Siapa yang tidak merasa khawatir ketika kita menjadi saksi atas kejadian yang tidak mengenakkan terlebih kejadian tersebut menjadi kasus yang diurus oleh polisi dan pengadilan. Ancaman yang membayang-bayangi ketika ada oknum-oknum tertentu yang ingin menindas, keengganan, ataupun kesibukan ketika mendapat panggilan untuk menjadi saksi. Dilema ini tentunya dapat menghambat penyelidikan hingga menunda proses pengadilan. Padahal Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyelidikan, penuntutan, dan peradilan tentang suatu perkara yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri (menurut Pasal 1 butir 26 KUHAP, diperluas dalam pasal 1 butir 1 UU No. 31 Tahun 2014, Putusan MK No. 65/PUU-VIII/2010).

Untuk Teman Setia yang merasa ragu dalam memberikan kesaksian, kali ini Kejaksaan Kota Salatiga memberikan jawaban dan penjelasan atas permasalahan yang sering dialami sebagai saksi. Bersama dengan Bapak Grahita Fidianto selaku Kasi Pengelola Barang Bukti dan Barang Rampasan akan menemani Teman Setia dalam bincang-bincang Dialog Interaktif kali ini

Pentingnya saksi dalam proses penyelidikan hingga persidangan sudah diatur dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP, Pasal 185 Ayat (2) KUHAP, Pasal 189 Ayat (4) KUHAP , Pasal 191 Ayat (1) KUHAP dikarenakan bila terdakwa dibebaskan karena saksi tidak bersedia untuk memberi keterangan dapat menciderai nilai keadilan dan merugikan pihak-pihak yang bersangkutan dalam menjunjung keadilan Teman Setia.

ilustrasi ketok palu. Cr: jambiupdate.co

Kriteria menjadi saksi, kewajiban memenuhi panggilan, dan hak sebagai saksi

Setiap orang bisa menjadi seorang saksi, Teman Setia dan harus memenuhi panggilan, karena saksi adalah kunci utama, alat bukti terkuat. Nah kriteria seperti apa seseorang menjadi saksi dan apa sanksi yang kita dapatkan bila kita tidak mau memberikan kesaksian dalam hukum pidana?

Kriteria sebagai saksi:

  • Berumur 15 tahun keatas (Teman Setia dapat membaca lebih lanjut di sini);
  • Sehat akalnya;
  • Tidak ada hubungan keluarga sedarah dan semenda dari salah satu pihak menurut keturunan yang urus kecuali undang-undang menentukan lain;
  • Tidak dalam hubungan perkawinan dengan salah satu pihak meskipun sudah bercerai;
  • Tidak ada hubungan kerja dengan salah satu pihak dengan menerima upah kecuali undang-undang menentukan lain;
  • Sekurang-kurangnya 2 orang untuk kesaksian suatu peristiwa atau dikuatkan dengan bukti-bukti lain;
  • Dll.

Lalu bagaimana kalau kita sengaja tidak memenuhi panggilan sebagai saksi? Hal ini sudah di atur dalam Pasal 224 KUHP dan Pasal 522 KUHP dimana kita bisa dijatuhi hukuman, Teman Setia. Tapi bagi Teman Setia yang memang berhalangan atau mengalami kesulitan dalam memberi kesaksian, Teman Setia akan dibantu dalam persiapan diri.Tentunya selain itu, saksi juga mendapat hak seperti: mendapatkan surat panggilan sah (Pasal 112 KUHAP dan Pasal 146 (2) KUHAP), memberi keterangan tekanan dalam apapun (Pasal 117 Ayat 1 KUHAP), berhak menandatangani Berita Acara Pemeriksaan dengan alasan yang jelas (Pasal 118 Ayat 2 KUHAP), terbebas dari pertanyaan yang menjerat ketika pemeriksaan (Pasal 166 KUHAP), mendapat bantuan juru bahasa bila tidak paham Bahasa Indonesia (Pasal 177 Ayat 1 KUHAP), dan mendapat bantuan penerjemah untuk saksi tuna wicara atau tuna rungu (Pasal 178 Ayat 1 KUHAP).

Tapi bagaimana kalau saksi memberi keterangan palsu? Hal ini diatur dalam Pasal 242 KUHP dan Pasal 22 UU TIPIKOR – “Setiap oang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28, Pasal 29, Pasal 35, atau Pasal 36 yang dengan sengaja tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun atau denda paling sedikit Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah)” dimana saksi bisa menjadi tersangka karena tidak jujur sebagai saksi.

Walau menjadi saksi memang penuh dengan dilema, namun baik dari kepolisian hingga pengadilan siap untuk membantu demi tercapainya keadilan yang diinginkan. Bila Teman Setia masih penasaran dengan penjelasan lengkap dari Bapak Grahita Fidianto, Teman Setia bisa menonton ulang PODCASS via Facebook di sini.

Bagikan Dengan Sekali Klik: