KBRN, Jakarta: Pemerintah Inggris mengumumkan penetapan target perubahan iklim paling ambisius di dunia dan menjadikan target ini, sebagai undang-undang untuk pengurangan emisi hingga 78 persen pada tahun 2035 dibandingkan dengan tingkat emisi di tahun 1990.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste Owen Jenkins mengatakan, target Nol Bersih membutuhkan transisi ekonomi secara keseluruhan dan tidak berkontribusi pada perubahan iklim, termasuk di semua sektor ekonomi  untuk mencapai target pengurangan emisi yang ambisius.

“Inggris senang bisa bekerja sama dengan Indonesia di bidang kehutanan, komoditas berkelanjutan, perkotaan dan transportasi, dan juga di sektor energi serta perencanaan rendah karbon,” ucap Jenkins dalam keterangan resmi yang dilansir RRI.co.id, Senin (26/04/2021).

Menurut Owen dalam aksi iklim tahun ini, Indonesia berpotensi menjadi negara adidaya energi baru terbarukan dan pemimpin global dalam transisi dari bahan bakar fosil menuju masa depan energi rendah karbon yang berkelanjutan.

“Inggris bangga dapat mendukung transisi Indonesia melalui program Mentari, yaitu Kemitraan Energi Rendah Karbon antara Inggris dan Indonesia yang memanfaatkan keahlian domestik dan internasional untuk meningkatkan investasi dalam energi baru terbarukan, dan meningkatkan akses energi untuk pembangunan ekonomi,” jelas Owen.

Selain Duta Besar Owen mengungkapkan, Prakarsa Pembangunan Rendah Karbon BAPPENAS sendiri menunjukkan bahwa pertumbuhan tercepat Indonesia dapat ditempuh melalui pengurangan emisi karbondioksida, melalui pembangunan ekonomi yang lebih sesuai untuk jangka panjang.

“Saat ini Indonesia baru menggunakan 2 persen dari potensi energi baru terbarukannya – jadi peluang untuk melakukan transisi secara cepat dan efisien sangatlah besar,” imbuhnya.

 Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan bahwa Inggris ingin terus meningkatkan standar penanganan perubahan iklim, dengan menetapkan target paling ambisius untuk mengurangi emisi di dunia.

“Inggris akan menjadi rumah bagi bisnis perintis, teknologi baru dan inovasi hijau saat kami membuat kemajuan menuju emisi nol bersih, meletakkan fondasi pertumbuhan ekonomi beberapa dekade ke depan melalui penciptaan ribuan pekerjaan,” ujar Johnson.

Lebih lanjut Johnson menjelaskan bahwa Inggris ingin melihat para pemimpin dunia mengikuti jejaknya dan menyelaraskan ambisi mereka dengan Inggris menjelang KTT iklim penting COP26.

“Kita bisa membangun kembali perekonomian menjadi lebih hijau dan melindungi planet ini jika kita bersatu mengambil tindakan bersama,” ungkap Johnson.

Dengan adanya target pengurangan emisi hingga 78 persen pada 2035 menempatkan Inggris pada posisi terdepan, menjelang aksi menjadi tuan rumah KTT iklim COP26 gelaran penting di penghujung tahun ini serta memenuhi persyaratan Perjanjian Paris bagi negara-negara untuk mengajukan target aksi iklim yang diperkuat setiap 5 tahun.

Melalui Kepresidenan COP26, Inggris mendesak negara-negara dan perusahaan-perusahaan di seluruh dunia untuk bergabung dengan Inggris dalam pencapaian target menuju nol bersih secara global pada pertengahan abad ini,  dalam upaya menjaga suhu panas dalam kisaran 1,5 derajat – dan menghindari dampak perubahan iklim yang paling dahsyat.

Untuk mencapainya, Inggris memiliki serangkaian ‘Anggaran Iklim’ – yang menjabarkan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencapai target keseluruhan. Sejalan dengan rekomendasi dari Komite Perubahan Iklim independen, Anggaran Karbon Keenam Inggris yang terkemuka akan membatasi volume gas rumah kaca yang diemisikan selama periode lima tahun dari 2033-2037, membawa Inggris lebih dari tiga perempat jalan menuju nol bersih pada tahun 2050. Anggaran Karbon (Carbon Budget) akan memastikan Inggris tetap berada pada jalur pengakhiran kontribusinya terhadap perubahan iklim sambil tetap konsisten memenuhi Perjanjian Paris, membatasi pemanasan global berada di bawah suhu 2°C dan mengejar upaya menuju 1,5°C. (Foto : Istimewa) 

Bagikan Dengan Sekali Klik: