Selain penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak berkuku belah, ada penyakit lain yang menggentayangi para peternak akhir-akhir ini. Lumpy Skin Disease atau disingkat dengan LSD nyatanya sudah ada dan dialami sejak tahun 1929 di Zambia, Afrika dan masuk ke Indonesia pada bulan Maret 2022. Dj Icha ditemani dengan drh. Christina Susilaningsih akan berbincang-bincang seputar penyakit LSD karena tentunya mengakibatkan kerugian besar bagi para peternak.

APA ITU LUMPY SKIN DISEASE ATAU LSD?

LSD merupakan penyakit kulit menular karena pox virus atau Lumpy Skin Disease Virus yang menyebabkan benjolan – seperti cacar – pada kulit sebesar 1-7 cm. Penyakit ini menyerang hewan ruminant seperti sapi dan kerbau, namun sapi perah lebih rentan terkena penyakit LSD.

Gejala yang terlihat adalah:

1. Demam mencapai 41 derajat Celsius,

2. Produksi susu menurun,

3. Lesi pada kulit – nodul dan papula banyak, sehingga menyebabkan kulit rusak,

4. Benjolan pada kulit dengan batas yang jelas,

5. Sesak nafas,

6. Ada leleran air di mata, hidung, dan mengeluarkan air liur,

7. Berat badan menurun

TIDAK MENULAR KE MANUSIA TAPI MERUGIKAN

Meski penyakit LSD tidak bisa menular ke manusia, tetap saja nilai jual terhadap sapi yang terjangkit merugikan para peternak. Dagingnya sudah tidak layak konsumsi karena zat gizinya berkurang, produksi susu yang berkurang, hingga kulitnya yang rusak tidak bisa digunakan.

Penyakit ini juga cepat penularannya berdampak pada angka morbiditas dan mortalitas dalam satu populasi. Penularan penyakit antara hewan terjadi melalui beberapa jalur seperti:

1. Mekanis, ditularkan oleh nyamuk, caplak, dan lalat penggigit,

2. Kontak langsung antara hewan sakit dengan hewan yang sehat melalui air liur, bersentuhan, atau pada hewan yang sedang hamil,

3. Kontak tidak langsung melalui tempat makan dan minum yang terkontaminasi oleh hewan yang sakit, jarum suntik yang digunakan berulang kali, kandang yang tidak bersih.

Selain dari cara penularan penyakit LSD, ada beberapa faktor yang menyebabkan merebaknya penyakit ini seperti kondisi lingkungan, letak demografi (kelembapan), management peternakan, dan populasi vector (umur dan jenis kelamin).

TIDAK ADA OBAT NAMUN DAPAT DICEGAH!

Sayangnya belum ada obat yang bisa menyembuhkan LSD, Teman Setia. Walau begitu penyakit ini bisa dicegah dengan melakukan vaksinasi. Bagi hewan yang sudah terinfeksi akan di terapi suportif dengan pemberian vitamin, antibiotik, dan obat yang sesuai dengan gejala yang timbul. Selain dari obat-obatan, kualitas pakan dan kebersihan kandang menjadi faktor utama dalam meningkatkan daya tahan tubuh.

Teman Setia bisa melakukan uji laboratorium seperti PCR, ELISA, IFAT, IHC, VNT, IIFAT dengan diambil benjolannya, swab hidung, air liur atau darah. Pada hewan yang mati bisa terlihat benjolan pada karkas dan jeroannya – paru-paru, mukosa mulut, dan sistem pencernaan).

Bila Teman Setia masih membutuhkan penjelasan atau informasi terkait dengan penyakit ini ataupun terkait dengan permasalahan hewan lainnya dapat menghubungi Dinas Pangan dan Pertanian Kota Salatiga di Jl. Menur 27 Salatiga atau telpon (0298) 325 572.

About Post Author

Bagikan Dengan Sekali Klik: