KBRN, Banda Aceh :  Muhammad Taisir Fajrian adalah seorang pemuda yang berasal dari Kabupaten Aceh Selatan. Pemuda ini rela pisah dari keluarganya untuk menuntut ilmu demi mewujudkan cita-citanya menjadi Hafiz Quran. 

Muhammad Taisir Fajrian. Sudah sejak tahun 2018 Ia menempuh pendidikan di Dayah Insan Qurani di Desa Aneuk Batee, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh untuk menjadi hafiz 30 juz. 

Di tempat bangunan sederhana inilah, Muhammad Taisir menghafal quran. Meski sudah mampu menghafal 30 juzz, Muhammad Taisir Fajrian masih memperdalam ilmu hafalannya, karena jika tidak diasah secara terus menerus maka ayat-ayat quran yang telah dihafal bisa lupa. 

“Alhamdulillah selama saya mengikuti program tahfiz khusus, saya mendapatkan hafalan 25 juz dalam setahun program tahfiz khusus dan setelah saya melanjutkan program ke jenjang aliyah Insan Qurani saya mendapatkan hafalan lima juz lagi, jadi alhamdulillah saya sudah mendapatkan hafalan 30 juzz,” ungkap Taisir saat ditemui rri.co.id, Senin (26/4/2021). 

Muhammad Taisir juga menceritakan suka duka selama mondok di dayah Insan Qurani. Kadang dia harus menahan keinginan untuk pulang ke kampung halaman di Kampung Hulu, Kecamatan Tapak Tuan,  Kabupaten Aceh Selatan karena jarak dan keterbatasan biaya. 

“Kalau pulang ke kampung jarang, karena kita di asrama. Namun kadang setiap satu atau dua bulan sekali orang tua saya datang berkunjung ke dayah Insan Qurani untuk berkunjung, kalau memang kebetulan orang tua saya ada ke Banda Aceh, karena jarak dari kampung saya ke  dayah ini kurang lebih 14 jam perjalanan darat,” ujarnya. 

Ada motivasi yang mendorong Taisir untuk menjadi hafiz, salah satunya ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. 

“Karena saya melihat pemuda di Aceh begutu semangat menghafalkan Al Quran, apalagi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat dibutuhkan seluruh umat muslim. Saya termotivasi untuk mengahfalkan kalam Allah SWT, supaya saya bisa dapat mebanggakan kedua orang tua saya baik dunia maupun di akhirat,” katanya. 

Setelah lulus, nanti ia berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. “Jika ada kesempatan saya ingin melanjutkan pendidikan saya ke luar negeri, seperti di sejumlah negara timur tengah,” ucapnya. 

Di Dayah ini, tidak ada fasilitas mewah. Bahkan masjid yang sering digunakan para santri untuk beribadah dan menghafal Al-Quran juga belum rampung 100 persen. 

Dayah Insan Qurani memiliki asrama putra dan putri. Selain itu juga memiliki sekitar 24 ruang belajar MTs dan MAN, namun bangunan ruang sekolah di dayah ini juga terbilang cukup sederhana. Meski kondisi demikian, namun ternyata dari sinilah banyak santriwan dan santriwati ditempa ilmu menjadi seorang hafiz-hafizah. 

Dayah Insan Qurani terdapat 200 lebih  tenaga pengajar. Salah satunya adalah Ustaz Afdhal Mutasir. Pria asal Lamreung, Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar ini telah mengajar para santri sejak dayah ini didirikan. 

“Saya mengajar di dayah ini sejak dayah ini didirikan pada tahun 2014, jadi banyak sekali kisah-kisah menarik dari dayah ini,” kata Ustaz Afdhal. 

Kepala Bidang Pengembangan Tahfidz Quran Dayah Insan Qurani itu juga menceritakan suka duka selama mengajar para santri. 

“Banyak suka dukanya, kadang-kadang kita mengajar para santri ini membutuhkan kesabaran, misal saat santri harus bangun subuh kadang mereka susah sekali untuk bangun, kadang ada yang sudah bangun tapi tidur lagi. Hal-hal seperti ini sudah biasa terjadi di dayah manapun,” ungkapnya. 

Berkat dirinya, telah banyak para santriwan dan santriwati menjadi penghafal Al-Quran,  bahkan mereka juga meraih berbagai penghargaan di sejumlah ajang perlombaan bergengsi baik tingkat nasional maupun internasional. 

“Kita lihat dari kemampuan individu, ada kalanya santri menghafalkan Al-Quran kurang dari setahun, ada juga yang sudah 6 tahun tidak khatam juga. Jadi bagaimananpun kita memaksa, memotivasinya, tapi kemampuan hanya segitu. Tapi apakah bisa menghalang mereka menghafal Al Quran 30 juz, tentu jawabanbya tidak,” kata Afdhal. 

Untuk memudahkan para santri menghafal Al-Quran, dirinya juga mengajarkan berbagai metode. Namun menurutnya, menghafal Al-Quran itu harus dimulai dari keinginan diri sendiri. 

Motivasinya yang mendorong untuk mengajarkan santri sebagai hafiz quran juga karena melihat perkembangan zaman yang semakin pesat, namun generasi penghafal quran sudah berkurang. Sebab itulah, dirinya berkeinginan untuk mencetak para generasi penghafal quran agar mampu mengamalkan segala ilmu yang terkandung di dalamnya. 

“Hampir semua dayah memasukan program tahfiz Al-Quran, kita mendidik mereka di sini menjadi seorang penghafal Al-Quran, tentu juga bisa menguasai ilmu teknologi seusai dengan perkembangan zaman saat ini,” ujarnya. 

Dayah insan Qurani didirikan pada tahun 2014, salah satu pendirinya adalah Ustaz Muzakkir. Dulunya, bangunan ini bekas panti asuhan, namun kini telah berubah menjadi dayah Insan Qurani. 

Ada 901 orang santri yang belajar menjadi hafiz quran disini, terdiri dari 438 orang santriwan dan 464 santriwati. Mereka berasal dari sejumlah kabupaten kota di Aceh, bahkan ada yang berasal dari Malaysia. Demikian diungkapkan Humas Dayah insan qurani Rahmatul Fahmi. 

Ia mengatakan, selain mengajarkan metode hafal quran, disini juga terdapat sekolah tingkat MTs dan MAN. Para santri di sini juga diajarkan baca kitab kuning hingga penyaluran bakat prestasi. 

“Dayah Insan Qurani hingga saat ini sudah memiliki lima angkatan alumni, di antaranya sudah tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan luar negeri,” kata Fahmi. 

Sejumlah alumni Insan Qurani kini banyak tersebar di negara-negara timur tengah. “Kita punya alumni di Mesir, Yaman, Sudan dan sejumlah negara lain. Insan Qurani juga punya program pembinaan bakat minat, di antaranya cabang lonba MTQ, fahmil quran, tahfiz quran, dan juga ada kegiatan ekstra kurikuler seperti pramuka dan tarung derajat dan berbagai cabang olahraga lainya,” jelas Fahmi. 

Khusus pada bulan Ramadan ini, para santri dayah Insan Qurani juga mengikuti program khusus tahfiz quran, mereka yang berjumlah 385 orang dikarantina sejak awal Ramadan hingga 20 Ramadan nanti. 

Labih lanjut kata Fahmi, setiap diselenggarakan ajang perlombaan, santri di dayah ini tidak pernah absen untuk menjadi peserta. Maka wajar saja, sederet penghargaan diperoleh para santri.  

Salah satu Lomba yang paling bergengsi di level internasional juga pernah di raih oleh santri dayah Insan Qurani yaitu pada lomba Musabaqah Hizil Quran (MHQ) ke-4 tingkat ASEAN pada tahun 2018 dan 2019 lalu. (imr)

Bagikan Dengan Sekali Klik: