Hari Perawat Internasional menjadi momen penting untuk mengingat kembali besarnya peran tenaga kesehatan, khususnya perawat, dalam menjaga keselamatan dan kualitas hidup masyarakat. Di balik pelayanan kesehatan yang diterima pasien di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lainnya, ada dedikasi panjang para perawat yang bekerja tanpa mengenal waktu. Tidak hanya membantu proses pengobatan, perawat juga hadir sebagai pendamping, pemberi semangat, hingga penghubung antara pasien dengan tenaga medis lainnya. Karena itulah, profesi ini sering disebut sebagai salah satu garda terdepan dalam pelayanan kesehatan.

NGOBRAS kali ini, DJ Gita Nugraha ditemani oleh Wiji Tri Lestari, S.Kep., Ns., dari RSUD dr. Soebarkat Tjitrodarmodjo Kota Salatiga yang membahas mengenai tema “Perawat Kita, Masa Depan Kita, Perawat yang Berdaya Menyelamatkan Nyawa” untuk memperingati Hari Perawat Internasional. Tema ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perawat tidak hanya perlu dihargai, tetapi juga didukung agar dapat terus memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

Sejarah Perjalanan Panjang Profesi Perawat

Foto Florence Nightingale (London Stereoscopic Company/Getty Image, via: history.com)

Profesi perawat ternyata memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan sosok Florence Nightingale. Florence merupakan anak bangsawan Inggris yang lahir di Italia dan dikenal memiliki jiwa kemanusiaan tinggi. Sejak muda, dirinya merasa terpanggil untuk melakukan pelayanan bagi sesama, meski pada masa itu profesi perawat dianggap rendah dan identik dengan lingkungan rumah sakit yang kotor serta minim sanitasi.

Di tengah tuntutan keluarga agar tetap menjadi wanita bangsawan, Florence justru tertarik mempelajari kondisi kesehatan dan kemiskinan masyarakat. Keinginannya menjadi perawat sempat ditolak oleh keluarga hingga memicu banyak perdebatan. Namun, perjalanan ke Eropa dan Mesir menjadi titik balik bagi dirinya setelah melihat para biarawati di Jerman dan Prancis merawat pasien secara disiplin, bersih, dan terorganisir. Pengalaman tersebut membuat Florence semakin yakin bahwa keperawatan dapat dijalankan secara profesional.

Tekad Florence akhirnya mendapat dukungan dari sang ayah sehingga dirinya menempuh pelatihan keperawatan di Kaiserswerth, Jerman, dan melanjutkan pendidikannya di Paris, Prancis. Namanya semakin dikenal ketika Perang Krimea pecah. Saat itu, Florence bersama 38 sukarelawan perempuan dikirim untuk merawat para tentara Inggris yang banyak meninggal akibat buruknya sanitasi dan minimnya perawatan kesehatan di barak militer. Dari sinilah Florence Nightingale kemudian dikenal sebagai pelopor keperawatan modern di dunia.

Namun, peran Florence tidak berhenti sampai di situ saja, Teman Setia. Setelah Perang Krimea berakhir, ia mendirikan Nightingale Training School di Rumah Sakit St Thomas, London yang menjadi institusi keperawatan pertama yang sepenuhnya sekuler atau tidak berbasis keagamaan. Langkah ini perlahan mengubah pandangan masyarakat yang sebelumnya menganggap perawat sebagai pekerjaan kasar menjadi profesi medis yang dihormati dan berbasis ilmu pengetahuan.

Selain itu, Florence juga menulis berbagai jurnal dan catatan kesehatan. Bahkan, bukunya yang berjudul Notes on Nursing: What It Is, and What It Is Not menjadi salah satu dasar pendidikan keperawatan di berbagai negara selama bertahun-tahun. Atas kontribusinya tersebut, pada tahun 1858 Florence Nightingale diangkat menjadi wanita pertama yang bergabung dengan Royal Statistical Society.

Peran Florence inilah yang pada akhirnya membawa perubahan besar dalam dunia kesehatan dan keperawatan modern. Dedikasi, pemikiran, serta perjuangannya dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan membuat namanya terus dikenang hingga saat ini. Karena kontribusinya yang begitu besar bagi dunia keperawatan, tanggal kelahiran Florence Nightingale, yakni 12 Mei, kemudian diperingati sebagai Hari Perawat Internasional setiap tahunnya. Peringatan ini menjadi bentuk penghormatan terhadap jasa para perawat di seluruh dunia yang terus berjuang memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

Wah, perjalanan panjang Florence tentunya menjadi pengingat bahwa profesi perawat tidak lahir dengan mudah seperti yang terlihat sekarang, Teman Setia. Dahulu, perawat dipandang sebagai pekerjaan rendahan dengan lingkungan kerja yang kotor dan penuh risiko. Bahkan, perempuan pada masa itu juga tidak memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, termasuk memilih menjadi seorang perawat. Namun, berkat keberanian dan perjuangan Florence Nightingale, pandangan tersebut perlahan berubah. Profesi perawat mulai diakui sebagai pekerjaan mulia yang membutuhkan ilmu pengetahuan, keterampilan, serta ketulusan dalam merawat sesama.

Perawat Tidak Sekadar Membantu Dokter

Ilustrasi para perawat (Rusty Watson/unsplash)

Dalam pelayanan kesehatan, perawat memiliki peran yang sangat luas. Tidak hanya membantu tindakan medis, tetapi juga menjadi edukator, advokat pasien, hingga koordinator pelayanan kesehatan.

Wiji Tri Lestari menjelaskan bahwa tugas perawat dimulai sejak pasien datang ke fasilitas kesehatan. Perawat melakukan pengkajian kondisi pasien, memeriksa tekanan darah, menggali keluhan, hingga memahami kondisi psikologis pasien. Dari proses tersebut, perawat membantu menentukan kebutuhan perawatan yang tepat. Selain itu, perawat juga memiliki peran sebagai advokat pasien. Dalam kondisi tertentu, pasien bisa merasa takut, sedih, bahkan menolak pengobatan. Di sinilah perawat hadir untuk memberikan rasa aman, menjelaskan risiko dan manfaat tindakan medis, sekaligus menghormati keputusan pasien.

Selain itu, perawat juga memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan edukasi kesehatan kepada pasien dan keluarga. Informasi mengenai pola hidup sehat, penggunaan obat, hingga proses pemulihan sering kali dijelaskan langsung oleh perawat. Namun, dalam menjalankan tugasnya, perawat juga tetap harus menjaga kerahasiaan data pasien sebagai bagian dari etika profesi.

Menariknya lagi, profesi perawat juga dituntut mampu bekerja sama dengan banyak pihak. Dalam memberikan pelayanan kesehatan, perawat akan berkolaborasi dengan dokter, ahli gizi, analis kesehatan, fisioterapis, hingga manajemen rumah sakit agar pasien mendapatkan penanganan yang maksimal. Bahkan, beberapa perawat juga terlibat dalam penelitian kesehatan untuk membantu mengembangkan pelayanan medis yang lebih baik di masa depan.

Tantangan Menjadi Perawat di Balik Tuntutan Pelayanan

Hal tersebut penting karena profesi perawat memiliki tantangan yang tidak ringan. Sistem kerja bergilir atau shift, jam kerja panjang, hingga tuntutan untuk selalu sigap dalam kondisi darurat sering kali membuat perawat mengalami kelelahan fisik maupun mental. Terlebih saat menjalani shift malam, perawat dituntut tetap fokus dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

Menurut Wiji Tri Lestari, profesi perawat merupakan pekerjaan yang membutuhkan ketulusan besar. Selain harus memberikan pelayanan terbaik kepada pasien, perawat juga sering kali harus mengorbankan waktu bersama keluarga karena jadwal kerja yang padat dan tidak menentu.

Pentingnya Dukungan untuk Perawat

Tema Hari Perawat Internasional tahun ini adalah Our Nurses. Our Future. Empowered Nurses Save Lives atau “Perawat Kita, Masa Depan Kita. Perawat yang Berdaya Menyelamatkan Nyawa”. Tema ini menekankan bahwa perawat perlu didukung dan diberdayakan agar mampu memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. Dukungan tersebut tidak hanya berupa penghargaan secara moral, tetapi juga perlindungan dan lingkungan kerja yang sehat, perhatian terhadap kesejahteraan tenaga kesehatan, hingga apresiasi atas dedikasi mereka dalam merawat pasien.

Karena itu, masyarakat diharapkan tidak hanya melihat perawat sebagai tenaga medis, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki rasa lelah, tekanan mental, dan kebutuhan untuk didukung. Dengan lingkungan yang suportif, perawat pun dapat memberikan pelayanan kesehatan yang lebih optimal kepada pasien.

Melalui peringatan Hari Perawat Internasional ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa perawat bukan hanya profesi di balik seragam putih, tetapi juga sosok yang setiap hari hadir untuk merawat, mendampingi, dan membantu menyelamatkan nyawa. Dukungan serta apresiasi bagi perawat pun menjadi hal penting agar mereka dapat terus memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat.

Please follow and like us:
Pin Share

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *