KBRN, Jakarta: Hari Buruh Internasional atau biasa disebut Mayday diperingati oleh kalangan buruh dan pekerja setiap tanggal 1 Mei.

Lalu bagaimana sejarah munculnya Hari Buruh Internasional?

Pada awalnya perayaan itu dirayakan oleh orang Yunani dan Romawi kuno sebagai ritual praktik pertanian. Perayaan tersebut dimaksudkan untuk menyambut pergantian musim.

Hal tersebut bermula pada abad ke-19, yaitu disaat para buruh mengadakan gerakan demonstrasi untuk memperoleh hak-hak pekerja pada saat itu.

Karena pada masa revolusi industri saat itu, ribuan buruh meninggal karena kondisi pekerjaan yang buruk dan jam kerja yang panjang.

Sementara, untuk mengakhiri kondisi yang tidak manusiawi tersebut, Federasi Buruh Amerika, atau AFL mengadakan  konvensi di Chicago pada tahun 1884.

ada abad ke-20, hari libur 1 Mei tersebut mendapat pengesahan resmi dari Uni Soviet, dan juga dirayakan sebagai Hari Solidaritas Buruh Internasional, terutama di beberapa negara Komunis. 

Namun begitu, Amerika Serikat tidak merayakan Hari Buruh pada 1 Mei, tapi pada hari Senin pertama bulan September (1 Mei adalah Hari Loyalitas, hari libur resmi tetapi tidak diakui secara luas di Amerika Serikat). 

Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa alasannya adalah untuk menghindari peringatan kerusuhan yang terjadi pada tahun 1886, demikian dikutip Office Holidays.

Sementara itu, Kanada, Australia, Selandia Baru, dan Belanda juga merayakan Hari Buruh pada tanggal yang berbeda, meskipun itu ada hubungannya dengan bagaimana liburan itu berasal di negara-negara tersebut. Di Indonesia sendiri Hari Buruh Internasional diperingati setiap 1 Mei yang merupakan hari libur (tanggal merah). 

May Day ini telah lama menjadi titik fokus demonstrasi oleh berbagai kelompok komunis, sosialis, dan anarkis.

Sebutan May Day ini berbeda dengan frasa Mayday. May Day adalah Hari Buruh Sedunia, sementara Mayday adalah kata prosedur darurat yang digunakan secara internasional sebagai sinyal bahaya dalam voice-procedur komunikasi radio. 

Istilah “mayday” ini digunakan untuk menandakan keadaan darurat yang mengancam jiwa terutama oleh penerbang dan pelaut. Di beberapa negara, istilah “mayday” ini juga digunakan oleh organisasi lokal seperti pemadam kebakaran, polisi, dan organisasi transportasi. 

Sebagaimana dikutip dari Navigation Center, kata “mayday” tersebut diharuskan diulangi tiga kali berturut-turut saat komunikasi darurat awal (“Mayday mayday mayday”) untuk mencegahnya disalahartikan sebagai frasa yang terdengar serupa di bawah kondisi bising. (imr)

Bagikan Dengan Sekali Klik: