KBRN, Jakarta: Di masa pandemi Covid-19, pengembangan komoditas unggulan hortikultura, khususnya tanaman obat trennya meningkat.

Hal ini didorong oleh kebutuhan masyarakat terhadap produk-produk herbal yang berkhasiat untuk meningkatkan imun tubuh.

Salah satu komoditas tanaman obat yang meningkat permintaannya adalah jahe merah.

Deputi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud yang diwakili Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Hortikultura Yuli Sri Wilanti melakukan pertemuan dengan para pihak terkait yang bertujuan untuk membahas upaya kerjasama beberapa stakeholders dalam pengembangan jahe merah yang saat ini dikembangkan oleh Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

“Permasalahan utama dalam pengembangan komoditas hortikultura adalah pemasaran hasil. Untuk itu perlu dicarikan solusi melalui kerjasama kemitraan dengan offtaker yang mampu menyerap hasil petani secara berkelanjutan,” kata Yuli Sri Wilanti dalam keterangan tertulis yang diterima RRI.co.id, Senin (26/4/2021).

Kerjasama yang dibangun untuk memberdayakan masyarakat dan meningkatkan perekonomian daerah tersebut sesuai dengan pernyataan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto beberapa waktu lalu bahwa Pemerintah mendorong sektor perekonomian masyarakat di setiap daerah untuk menggenjot perekonomian di wilayah tersebut.

Dalam pertemuan kerjasama itu, Bupati Ngada (NTT) Andreas Paru menyatakan bahwa Kabupaten Ngada siap memproduksi jahe merah dengan produktivitas tinggi mencapai 20 ton/hektar.

Saat ini telah dikembangkan jahe meraoh di lahan seluas 8 hektar dan secara bertahap akan diperluas hingga 100 hektar.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada pun sudah dialokasikan untuk mendukung jahe merah.

Sementara Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian ingin memastikan bahwa produksi jahe merah ini nantinya dapat terserap pasar.

Oleh karenanya, diinisiasi kerjasama kemitraan dengan offtaker jahe merah yaitu PT Bintang Toedjoe.

Bintang Toedjoe sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang farmasi membutuhkan jahe merah dalam jumlah yang terus meningkat setiap tahunnya.

Pada tahun 2020, kebutuhan jahe merah mencapai 600 ton/tahun dan tahun ini diperkirakan akan semakin meningkat.

Bintang Toedjoe masih membutuhkan jahe merah dari berbagai daerah, namun tidak semua jahe merah dapat diterima.

Menurut Head of Business Development PT Bintang Toedjoe Sari Pramadiyanti terdapat beberapa kriteria jahe merah yang dipersyaratkan, di antaranya jahe merah ditanam di ketinggian sekitar 300-700 mdpl, produktivitas 1 ton benih menghasilkan panen 10- 12 ton, dan dukungan fasilitas handling pasca panen di sekitar lokasi kebun serta persyaratan lainnya.

Untuk memastikan kualitas jahe merah hasil panen Kecamatan Bajawa Kabupaten Ngada, dalam waktu dekat akan dilaksanakan kunjungan ke wilayah tersebut.

Agenda ini juga nantinya akan diikuti oleh iGrow yang akan membantu permodalan untuk pengembangan komoditas jahe merah di Kabupaten Ngada.

“Diharapkan melalui sinergi dan kolaborasi beberapa stakeholders ini dapat mendorong pemberdayaan masyarakat petani dan mempercepat upaya pemulihan ekonomi di Kabupaten Ngada,” kata Yuli Sri Wilanti. (Miechell Octovy Koagouw)

Bagikan Dengan Sekali Klik: