukan kategori miskin,” jelasnya.

“Dan bagi yang sudah pulang,banyak diantara mereka yang distigma sebagai pembawa virus di berbagai daerah,” tambahnya. 

Padahal, lanjutnya ini pandemi dan global. 

“Ingat nggak, waktu pemerintah mengumumkan ada virus baru jenis B117 di karawang, katanya pembawa virus itu adalah 2 buruh migran yang baru pulang dari Saudi. Temuan itu katanya teridentifikasi dr hasil tes PCR. Saya nggak ngerti masak sih hasil tes pcr memperlihatkan jenis virusnya, yang saya tahu hanya positif atau negatif,” terangnya.

Disisi yang lain, menurut Anies, buruh migran juga makin rentan jadi korban trafficking dan penipuan sejak pandemi. “Sindikat makin intensif mencari korban terutama lewat facebook, memanfaatkan situasi yang makin sulit,” pungkasnya. (foto: Instagram Anies Hidayah)

Bagikan Dengan Sekali Klik: