Menyusui merupakan hak setiap para ibu, namun sayangnya hak tersebut tidak dapat terpenuhi secara maksimal. Hal ini menjadi tantangan bagi para wanita karier selama masa menyusui, padahal pemberian ASI eksklusif sangat penting bagi masa pertumbuhan, mencegah infeksi dan alergi pada bayi, serta mempererat ikatan batin antara anak dan ibu. Banyaknya halangan bukan berarti menjadi halangan untuk memberikan yang terbaik untuk anak.

Dalam 1000 Hari Pertama Kelahiran, peran ASI Eksklusif menjadi kunci utama untuk mencegah stunting sejak dini. Oleh karena itu, bekerja bukan menjadi penghalang bagi para ibu untuk memberikan ASI kepada anaknya. Kali ini Dj. Gita ditemani oleh dr. Listya Eko Wulandari, Sp.A membahas permasalahan apa saja yang dialami oleh para ibu bekerja dan tips-tips bagaimana untuk mengatasinya

Sudah Ada Peraturan, namun Belum Maksimal

via: texashealth.org

Untuk mendukung kelancaran para ibu bekerja dalam memberikan ASI Eksklusif pada anaknya, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif yang juga didukung dengan peraturan bersama dari Kementertian Pemberdayaan Perempuan, Menteri Tenaga dan Transmigrasi, dan Menteri Kesehatan. Sayangnya peraturan tersebut tidak terlaksana dengan baik. Banyak faktor yang menghambat pemberian ASI Eksklusif mulai dari pendeknya masa cuti , kurangnya toleransi dan dukungan dari sekitar, tidak adanya ruang untuk pumping dan fasilitas penyimpanan ASI, sampai kurangnya ilmu tentang ASI.

Meski penyebab para ibu memilih untuk stop memberikan ASI Eksklusif karena faktor ekonomi, hal ini tentunya tidak boleh menjadi alasan untuk menciptakan Generasi Emas tahun 2045. WHO sendiri menetapkan lama masa cuti melahirkan selama 6 bulan baik untuk cuti melahirkan dan menyusui setelah bekerja. Menanggapi keputusan WHO, Indonesia menciptakan RUU KIA, kendati demikian hal ini menimbulkan pro dan kontra antara perusahaan dan pekerja setelah disahkan.

Manfaat ASI Eksklusif untuk Cegah Stunting

via tessdrive.com

Masih menjadi permasalahan global, pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan kehidupan pertama dapat mengurangi risiko terkena berbagai penyakit baik menular maupun tidak, infeksi, dan alergi, memperkuat antibodi, mencegah kematian mendadak bayi di bawah umur satu tahun, terlindungi dari eksim, baik untuk pencernaan dan menyeimbangkan berat badan bayi, serta mencerdaskan bayi. Memberikan ASI juga lebih baik ketimbang memberikan susu formula karena kadar insulinnya lebih sedikit dan tidak menyebabkan diabetes tipe 2.

Namun peran yang paling penting dalam pemberian ASI Eksklusif adalah dapat mencegah stunting karena kandungan dalam ASI sudah sempurna untuk mencukupi kebutuhan bayi. Teman Setia tidak perlu memberi makanan tambahan ataupun air putih untuk mengenyangkan si bayi. Bagi ibu sendiri, memberikan ASI juga dapat menurunkan berat badan, menurunkan risiko depresi dan stres, mengurangi resiko kanker payudara, serta mempererat bonding antara ibu dan anak.

Kunci Sukses Menyusui dan Tips Menyimpan ASI

Kunci sukses untuk memberikan ASI Eksklusif adalah selalu happy dan konsisten untuk pumping atau menyusui, karena produksi ASI dipengaruhi oleh dua hormon, yaitu prolaktin dan oksitosin yang memperlancar produksi ASI. Para ibu tidak perlu takut kalau ASI kosong karena dipumping terus, ASI tidak akan habis, bahkan malah meningkatkan produksi ASI. Tapi jangan kecewa ataupun bersedih bila hasil produksi ASI kurang atau sedikit, ibu bisa mengonsumsi makanan penambah ASI hingga melakukan pijat laktasi.

Untuk menyimpan ASI hasil pumping harus diperhatikan kebersihannya seperti kantong penyimpan ASI dan freezer kulkas. dr. Listya menyarankan untuk menggunakan botol kaca, diberi label waktu, dan tidak diletakkan di pintu kulkas supaya tidak terkontaminasi bakteri. Untuk kulkas satu pintu, ASI dapat bertahan selama dua bulan penyimpanan, sedangkan untuk dua pintu ASI dapat bertahan selama tiga sampai empat bulan. Disarankan juga ketika hasil pumping pada hari ini digunakan untuk hari esok karena kualitas ASInya masih terjamin ketimbang ASI yang sudah tersimpan beberapa hari. Para Ibu yang memiliki kelebihan ASI dapat mendonorkan ASInya ke NICU atau NICU – itu pun juga skrining terhadap ibu pendonor.

Yuk Sukseskan Pemberian Asi Eksklusif! Peran Ayah juga Penting, lho

via: todaysparent.com

Meski budaya patriaki masih melekat dalam masyarakat Indonesia, bukan berarti dalam mengasuh anak 100% menjadi tanggung jawab ibu. Sudah banyak para Ayah yang turut serta mengasuh anaknya sebagai Ayah ASI. Menurut penelitian sekitar 115 ribu ribu orang suami yang tidak memberikan dukungan pemberian ASI, tingkat keberhasilan istrinya menyusui hanya sebesar 26,9% sedangkian bagi para suami yang mendukung, tingkat keberhasilannya bisa mencapai 98,1%.

Keluarga merupakan tempat untuk saling belajar satu sama lain dan bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang nyaman. Jadi para ayah jangan ragu untuk terlibat dalam mengasuh anak walau hanya dengan tindakan seperti memandikan, mengganti popok, maupun memberikan ASI pumping. Hal tersebut dapat mengurangi stres dan rasa lelah para ibu – memberi waktu luang untuk beristirahat sejenak.

Masa menyusui memang menjadi masa yang susah-susah gampang untuk dihadapi. Namun bila semua orang mendukung kebijakan ASI Eksklusif tentunya akan memberikan dampak besar bagi para ibu, terlebih Indonesia akan menghadapi bonus demografi dan mewujudkan generasi emas 2045.

About Post Author

Bagikan Dengan Sekali Klik: