KBRN, Jakarta: Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa membahas pengembangan Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto di Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim). Diantaranya seperti pembangunan taxiway dan rekonstruksi runway yang didanai dengan menggunakan Surat Berharga Syariah Negara. 

“Pengembangan Bandara APT Pranoto Samarinda (Kaltim) adalah bagian dari pembangunan konektivitas terpadu untuk mendukung IKN. Pengembangan ini merupakan integrasi tiga kota yaitu Balikpapan, Samarinda, dan IKN (Ibu Kota Negara) kelak. Pengembangan bandara ini akan disesuaikan dengan indikasi kapasitas ultimatehingga 20 juta penumpang tiap tahunnya,” kata Suharso Monoarfa dalam keterangan tertulis yang diterima RRI, Jumat (23/4/2021).

“Bandara (Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda) mampu menampung 1,5 juta penumpang tiap tahunnya dengan panjang runway 2.250 meter,” jelasnya. 

Dari Samarinda, Suharso kemudian melanjutkan perjalanan meninjau  Bendungan Sepaku Semoi di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kaltim. Bemdungan ini membendung Sungai Tengin dan akan berperan sebagai penyuplai air baku untuk IKN (Ibu Kota Negara) dengan kapasitas 0,5 m3/detik sekaligus penyuplai air baku Kota Balikpapan (Kaltim) dengan kapasitas 2 m3/detik. 

Selain bendungan, infrastruktur pendukung lain yang menjadi fokus tinjauan Kementerian PPN/Bappenas adalah Pelabuhan Kariangau Balikpapan yang menjadi simpul penting dari sisi logistik penunjang IKN. Saat ini, terdapat 5 terminal dengan total kapasitas 2,1 juta ton dan 630 ribu TEUs (twenty foot equivalent unit) peti kemas tiap tahunnya. 

“Kapasitas kargo di terminal ini bisa mencapai 300 ribu TEUs tiap tahunnya. Bahkan realisasi arus peti kemasnya meningkat sejak tahun 2015,” terangnya. 

“Pengembangan (Pelabuhan Kaltim Kariangau Terminal) akan selaras dengan pembangunan IKN dan Integrasi Tiga Kota yaitu Samarinda-Balikpapan-IKN akan menjadi kawasan industri terpadu. IKN tidak bisa berdiri sendiri, Bappenas mengibaratkan ibu kota ini, otaknya ada di IKN, hatinya di Samarinda, dan ototnya di Balikpapan,” tegasnya. 

Hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis IKN juga merekomendasikan Kaltim Kariangau Terminal (KKT) menjadi pelabuhan logistik utama bahan baku konstruksi pembangunan IKN. Pada 2015, arus peti kemas di KKT tercatat sebesar 171.275, kemudian meningkat menjadi 206.652 TEUs pada 2019.

Kedepannya, KKT akan terus dikembangkan secara bertahap hingga dapat mendukung kapasitas ultimatePelabuhan Balikpapan, mencapai 3,5 juta TEUs. Selain itu, KKT juga dikembangkan sesuai standar untuk menjadi Jaringan Pelabuhan Utama yang dapat menampung kapal dengan ukuran 2.500 TEUs.

Bagikan Dengan Sekali Klik: