Penyakit diabetes merupakan penyakit yang tidak bisa disembuhkan tapi bisa di kontrol. Penyakit diabetes – yang orang awam biasa dikenal sebagai kencing manis atau sakit gula ini tidak hanya dialami oleh orang dewasa saja Teman Setia, namun anak-anak pun juga bisa mengalaminya. Bahkan Indonesia berada di peringkat ke-7 terhadap pasien diabetes selama pandemi ini, Teman Setia. Kali ini bersama dengan dr. Triyanita Susana yang merupakan dokter umum di Puskesmas Mangunsari akan membahas lebih spesifik terhadap diabetes melitus dan bagaimana cara penanggulangannya pada Dialog Interaktif kali ini.

Diabetes ini merupakan penyakit di mana kadar gula darah dalam tubuh meningkat karena ada kerusakan atau gangguan sel untuk mengangkut gula. Penyakit ini merupakan sindrom metabolik yang dapat menimbulkan penyakit komplikasi. Penyakit ini dibagi menjadi 2 tipe:

Diabetes Tipe 1

Ilustrasi penyakit diabetes tipe 1. Cr: sehatq.com

Pada tipe 1 ini, penyakit diabetes disebabkan oleh kerusakan pankreas dalam menciptakan insulin di mana biasanya penyakit ini lebih di temukan pada anak-anak. Diabetes ini difaktori oleh faktor keturunan, ibu hamil dengan kadar gula darah tinggi, atau bayi lahir dengan berat lebih dari 4 kg dan hal ini tidak bisa diubah dalam artian tidak bisa dikontrol dengan mengubah gaya menjadi sehat seperti diabetes tipe 2.

Diabetes Tipe 2

Diabetes ini disebabkan karena gaya hidup yang tidak sehat. Ketika kadar gula dalam darah begitu tinggi dan insulin tidak cukup untuk mengubah dan menyalurkannya, menjadikan insulin tidak efektif. Faktor penyebab diabetes ini karena obesitas, lingkar perut lebih dari 90 cm, jarang berolahraga dan gaya hidup tidak sehat lainnya. Tidak hanya orang tua dan lansia saja yang mengalaminya, anak-anak pun bisa menderita diabetes tipe 2 ini.

Gejala-gejala klasik seperti sering merasa lapar (polyphagia), sering merasa haus (polydipsia), sering buang air kecil terlebih pada alam hari (polyuria) menjadi prediksi awal sebelum di tes lebih lanjut. Selain itu ada gejala seperti luka yang tidak kunjung sembuh, merasa lemas dan sering mengantuk, suka kesemutan, gatal yang tidak kunjung hilang meski sudah di terapi, hingga berat badan yang turun drastis.

Teman Setia bisa melakukan tes pemeriksaan seperti tes gula darah sewaktu (GDS) yang dilakukan sewaktu-waktu dan bila kadar gula lebih dari 200 mg/dL pasien dinyatakan, tes gula darah puasa (GDP) dilakukan setelah melakukan puasa selama 8-10 jam, bila kadar gula berada di antara 100-123 mg/dL, atau melakukan tes gula darah 2 jam post prandial (GD2PP). Lalu apakah tes yang ada di apotek bisa digunakan? Tentunya bisa namun hanya digunakan sebagai screening kemudian pergi ke dokter untuk tes lebih lanjut.

Bagi Teman Setia yang ketinggalan dengan Dialog Interaktif kali ini, Teman Setia bisa menonton ulang PODCASS via Facebook di sini.

Bagikan Dengan Sekali Klik: