Didi Kempot sadar betul segebyar apa pun lampu sorot dunia showbiz, tetap saja berbatas pada falsafah
bahwa, pinjam judul lagunya, kehidupan dunia ini sekadar Mampir
Ngombe
.

Oleh: Anas Syahrul Alimi, penulis dan promotor musik.

Menyesakkan
dada saat menemui kenyataan bahwa Didi “Kempot” Prasetya mulih swarga di
tahun ke-53 usianya. Persis dengan batas usia kakaknya yang merupakan seniman
lawak kondang Srimulat, Mamiek Prakosa.

Kepergian
musisi paling tabah menggendong hatinya yang basah ke mana-mana itu seperti
memutar waktu saat publik 25 tahun silam menangis pilu dengan kepergian Benyamin
Sueb. Keduanya memiliki kesamaan. Berangkat dari pinggiran dalam pengertian
sebagai nasib maupun jenis musik yang diusung.

Jika Ben
mengusung lirik dengan lidah Betawi yang terdesak di daerah-daerah kumuh
bantaran kali, Didi Kempot “memperjuangkan” nyanyian berlirik Jawa yang
kemudian dikenal dengan istilah “campursari”. Ketika genre ini bertemu dengan
dangdut menghasilkan miks yang luar biasa panas dan membakar “moralitas” panggung musik di babak awal milenium ketiga ini dengan ikonnya Inul Daratista.

Didi Kempot
tidak terlibat dalam tungku panas itu. Ia tetap menekuni campursari. Ia tahu
diri bahwa panggung sejatinya adalah terminal, stasiun kecil, pelabuhan
penyeberangan, radio kelas dua, pos jaga, maupun pesta perkawinan. Pendengarnya melintas jauh, baik penutur bahasa Jawa di Indonesia
maupun luar negeri (Suriname).

Suaranya
yang khas itu menemani manusia-manusia yang tersisih itu dengan lirik yang
membikin hati ambyar. Nelangsa. Namun, tetap memberikan secercah senyum. Ia pencari yang tekun tentang hidup di mana si jelata bertaruh
hidup dengan bergerak dari satu terminal ke terminal lain, dari stasiun satu ke
stasiun lainnya, dari satu kota ke kota lainnya. Sewu
Kutho
.

Sewu kutho uwis
tak liwati

Sewu ati tak
takoni

Nanging kabeh

Podho
rangerteni

Lungamu neng
endi

Pirang taun
anggonku nggoleki

Seprene durung
biso nemoni

Didi tahu,
ia seniman. Darah di tubuhnya adalah darah seni. Ibu, bapak, kakak. Semuanya
seniman. Seni tradisi. Ketoprak. Sinden. Jalan yang ditempuhnya adalah total di
jalanan. Menjadi seorang pengamen dengan, nah ini dia, membawakan lagunya bikinannya sendiri.

Sampai di
sini, Didi Kempot memilih jalan penciptaan yang autentik sambil terus berjalan. Saat kakaknya, Mamiek mengalami pasang naik pamor
dengan Srimulat, Didi mempertahankan apa yang menjadi caranya: tetap di jalan
dan berjalan dari terminal ke terminal, dari stasiun ke stasiun, dari kota ke
kota.

Didi adalah
trubadur yang menyerahkan dirinya bersatu dengan jalanan kota yang mengingatkan
kita dengan sosok Leo Kristi. Jika Leo berjalan di lapangan folk, Didi
campursari. Semangat dan
pengalaman keduanya memberi garis tebal pada sejarah besar musik Indonesia
kontemporer.

Didi menjadi
seniman musik sejati karena hidup matinya berada di jalan ini. Penyerahan jiwa
di jalan campursari itu dilakoninya dengan cara-cara seniman bekerja:
penciptaan. Ia menulis lagu dan mengaransemen sendiri lagunya. Juga,
menyanyikannya. Di lapangan campursari, karya-karyanya digemari dan namanya dikibarkan tinggi-tinggi.

Bersama-sama
dengan Manthous yang juga sudah berpulang, campursari naik pamor. Lagu-lagunya
dibawakan oleh sesama pengamen, di-cover ulang di berbagai panggung
musik dangdut. Total jenderal lagu yang sudah diciptakan Didi di atas 700. Yang
terlacak dalam catatan adalah sudah ada 23 album campursari yang
dikeluarkannya.

Artinya,
sang trubadur ini adalah seorang showman. Ia mengenali betul di mana
kemampuannya, di panggung mana namanya membesar, dan pendengar seperti apa yang
menikmati lagunya hingga ke kedalaman jiwa. Dari kota ke kota ia lantunkan
bagaimana cinta yang patah, rindu yang tak berbalas, dan hati yang terus
terluka.

Ia merawat
pendengarnya. Tak bergeming ia dari campursari walau panggung showbiz disesaki pop, jazz, rock,
dangdut. Sebagai trubadur, tugasnya adalah memikul misi campursari dengan lirik
bahasa Jawa yang tukmaninah bikin
meringis hati.

Generasi
yang menguasai showbiz terus
berganti. Pendengar pun juga berganti. Tiba-tiba saja, lagu-lagu dengan lirik
berbahasa Jawa menemukan kembali panggung besarnya. Penyanyi-penyanyi berusia
muda mendapatkan jamaah besarnya. Yang di pinggir bergeser ke pusat.

Masih ingat
Via Vallen yang menjadi primadona Pantura melejit menjadi pusat perhatian di
panggung besar Ibu Kota?

Atau, Soimah
Pancawati, seorang sinden
dari kota kabupaten yang dijuluki “lantai dua Yogya”, bisa berkolaborasi dengan Dewa Budjana di
album Mahandini sebagai
vokalis. Album gitaris GIGI itu digarap secara kolektif oleh musisi dunia, yakni Jordan Rudess (keyboard
Dream Theater), Marco Minnemann (drum), Mike Stem (gitar), dan Mohini Dey
(bas).

Ketika lampu
gebyar mengelukan yang muda tampil di panggung utama dengan keberterimaan oleh genre
musik lain, panggung showbiz tidak
melupakan sosok pemanggul campursari dengan mempertaruhkan semua yang
dipunyainya.

Dan, 196
hari sebelum Didi Kempot mengakhiri perjalanan musiknya, panggung besar
dipersembahkan untuknya lewat konser bertajuk “Konangan Concert”. Panggungnya
pun didirikan di Ibu Kota. Tepatnya di Livespace, Senayan, Jakarta Pusat.
Secara resmi, di konser konangan ini pula penggemarnya yang selama ini kian
muda usianya dengan mengibarkan bendera penggemar Sobat Ambyar—yang cowok sad
boy
, yang cewek sad girl—menggelarinya The Godfather of Broken
Heart
.

Ini anugerah
publik yang luar biasa tulus untuk sang trubadur. Mestinya, Gelora Bung Karno
Senayan Jakarta pada 10 Juli 2020 menjadi saksi kebesaran Sang Trubadur, Sang
Godfather Patah Hati. Namun, batas
usia menungso siapa yang menebak, selain dunia digempur dan dihajar habis-habisan oleh
makhluk tak kasat mata bernama Covid-19.

Didi pun mengibarkan bendera putih kepada dunia showbiz yang ia sadari betul segebyar apa pun lampu sorotnya, tetap
saja berbatas pada falsafah yang ia yakini betul kebenarannya. Bahwa, pinjam
judul lagunya, kehidupan dunia ini sekadar Mampir Ngombe:

Ning ndunyo
sepiro lawase

Bebasan mung
mampir ngombe

Yen bondo dunyo
sing kok karepke

Ning akherat
ora ono gunane
.***

The post Berangkatlah Sang Trubadur Seribu Kota appeared first on Billboard Indonesia.

Bagikan Dengan Sekali Klik: