Didi Kempot wafat di usia 53 tahun meninggalkan warisan 700 lebih judul lagu dan kenangan manis dalam lika-liku perjalanan karier yang panjang.

Dari tepi jalan
hingga istana, rasanya hati semua orang seketika ambyar mendengar berita duka dari
maestro campursari Dionisius Prasetyo atau yang lebih dikenal banyak orang
dengan nama Didi Kempot. Seniman kelahiran Surakarta, 31 Desember 1966 tersebut
pagi ini dikabarkan mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Kasih Ibu di
Solo, Jawa Tengah dengan penyebab dan rencana pemakaman yang masih belum
diketahui.

Didi Kempot menerima penghargaan Lifetime Achievement Award di Billboard Indonesia Music Awards 2020. Foto oleh Pio Kharisma.

Beliau wafat di usia 53 tahun meninggalkan warisan 700 lebih judul lagu bergenre campursari, keroncong, pop yang sukses menjadi soundtrack lika-liku kehidupan banyak orang tanpa dibatasi status sosial, status ekonomi, umur, dan jarak geografis. Sebagai penyanyi senior, beliau memperlakukan penggemar selayaknya sahabat dan mendapat gelar “The Godfather of Broken Heart” alias Bapak Patah Hati Nasional yang disematkan para Sad Boys dan Sad Girls berkat kepiawaian beliau memainkan emosi pendengar melalui lantunan lagunya.

Semasa hidupnya, peraih Lifetime Achievement Award dari Billboard Indonesia Music Awards ini pun dikenal sebagai sosok yang aktif dalam gerakan kemanusiaan termasuk inisiatifnya menggelar konser amal dari rumah dengan tagar #SobatAmbyarPeduli  belum lama ini yang sukses mengumpulkan donasi lebih dari Rp3 Miliar untuk mereka yang terkena dampak COVID-19.

Hari ini adalah Hari Patah Hati Nasional bagi seluruh insan seni dan musik Indonesia serta jutaan hati yang pernah tersentuh oleh karya beliau. Namun, nama dan karyanya akan abadi dalam sejarah musik Indonesia. Berikut ini adalah catatan manis perjalanan Didi Kempot yang pernah ditulis oleh pengamat musik Aldo Sianturi di puncak kejayaan almarhum:

Didi Kempot mendadak trending dibicarakan warganet di jagat media sosial. Didi bukan orang baru tapi dianggap seperti orang baru. Apa penyebabnya? Oleh: Aldo Sianturi.

Di ranah dunia rekaman musik modern,
selebrasi rentang perjalanan musisi sering diperingati dengan merilis album
baru, single baru dan memproduksi konser
megah dengan bujet raksasa yang dipromosikan maksimal bersama sederet merek terkenal
yang sedang gencar membakar uang. Bahkan untuk melengkapi konsep spektakuler, kolaborasi
lintas musisi sering diracik sebagai gimmick untuk menebalkan greget atas
sederet tembang hits yang dipresentasikan
ulang di atas panggung konser.

Semua skema eksposur di atas bukan sesuatu
yang umum di awal pemunculan Didi Kempot kurang lebih tiga dekade silam. Didi hadir
di industri musik pada zaman keemasan penjualan kaset pita. Sejak resmi merilis
lagu perdana berjudul “We Cen Yu (Kowe Pancen Ayu)” di tahun 1989 yang
diedarkan oleh perusahaan rekaman Musica Studio’s, namanya mulai menjadi buah bibir.
Pendengar awalnya rata-rata adalah lapisan masyarakat dengan latar belakang etnis
Jawa dan diaspora etnis Jawa di Suriname.

Didi Kempot saat tampil di Billboard Indonesia Music Awards. Foto oleh Pio Kharisma.

Musisi senior ini lahir tanggal 31
Desember 1966 dengan nama Edi Supriyadi dari keluarga seniman di Surakarta.
Ayahnya, Ranto Edi Gudel, seorang pelawak yang berpentas di Taman Sriwedari,
Surakarta. Sedangkan ibunya, Umiyati adalah penyanyi keroncong. Sementara kakaknya,
Mamiek Prakoso (Alm) tercatat sebagai satu anggota grup lawak legendaris
Indonesia, Srimulat. Mengenal silsilah keluarganya, membuat kita secara spontan
mengamini kekuatan atmosfer seni yang telah lestari di pilar persaudaraan Didi
Kempot.

Kiprah awal Didi di masa muda adalah sebagai
pengamen jalanan di Solo (Jawa Tengah) bersama teman-teman seperjuangan dengan sebutan
unik Kelompok Penyanyi Trotoar (Kempot). Nama tersebut akhirnya melekat menjadi
nama panggung Didi Kempot seiring dengan pengembaraan panjang berpindah kota. Meski
sempat pontang-panting hidup berkesenian, namun Didi pantang menyerah dan tetap
konsisten mencipta banyak lagu sambil mengasah kemampuan bermusiknya. Semua saksi
mata perjalanan kariernya sepakat mengakui kalau semangatnya untuk maju tidak pernah
luntur. Hasilnya setiap malam kita akan selalu punya waktu berkesenian bersama
Didi Kempot!

Didi Kempot saat gladi resik Billboard Indonesia Music Awards 2020. Foto oleh Pio Kharisma.

WONG BEJO

Ketika dipinang oleh perusahaan rekaman nomor
satu di Indonesia, Didi Kempot tergolong sebagai orang mujur dan beruntung (wong bejo). Kesempatan untuk bergabung dengan
label besar adalah sangat sulit. Apapun ceritanya, momen ini adalah milestone
yang penting bagi perjalanan musiknya sampai sekarang. Alasan menggaet Didi
Kempot tentunya sudah tuntas melalui penilaian panjang mulai dari sosok,
karakter, gaya bertutur, musikalisasi dan buah karyanya.

Menariknya adalah di masa yang sama, Musica’s
Studio juga sudah memiliki penyanyi campursari bernama Manthous yang tersohor
yang lahir di Playen, Gunung Kidul, Jogjakarta. Manthous dikenal atas kreativitasnya
mempopulerkan aliran musik campursari yang sebelumnya diperkenalkan pertama
kali oleh para seniman RRI Semarang yang dipelopori oleh R.M Samsi yang
tergabung dalam kelompok Campursari RRI Semarang pada tahun 1953-an.

Didi tidak sedang diadu, karena sejatinya tidak
pernah ada kompetisi dalam bermusik. Label legendaries itu telah memperhitungkan
dengan seksama ceruk pasar musik campursari dan mengaplikasikan strategi bisnis
untuk menguasai arena musik yang saat itu belum terlalu diperhatikan banyak pesaing
lain. Didi Kempot adalah salah satu pendobraknya. Atas nama kejelian, kanibalisme
terhadap karya Manthous tidak pernah terjadi atas musik Didi Kempot.

Bersandingnya kedua nama penting dalam lintasan musik campursari justru menjadi opsi dinamis bagi penyuka musik. Analogi saya seperti melihat Bruce Lee dan Jackie Chan, saling berbeda karakter tapi punya pesona yang melegenda. Manthous musiknya sarat dengan langgam Jawa dengan melodi pentatonik dan Didi Kempot sanggup menawan hati dengan Congdut (Keroncong Dangdut), sebuah kreasi baru yang didominasi melodi diatonik. Kelop!

Di bawah naungan Musica’s Studio, Didi
Kempot tentunya menjadi rilisan prioritas. Peredaran kaset yang diperhatikan saksama
tentunya menguntungkan profilnya dikenal sampai ke kota-kota kecil melalui agen-agen
besar yang memegang peranan penting dalam gurita distribusi album. Belum lagi hubungan
batin yang dimiliki dengan TVRI (Televisi Republik Indonesia) dan RRI (Radio
Republik Indonesia) menjadi penentu absolut atas ketenaran seorang seniman di
blantika musik Indonesia. Bayangkan, musik semanis apapun tanpa amunisi akan berbeda
kisahnya di zaman dulu.

KONSEPTOR MUSIK JENIUS

Didi Kempot adalah seorang konseptor musik jenius. Dalam mengkonsep karya, Didi selalu berusaha tidak sama dengan banyak seniman. Sikap ini yang membuat buah karyanya selalu autentik, menarik, dan tidak mudah diduplikasi. Tema lagu yang dipakai juga selalu mengisahkan kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan sebagian besar lagu yang diciptakannya selalu menggunakan ungkapan bermakna konotatif dan mengangkat tema percintaan yang tidak berjalan mulus, tercerai-berai, hancur alias ambyar.

Sobat Ambyar. Foto oleh Kobar Nendrodewo (@kobarnendrodewo).

Kedalaman dan kepahitan cinta meruang bebas
di setiap sekat lagu-lagunya yang berjudul “Cidro”, “Kalung Emas”, “Sewu Kuto”, “Banyu Langit”, “Tanjung Mas
Ninggal Janji”, “Layang Kangen”, “Solo Balapan”, “Dudu Jodone”, “Terminal
Tirtonadi”, dan lainnya. Bagi penyuka musiknya, Didi Kempot bak seorang malaikat
penyelamat yang hadir tepat waktu di saat seseorang terkulai lunglai atas
tragedi cinta yang pelik dan traumatik. Syairnya membius sakral setiap insan agar
dapat berdamai dengan rasa sesak yang menguasai keruhnya emosi jiwa yang sedang
tidak karuan. Tidak heran kalau sobat ambyar mengelu-elukan namanya dengan Lord
Didi!

Didi paham betul target pasarnya siapa,
itulah kenapa bahasa Jawa ngoko
(bahasa sehari-hari) sengaja dipilih untuk menguntai fragmen-fragmen yang ada
di benak menjadi lagu. Meski sadar kalau banyak orang yang tidak mengerti arti syairnya,
namun Didi mempercayakan penuh kekuatan bahasa musik yang universal. Semua itupun
terbukti. Racikan keroncong-dangdut (congdut) yang digagas luwes sangat ampuh menghanyutkan
perasaan ambyar dengan musik bertempo cepat. Di ranah musik pop, Didi Kempot sanggup
mengganti penyanyi Rachmat Kartolo (Alm) yang sebelumnya dikenal sebagai Bapak
Patah Hati Nasional.

Sebagai musisi senior, karya cipta Didi
Kempot berbanding lurus dengan masa aktifnya yang telah melampaui 30 tahun di
dunia musik. Didi Kempot telah menciptakan lagu sebanyak hampir 700 judul lagu.
Talenta yang luar biasa tentunya bagi seorang komposer yang super produktif. Sebagai
musisi yang sangat sibuk berkarya, Didi Kempot tidak begitu ambil pusing dengan
akumulasi royalti dari beragam partner yang selama ini mengeksploitasi karya ciptanya
baik secara resmi maupun sebaliknya. Isu klasik yang jawabannya hanya dimiliki
oleh musisi semata.

Didi Kempot berkolaborasi dengan Isyana Sarasvati di panggung Billboard Indonesia Music Awards 2020. Foto oleh Pio Kharisma.

ORANG LAMA RASA BARU

Didi Kempot mendadak trending sejak dibicarakan oleh warganet di jagat media sosial pada pertengahan tahun 2019. Semua orang bersuka cita membahas lagunya, kiprahnya, dan sosoknya yang tegap dengan rambut panjang bergelombang. Didi bukan orang baru tapi dianggap seperti orang baru. Apa penyebabnya? Jawabannya adalah internet. Di mana puncaknya adalah dampak viralnya ekspresi sobat ambyar dari video dokumenter milik pemengaruh beken bernama Gofar Hilman yang menyambangi konser Didi Kempot di Jogjakarta.

Beberapa faktor lain yang melatari apresiasi
tersebut adalah rasa penasaran anak muda yang sejak kecil telah akrab dengan seleksi
musik Didi Kempot yang konon diputar sepanjang hari oleh orangtuanya dan
komposisi musik keroncong dangdut dicampur racikan pop yang sama sekali tidak memiliki
halangan untuk dinikmati meski dipersembahkan dalam bahasa Jawa. Penggemar Didi
Kempot dikenal sangat loyal, mereka rela datang jauh-jauh untuk merayakan kegembiraan
dan kesedihan yang bercampur menjadi satu kenikmatan.

Hal penting yang juga tidak boleh dilupakan adalah dampak kolaborasi Lord Didi bersama Endank Soekamti di album ke-6 mereka yang berjudul Kolaborasoe melalui lagu “Parang Tritis”. Band beraliran pop-punk asal Jogjakarta ini memiliki penggemar tulus bernama “Kamtis”. Populasi penggemarnya besar sekali dan efeknya membuat profil Didi Kempot menancap di keseharian kaum milenial dan zilenial. Atas penggunaan banyak orang terhadap lagunya, mungkin saja suatu saat lagunya akan masuk ke Billboard Indonesia Top 100.

Fenomena demam ambyar pecah dan gelombang euforia domestik tidak terbendung lagi sejak hiruk-pikuk pasca Pemilu 2019. Berbagai stasiun televisi yang turut membesarkan nama Didi Kempot selama ini berlomba memberikan slot “prime time” dan secara spesifik menempatkan profilnya menjadi konten utama di setiap malam. Tidak berhenti di situ saja, setiap konser yang menghadirkan Didi Kempot selalu saja ludes tiketnya. Salam Ambyar!

Didi Kempot pamit undur diri meninggalkan Billboard Indonesia Music Awards 2020. Foto oleh Pio Kharisma.

The post Obituari: Besok Malam Bersama Didi Kempot! appeared first on Billboard Indonesia.

Bagikan Dengan Sekali Klik: